Mau Dikenalkan Sama Calon Mertua, Malah Ditusuk Belati!!!

Ilustrasi

Oleh: Siti Nurhotimah

Kasus kekerasan dalam hubungan pacaran, saat ini kerap terjadi bahkan sampai menimbulkan korban jiwa.

Kini terulang kembali, seorang perempuan muda di Banyuwangi menjadi korban penusukan sehingga terluka di bagian pinggang oleh pacarnya. Korban diketahui berinisial LA (23), warga Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon. Dia diduga ditusuk oleh pacarnya sendiri, yakni IKG (27), warga Kecamatan Cluring.

Insiden penusukan itu terjadi ketika korban bertamu di rumah orang tua IKG di Kelurahan Sobo, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi, Jumat (18/11/2022) sekira pukul 15:30 WIB.

“Saat ini korban tengah menjalani perawatan di zs IGD RSUD Blambangan. Korban tertusuk belati di bagian pinggang belakang,” ujar Kapolsek Kabat AKP Sumono.

Sumono menyampaikan kronologi kejadian bermula dari korban menerima ajakan terduga pelaku untuk dikenalkan orang tuanya. Korban diajak ke rumah orang tua terduga pelaku di Kelurahan Sobo, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi.

“Terduga pelaku dan korban sudah saling mengenal. Keduanya berpacaran. Korban mau dikenalkan ke orang tua pelaku,” katanya. Namun saat itu, kedua orang tua terduga pelaku sedang tak berada di rumah. Karena menunggu lama, akhirnya korban memaksa untuk pulang.

“Ketika mau pulang, korban dihalang-halangi oleh pelaku. Akhirnya, tersulut hingga kemudian menusuk korban menggunakan belati,” bebernya. (banyuwangihits.id)

Akibat derasnya pergaulan bebas, kerusakan moral kian tak terkendali. Pergaulan bebas sejatinya ada kerusakan praktiktis dari sistem pendidikan sekuler yang lebih mengutamakan ilmu pengetahuan dunia dibanding ilmu agama.

Sekuler memberi ruang kepada remaja pada berperilaku kemaksiatan. Fakta diatas salah satu dari seribu kasus lainnya, bahwa generasi saat ini, generasi yang mudah melakukan tindakan kriminal seperti, pacaran yang berujung penusukan bahkan sampek pembunuhan, disebabkan karena paham sekuler dan liberalis.

Standar mereka dalam bersikap bukan lagi standar halal dan haram, tetapi lebih mengikuti hawa nafsu. Fakta generasi saat ini tidak bisa dibiarkan karena, hal akan merusak, bukan hanya dirinya sendiri namun juga masyarakat secara umum bahkan mengancam banyak nyawa. Dan negara tidak bisa tinggal diam atas hal ini, karena negara memiliki kewajiban untuk menghentikan kerusakan dan negara membina generasi kepribadian islam. Sehingga, negara bisa menerapkan sistem pendidikan islam agar generasi itu bisa didik dengan baik sehingga menjadi generasi terdepan.

Generasi yang memiliki kepribadian islam akan memandang segala sesuatu dengan kacamata islam,  mereka berbuat sesuai dengan tuntunan islam. Mereka akan memenuhi gharizahnya, memenuhi kebutuhan jamanisnya dengan tuntunan yang islami.

Maka sebaliknya generasi yang mengedepankan hawa nafsu, hanya akan menjadikan masyarakat yang rusak. Maka pada saat generasi itu kepribadian islam, kita tidak akan lagi menjumpai generasi yang mudah emosi sampai melakukan kriminal bahkan pembunuhan, walaupun mungkin ada terjadi kriminal dan itu mungkin jarang dan itu negara akan segera menindak dengan tuntunan islam. Islam sudah memiliki hal ini tuntunan terkait sangsi bagi pelanggaran.

Misalnya bagi pembunuh itu ada qisas, dan sistem sanksi didalam islam itu sebagai jawabir dan jawajir, yaitu berfungsi untuk membersikan dosa bagi pelakunya dan juga berfungsi untuk efek jera kepada masyarakat luas.

Hanya saja penerapan hukum-hukum seperti ini hanya bisa direalisasikan jika sistem islam kaffah diterapkan, dan inilah solusi yang sempurna untuk memastikan agar generasi islam, generasi yang memiliki akhlak yang baik. Waallahu'alam

*) Penulis adalah Muslimah Banyuwangi

Baca Juga