Melindungi Generasi dari Bahaya Liberalisasi Pergaulan Bebas

Pemerhati masalah Umat, Siti Nur Ainun Ajijah (Ist)

Oleh: Siti Nur Ainun Ajijah

Menyoroti pernyataan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menyebut Indonesia berada pada situasi darurat kekerasan seksual di perguruan tinggi atau kampus.

Selain mengalami pandemi Covid-19 tetapi juga pandemi kekerasan seksual. Data dari Komnas Perempuan menyebutkan kekerasan seksual terjadi di semua jenjang pendidikan. Sebanyak 27 persen dari aduan yang diterima terjadi di ajang pendidikan tinggi.

Survei yang dilakukan Kemendikbudristek juga menyatakan, sebanyak 77 persen dosen menyatakan kekerasan seksual pernah terjadi di kampus. Sebanyak 63 persen dari mereka tidak melaporkan kasus yang diketahuinya pada pihak kampus. Untuk itu perlu adanya aturan yang spesifik dan khusus dalam melindungi warga kampus karena ada beberapa keterbatasan dalam penanganan kasus kekerasan seksual.

Inilah yang melatarbelakangi dibuatnya Permendikbudristek Nomor 30/2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi. Namun, dalam pembentukannya ada beberapa sorotan bahkan ada yang dianggap dapat melegalkan seks bebas atau perzinahan. (chatnews.id)

Terkait hal ini Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas bertemu dengan Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim. Dalam kesempatan itu, Yaqut mendukung langkah Nadiem menerbitkan Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS). Ia juga akan segera mengeluarkan Surat Edaran (SE) untuk mendukung pemberlakuan Permendikbud tersebut di PTKN (Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri). Kekerasan seksual menjadi salah satu penghalang tercapainya tujuan pendidikan nasional. Menag Dukung Permendikbud PPKS, Langsung Buat Edaran (detik.com)

Perlu untuk dicermati kembali karena pro kontra terjadi dikalangan masyarakat sebab sejumlah pasal dalam peraturan tersebut dinilai banyak kalangan, terutama para tokoh dan ormas-ormas Islam, seperti MUI pusat, justru malah terkesan melegalkan seks bebas. Sebabnya frasa tersebut dapat dipahami bila kedua belah pihak melakukan hubungan seksual karena consent, persetujuan, maka dipandang legal.

Bukankah yang demikian sama artinya dengan melegalisasi perzinahan.

Permendikbud ini jelas berbahaya karena bisa berpotensi melegalkan sek bebas bahkan penyimpangan seksual. Permendikbud juga berpotensi memberikan perlindungan pada penyimpangan perilaku seksual seperti LGBT. Seperti salah satunya yang tercantum dalam pasal 5 ayat 2 bagian (a) tercantum bahwa kekerasan seksual meliputi “menyampaikan ujaran yang mendiskriminasi atau melecehkan tampilan fisik, kondisi tubuh, dan/ atau identitas gender korban.” Yang dimaksud disini bukan hanya lelaki atau perempuan tetapi bisa diartikan juga gay dan lesbian. Artinya siapapun dilingkungan kampus tidak boleh mengkritisi apalagi melarang kaum LGBT karena hal itu termasuk ujaran kebencian dan diskriminatif yang dikatagorikan sebagai kekerasan seksual. "Maka sebagai masyarakat khususnya muslim wajib tolak Permendikbud tersebut."

Islam agama sekaligus ideologi sempurna bagi seluruh umat manusia, dalam hal ini sempurnanya Islam terlihat dari bagaimana islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia tanpa terkecuali. Mulai dari Aqidah, ibadah, makanan, minuman, pendidikan, bahkan bernegarapun terdapat aturannya didalam islam.

Seperti Firman Allah Azza Wazalla:

لْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِين

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu  [Al-Maa-idah: 3]

Islam juga mengatur bagaimana interaksi antara laki-laki dan perempuan sehingga dapat mencegah hal-hal yang dapat menghantarkan manusia dari mendekati zina. Dalam hal ini Islam sangat memuliakan wanita sehingga terjaga kehormatannya dan dapat mencegah juga dari pelecehan seksual misal dengan adanya pemisahan area publik antara laki-laki dan perempuan, kemudian mewajibkan Muslimah untuk menggunakan jilbab dengan sempurna sehingga terjaga auratnya, dan tidak mudah memancing syahwat para lawan jenis. Islam menutup celah-celah terjadinya kejahatan seksual ditengah masyarakat, dan masih banyak lagi aturan dalam Islam yang mendukung untuk kebaikan, kemaslahantan, dan keselamatan umat manusia. Seperti dalil:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَخْلُوْنَ بِاِمْرَأَةٍ لَيْسَتْ مَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

Siapa saja yang mengimani Allah dan Hari Akhir hendaknya tidak berkhalwat dengan perempuan bukan mahram karena pihak ketiganya adalah setan (HR al-Bukhari).

Pentingnya untuk melindungi generasi dari bahaya liberalisasi, kerusakan moral dan aqidah tentu menjadi tugas bersama umat manusia, baik dari individu, masyarakat terlebih negara yang memiliki peran utama. Maka kembali kepada Islam dalam syariatnya adalah solusi terbaik saat ini, tidak perlu susah-susah membuat aturan atau kebijakan hanya perlu terapkan syariatnya yakin kehidupan manusia akan menjadi lebih baik, berkah, selamat dunia dan akhirat. Wallahu a’lambisswwab.[*]

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Umat

Baca Juga