Masyarakat di Hari Asyura Kota Pare-Pare

Anggriani (Mahasiswa Fakultas ekonomi dan bisnis Islam Prodi ekonomi syariah Institu agama Islam Negeri Pare-pare)

Oleh: Anggriani

Tradisi atau kebiasaan adalah sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama.

Kebiasaan yang diulang-ulang ini dilakukan secara terus menerus karena dinilai bermanfaat bagi sekelompok orang, sehingga sekelompok orang itu selalu melestarikan hal tersebut atau juga bisa diartikan sebagai warisan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat, tahun baru hijriah menandai peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam yaitu meperingati penghijrahan Nabi Muhammad SAW dari Kota Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.

Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tanggal 1 Muharram tahun baru bagi kalender Hijriah. Namun Tahun Hijrah Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah diambil sebagai awal perhitungan bagi kalender Hijriah, kalender Hijriah secara resmi belum dimulai ketika zaman Rasulullah SAW karena kalender ini hanya dimulai pada zaman Khalifah Arrasyidin kedua yaitu Umar al-Faruq RA. Bulan Muharram adalah bulan yang pertama dalam kalender Qamariyah yang oleh Umar bin Khattab, yang ketika itu beliau sebagai khalifah kedua sesudah Abu Bakar, dijadikan titik awal mula kalender bagi umat Islam dengan diberi nama Tahun Hijriah.

Tahun Baru Islam 2022 atau 1 Muharram 1444 Hijriah mengenang betapa pentingnya tanggal hijrah yang menjadi perubahan paradigma dalam sejarah Islam. Namun ibadah yang paling utama dan sangat dianjurkan untuk dikerjakan adalah puasa. Dalam bulan Muharram, ada puasa Asyura dan puasa Tasua yang dianjurkan.

Sama halnya dengan tradisi yang masih sering dilakukan oleh beberapa masyarkat dan masih berkembang sampai sekarang yaitu pada salah satu masyarakat bugis tepatnya yang berada di Sulawesi selatan, kota pare-pare di desa bilalange masih merayakan dengan membeli peralatan rumah tangga di hari syura.

Oleh sebab itu ratusan pedagang peralatan rumah tangga yang mulai membanjiri pasar dengan menjual berbagai peralatan rumah tangga karena telah mamasukki bulan muharram pedagang otomatis memanfaatkan momentum ini dengan menaikkan harga-harga peralatan rumah tangga.

Hari Asyura atau 10 muharram semua warga akan beranjak ke pasar tradisional lakessi, pasar sumpang dengan membeli kebutuhan rumah tangga, seperti ember, gayung, dan keperluan rumah tangga lainnya masyarakat berkayakinan bahwa membeli kebutuhan rumah tangga pada tanggal itu akan membawa berkah, selain itu juga awet.

“Berdasarkan pendapat narasumber atau masyarakat desa bilalange bahwasanya ini merupakan tradisi nenek moyang dengan membeli gayung akan memberikan rezeki yang banyak seperti saat mengambil air di wadah,” ujarnya

“Dan juga salah satu perabotan rumah tangga yang paling banyak terjual dari tahun ke tahun selama saya menjual yaitu gayung, langga, pattapi, pisau, piring, dll,” ujar penjual.

Serta Bungkusan yang dipercayai dapat menambah penghasilan bagi pengusaha atau pedagang ini berisi beras putih, buah pala sebanyak satu sampai dua buah, kayu manis, benang dan jarum serta selembar daun yang diberi nama oleh Suku Bugis adalah "daun penno". Penjual bungkusan "pelaris usaha` ini berada di sepanjang jalan pasar lakessi dan simpang Pasar sumpang dengan harga Rp5.000 sampai Rp.10.000 per bungkusnya.

Selain perabotan rumah tangga dan daun penno banyak warga masyarakat bilalange juga menyajikan bubur tujuh rupa atau, yang bagi masyarakat setempat lebih dikenal dengan sebutan bubur Syura, dalam rangka menyambut datangnya 10 Muharram. Bubur Bella Pitunrupa dalam sebutan bahasa Bugis merupakan bubur yang terdiri dari bubur ketan hitam, bubur santan putih, bubur kacang hijau, dan bubur labu. Bubur ini dihiasi dengan beragam buah-buahan dan lauk pauk membuat bubur tujuh rupa merupakan tradisi turun temurun yang sudah dilestarikan sejak zaman kerajaan oleh masyarakat Bugis.

Tradisi tersebut, diyakini sebagai bentuk ritual ucapan rasa syukur terhadap kemenangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan ajaran agama Islam. "Sudah biasami saya diminta bikin bubur tujuh rupa menjelang 10 Muharram. Dan proses pembuatannya harus disiapkan sejak tiga hari sebelum masuknya 10 Muharram," kata salah satu warga desa bilalange

Dijelaskan pula, beras yang akan dibuat bubur harus beras yang terbaik dan sudah dibersihkan sehari sebelumnya. Dan setelah diolah, pemesannya datang dan membawa pulang lalu disiapkan bersama berapa sisir pisang raja. Kemudian dibacakan doa keselamatan, tutur salah satu warga bilalange. Dan setelah bubur itu dibacakan doa keselamatan dimasjid, bubur itu akan dimakan secara bersama-sama, ini semua merupakan tradisi yang dilakukan oleh orang Bugis dengan menyambut tahun baru hijriah

Jadi dapat disimpulkan bahwasanya Semua itu merupakan kebiasaan yang sangat sering dilakukan oleh beberapa masyarakat Bugis dan sudah mengalir sampai sekarang, dimana dia menganggap bahwa dengan adanya ritual-ritual yang dilakukan akan bernilai ibadah dikarenakan dengan beberapa tradisi yang dilakukan dengan meyambut bulan muharram

*) Penulis adalah Mahasiswa Fakultas ekonomi dan bisnis Islam Prodi ekonomi syariah Institu agama Islam Negeri Pare-pare

Baca Juga