oleh

Maaf Masjid Tutup

Oleh: Moh Nizar

Entah mengapa umat Islam di negeri ini mengalami kesulitan bersatu, yang tampak adalah saling menuding dan tumpang tindih dalam ruas-ruas kehidupan.

Maaf Masjid Tutup! Pengumuman demikian mungkin yang pertama dalam sejarah perjalanan umat Islam. Apa yang salah dengan masjid? Para jemaah pun berbeda pendapat, sebagian ada yang tetap menjalankan ibadah di masjid, namun sebagian besar jemaah mengikuti anjuran ibadah di rumah: termasuk mengganti sholat Jum’ah dengan sholat dhuhur.

Keduanya, sama-sama membacakan dalil teologis dan argumentasi sebagai pijakan masing-masing. Bagi yang mendukung beribadah di rumah menyodorkan dalil: Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu (QS an-Nisa: 29). Ditambahkan juga: Jangan ulurkan tangan kalian (dengan sengaja) ke kehancuran (QS al-Baqarah: 195).

Sementara dasar argumentasi jemaah yang tidak setuju menutup masjid: Di mana pun kamu berada (tetap) akan terkejar oleh maut, sekalipun kamu berada di benteng-benteng yang kokoh dan kuat (QS al-Nisa:78).

Dalil berikutnya: Katakanlah: ‘Lari tidak berguna bagimu, jika kamu berlari dari kematian atau pembunuhan, dan jika demikian (kamu terhindar dari kematian), kamu hanya akan mengecap kesenangan sebentar’ (QS al-Ahzab:16).  Ringkasnya, bagi golongan ini meninggal gegara COVID-19 atau bukan ketetapan ilahi yang tak bisa dielak.

Namun, perbedaan pandangan keagamaan menghadapi Covid-19 di atas sungguh pelik, karena memiliki konsekuensi nyata. Tapi sebagaimana layaknya orang yang sudah bulat, mereka tak mau didikte. Dan sebagaimana layaknya orang moderat, ia memilih kompromi.

Barangkali, inilah gambaran umat Islam Indonesia mengapa seringkali gagal melahirkan “konsensus.” Sebab setiap kali muncul pandangan (keagamaan) timbul reaksi setuju dan tak setuju. Akibatnya, umatpun mengikuti seleranya. Termasuk hal ihwal menghadapi pandemi viruscorona, tidak ada kekompakan.

Memang, pada Islam ada pandangan bahwa perbedaan itu “rahmat:” ikhtilafatuhum rohmah. Tapi di sisi lain di situ pula kelemahannya. Sebab setiap orang absah menyatakan dalil dan argumentasi, toh meskipun (dalil) itu seringkali dikemukakan berkali-kali dalam konteks kasus atau fenomena yang berbeda. Dan tanpa sadar, perdebatan demi perdebatan seringkali terjebak oleh semangat moralitas semu.

Entah mengapa umat Islam di negeri ini mengalami kesulitan bersatu, yang tampak adalah saling menuding dan tumpang tindih dalam ruas-ruas kehidupan. Dengan kata lain, tatkala di satu pihak berjuang keras memerangi viruscorona, seperti menghentikan seluruh kegiatan aktivitas di masjid dan majelis-majelis taklim.

Di lain pihak, suatu kumpulan jemaah lainnya, tetap melakukan aktivitas di masjid sebagaimana biasa. Memang, mereka tak sepenuhnya salah. Tapi bukankah itu ibarat mengisi air di ember yang bocor.

Di sini kita memang kemudian bertanya: sampai kapan umat Islam di negeri ini akan tetap begini? Satu generasi, dua generasi, tiga generasi, atau lebih? Sukar untuk menjawab pertanyaan ini. Tapi mari kita tengok perkembangan Islam di negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Dalam hubungannya dengan kemajuan, Islam di ketiga negara itu layak ditiru. Sebab di sana, betapapun Islam tergolong muda (daripada kawasan Timur Tengah), tetapi Islam hadir sebagai rahmat secara nyata dan sebenar-sebenarnya. Di sana untuk membesarkan Islam, umat tidak berfikir mencari jawaban dengan mengubah keadaaan politik, mengingat senyatanya perubahan politik hanya sekadar perubahan panggung dan nama lakon.

Dalam kaitan pencegahan Covid-19, ketiga negara itu juga menutup masjid. Di salah satu pagar masjid di Singapura terpampang pengumuman: CLOSED for tours & visits in view COVID-19 situation. We hope to see you again soon. Begitu juga di Masjid Putra Malaysia tertulis: ANNAOUNCEMENT. Masjid Putra will be temporarily Closed for all religious activieties including prayer and all tours (local or international) strating 18 to 13 March 2020.

Bahkan, Brunei Darussalam negeri yang menerapkan syariat Islam pun menutup masjid, surau, dan pusat-pusat kajian keagamaan. Mungkin karena warga negara di tiga negera ini terbiasa patuh, umat Islam di sana tak ada bentrok menyikapi penutupan masjid. Tapi kepatuhan itu dilakukan secara sadar, bahwa menutup masjid dimaksudkan guna melindungi negara dan umat Islam itu sendiri. Dengan kata lain, sebagaimana kaidah usul fiqh: laa dharara wa laa dhirara (tidak memadaratkan dan tidak pula dimadaratkan).

Namun, betapapun masjid tutup tapi tidak demikian dengan aktivitas dakwah dan kegiatan sosial keagamaan. Di Singapura, misalnya, melalui MUIS kegiatan ceramah dilakukan lewat platform online, begitu juga dengan kelas keagamaan mingguan digantikan e-learning. Tidak hanya itu, lembaga ini memberikan bantuan tiket pulang bagi warga muslim Singapura yang belajar di negara luar yang terdampak pandemi.

Dalam konteks Indonesia, totalitas Muhammadiyah dalam melawan COVID-19 banyak menarik perhatikan. Sebabnya Muhammadiyah tak hanya mengeluarkan fatwa fiqiyah. Tapi juga turut membentuk Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC), dan bersama Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC), Lazismu, serta amal usaha lainnya serentak: “menolak berdamai dengan corona.”

Adakah itu berarti, mengisi air di ember yang bocor? Tentu tidak. Karena Muhammadiyah akan tetap mengamalkan pesan Ahmad Dahlan: tolong menolong adalah sikap orang Islam dalam aksi.

*) Penulis adalah Dosen di Universitas Lampung (Unila), dan di Universitas Muhammadiyah Lampung (UML)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed