Literasi Keuangan dan Pengelolaan Keuangan Mahasiswa yang Sambil Bekerja

Ilustrasi

Oleh: Charnadila Amanda

Literasi keuangan ialah alur proses dalam meningkatkan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan keyakinan (confidence) konsumen maupun masyarakat agar mereka mampu mengelola keuangan pribadi dengan lebih baik.

Pentingnya literasi keuangan juga tergambarkan dari hasil riset terkait Financial Fitness Index (2021) yang menunjukkan bahwa skor indeks kesehatan keuangan masyarakat Indonesia masih tergolong rendah hanya sebesar 37,72 dari skor maksimal 100. Skor tersebut dihitung berdasarkan empat area yaitu keuangan dasar (financial basic), keamanan keuangan (financial safety), pertumbuhan keuangan (financial growth), dan kebebasan keuangan (financial freedom). Dari keempat area tersebut, financial basic masyarakat Indonesia menunjukkan skor tertinggi dan masuk dalam kategori cukup baik.

Namun, jika dilihat dari area financial safety masih sangat rendah dengan indikator meliputi kemampuan memenuhi kebutuhan finansial keluarga; menabung secara rutin; memiliki dana untuk bertahan hidup jika kehilangan pekerjaan; memiliki dana untuk mengatasi krisis; dan mampu membayar biaya pengobatan tanpa mengganggu rencana finansial; dan memastikan keuangan keluarga terurus jika meninggal dunia.

Skor yang paling rendah ditunjukkan pada area financial freedom dengan indikator pemasukan pasif secara rutin serta financial growth dengan indikator investasi dan perencanaan dana pension.

Di zaman sekarang banyak mahasiswa yang kuliah sambil bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mulai dari mahasiswa semester 3-4 maupun mahasiswa tingkat akhir itu banyak sekali yang sambil bekerja. Biasanya mereka mengambil kerja sebagai part-time di cafe atau magang di suatu perusahaan. Untuk mahasiswa tingkat akhir mereka mengerjakan part-time sambil mengerjakan tugas akhir mereka.

Maka dari itu, bukan hanya manajemen keuangan yang mereka atur tetapi juga manajemen waktu untuk menyeimbangkan antara kuliah dan kerja. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wiharno dan Nurhayati, tingkat literasi keuangan yang dimiliki oleh mahasiswa berbeda secara signifikan berdasarkan karakteristik demografi. Literasi keuangan dapat dikaitkan dengan beberapa faktor diantaranya adanya pengaruh gender atau jenis kelamin, IPK, dan pendapatan orang tua terhadap literasi keuangan.

Gender atau jenis kelamin menjadi salah satu aspek yang mempengaruhi literasi keuangan. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa pria lebih handal dalam mengelola keuangan dibandingkan wanita dan bahkan sebaliknya. Selain itu, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yaitu indeks prestasi yang dihitung pada akhir suatu program pendidikan lengkap atau pada akhir semester kedua dan seterusnya untuk seluruh mata kuliah yang diambilnya, yang dinyatakan dengan rentangan angka 0,00 – 4,00). Mahasiswa yang memiliki kemampuan akademis (IP) yang tinggi dimungkinkan lebih banyak memahami konsep-konsep keuangan.

Selanjutnya, pendapatan orang tua, yaitu segala bentuk balas karya yang didapatkan sebagai imbalan atau balas jasa atas pemberian orang tua. Penelitian yang dilakukan oleh Sofia dan Irianto mengungkapkan adanya hubungan antara pendapatan orang tua dan tingkat literasi keuangan pada mahasiswa. Dalam penelitiannya, mahasiswa yang orang tuanya memiliki pendapatan rumah tangga lebih tinggi cenderung mempunyai tingkat literasi keuangan lebih tinggi dikarenakan mereka lebih sering menggunakan instrumen dan layanan finansial.

Oleh karena itu, penulis menganalisisnya melalui sampel sebanyak 100 mahasiswa di Daerah Istimewa Yogyakarta sehingga datanya bisa lebih representatif.

Pengaruh Jenis Kelamin terhadap Literasi Keuangan

Hasil pengujian signifikansi menunjukkan bahwa nilai thitung sebesar 0,144 dan probabilitas sebesar 0,886 yang berarti p value > 0,05. Nilai tersebut dapat membuktikan H1 ditolak artinya tidak ada pengaruh variabel Jenis Kelamin secara signifikan terhadap literasi keuangan mahasiswa yang sedang bekerja. Artinya bahwa perbedaan jenis kelamin antara pria dan wanita tidak mempengaruhi baik buruknya literasi keuangan pada mahasiswa yang sedang bekerja. Penelitian yang telah dilakukan memperlihatkan tidak adanya dampak yang diberikan atas perbedaan antara seorang pria dan atas tingkat literasi keuangan yang dimiliki oleh mahasiswa. Tentang tadi tergambar dari respons responden baik itu pria maupun wanita homogen-rata mempunyai aspek-aspek literasi keuangan yang sama sebagai akibatnya tidak dapat disimpulkan bahwa mereka mempunyai perbedaan pada mengambil keputusan keuangan.

Pengaruh IPK terhadap Literasi Keuangan Mahasiswa

Hasil pengujian signifikansi menunjukkan bahwa nilai thitung sebesar 2,450 dan probabilitas sebesar 0,016 yang berarti p value < 0,05. Nilai tersebut dapat membuktikan H2 diterima artinya ada pengaruh variabel Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) secara signifikan terhadap literasi keuangan mahasiswa yang sedang bekerja, dengan demikian hipotesis kedua terbukti. Hasil ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi nilai IPK mahasiswa maka literasi keuangannya akan semakin baik, dan begitu juga sebaliknya jika IPK nya semakin rendah menyebabkan literasi keuangan mahasiswa yang sedang bekerja juga akan semakin menurun. Hal ini tentu bisa ditinjau dan terlihat, pada mahasiswa dengan IPK tinggi biasanya ia memiliki pemahaman mengenai istilah keuangan serta kosakata ekonomi yang lebih baik daripada mahasiswa dengan IPK rendah.

Pengaruh Pendapatan Orang Tua terhadap Literasi Keuangan Mahasiswa

Hasil pengujian signifikansi menunjukkan bahwa nilai thitung sebesar 2,794 dan probabilitas sebesar 0,006 yang berarti p value < 0,05. Nilai tersebut dapat membuktikan H3 diterima artinya ada pengaruh variabel pendapatan orang tua secara signifikan terhadap literasi keuangan mahasiswa yang sedang bekerja, dengan demikian hipotesis ketiga terbukti. Hasil ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi pendapatan orang tua, maka literasi keuangan mahasiswa akan semakin baik dan sebaliknya pendapatan orang tua yang semakin rendah akan menurunkan literasi keuangan pada mahasiswa bekerja. Hal ini menandakan bahwa orang tua dengan pendapatan rumah tangga yang lebih tinggi cenderung mempunyai tingkat literasi keuangan yang lebih tinggi sebab mereka seringkali memakai instrumen serta pelayanan keuangan.

Pengaruh Angkatan terhadap Literasi Mahasiswa

Hasil pengujian signifikansi menunjukkan bahwa nilai thitung sebesar -0,694 dan probabilitas sebesar 0,489 yang berarti p value > 0,05. Nilai tersebut dapat membuktikan H4 ditolak artinya tidak ada pengaruh variabel angkatan secara signifikan terhadap literasi keuangan mahasiswa yang sedang bekerja, dengan demikian hipotesis keempat tidak terbukti. Hasil ini menunjukkan bahwa mahasiswa senior maupun junior telah memiliki literasi keuangan yang sama, sehingga perbedaan angkatan ini tidak mampu mempengaruhi pada peningkatatn literasi keuangan pada mahasiswa bekerja.

Dengan demikian, penulis menemukan bahwa jenis kelamin dan angkatan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap literasi keuangan mahasiswa yang sedang bekerja, sedangkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan pendapatan orang tua berpengaruh positif secara signifikan terhadap literasi keuangan mahasiswa yang sedang bekerja.

*)Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Islam Indonesia

Baca Juga