LGBT Eksis, Regenerasi Krisis

Ilustrasi

Oleh : Ummu Adi

Beberapa media akhir-akhir ini menyoroti pemberitaan terkait dengan penyelenggaraan kontes Miss Queen yang diikuti oleh komunitas LGBT di Bali.

Alhasil terpilihlah Millen Cyrus menjadi Miss Queen Indonesia 2021.
Miss Queen adalah kontes kecantikan bagi para transgender. Terpilihnya Millen Cyrus ini akan membawanya pada ajang Miss Internasional Queen di Thailand.

Transgender dengan nama asli Muhammad Millendaru Prakasa ini mengatakan bahwa masih banyak sekali diskriminasi yang terjadi pada transpuan di Indonesia. (makassar.terkini.id, 2/10/2021)

Dikutip di media lain, Millen Cyrus yang mengalahkan 17 kontestan di Miss Queen Indonesia 2021 ini berharap bahwa masyarakat Indonesia ke depannya bisa lebih menghargai perbedaan khususnya bagi transpuan.
(celebrity.okezone.com, 1/10/2021)

Isu LGBT ini memang selalu menarik untuk diperbincangkan, pasalnya perlakuan seks menyimpang ini diapresiasi oleh beberapa negara di dunia seperti AS, Belanda, Belgia, Spanyol, Kanada, Brazil, Swedia, Prancis, Meksiko dan beberapa negara lainnya, komunitas LGBT ini juga sudah mulai menunjukkan eksistensinya di negeri Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah muslim.

Meskipun sempat mengalami beberapa kali penolakan karena dianggap sebagai penyakit mental di kalangan masyarakat, akhirnya pada tanggal 1 Maret 2000 diperingatilah Hari Solidaritas LGBTlQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Intersex and Questioning) Nasional. Peringatan ini pertama kali di deklarasikan oleh organisasi Indonesia Gay Society (IGS) di Lembaga Indonesia-Prancis, di Yogyakarta. Tanggal 1 Maret dipilih karena di tahun 1982 pada tanggal tersebut, berdiri organisasi gay pertama di Indonesia, yaitu Lambada Indonesia. (www.dw.com, 29/2/2020)

Tentu saja ini menjadi angin segar bagi komunitas pelangi. Dan bagi negara sekuler, yaitu negara yang berdiri atas asas pemisahan agama dari kehidupan, perbuatan menyimpang seperti lesbi, gay dan transgender adalah salah satu bentuk kebebasan berekspresi yang harus dijaga eksistensinya. Inilah yang kemudian menjadi alasan adanya legalitas perkawinan sejenis yang diadopsi oleh negara-negara besar seperti AS, Belanda, Spanyol dan lainnya.

Mirisnya Indonesia sebagai negeri muslim terbesar ikut pula mengkampanyekan komunitas LGBT ini, puncaknya adalah pelaksanaan ajang Miss Queen yang berlangsung pada akhir bulan lalu di Bali. Selain itu, dalam kacamata kapitalis-sekuler, komunitas LGBT merupakan pasar yang sangat besar dalam bisnis. Witeck Communications menyebut kemampuan membeli komunitas LGBT di Amerika senilai $ 830 miliar pada tahun 2013. Dan meningkat menjadi 917 miliar dollar di tahun 2016.

Disebutkan juga dalam laporan University of Georgia's Selig Center for Economic Growth menyebutkan bahwa kemampuan membeli kelompok LGBT merupakan nomor tiga diantara kelompok minoritas AS lainnya. Diperkirakan kemampuan membeli kelompok LGBT ini mencapai hingga 825 miliar dollar. Dukungan penuh juga dilakukan oleh sekitar 90 CEO dari industri media dan digital di Amerika seperti Facebook dan Twitter. (tirto.id, 03/07/2017)

Inilah ciri khas ideologi kapitalis, sebuah ideologi yang berasaskan sekuler dan menjadikan untung rugi sebagai ukuran dalam setiap pengambilan kebijakan. Tidak peduli apakah aturan yang dibuatnya itu merusak atau tidak. Hal yang tentunya bertolak belakang dengan Islam.
Islam datang sebagai Rahmat bagi alam semesta. Kehadirannya membawa solusi dari semua masalah yang ada. Perbuatan lesbi, gay adalah perbuatan Liwath, yaitu aktivitas seksual antara laki-laki dan laki-laki, atau perempuan dan perempuan. Dan ini pernah terjadi pada masa Nabi Luth. Hal ini dikisahkan Allah dalam QS. Al A'raf [7] : 81

Artinya : " Sungguh kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama laki-laki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.
Itulah mengapa Islam mengharamkan perbuatan Liwath ini. Selain mengundang penyakit kelamin, semisal HIV/AIDS, perilaku menyimpang ini juga merusak tatanan sosial di masyarakat, dan bisa mengundang murkanya Allah."
Allah SWT berfirman :

فلماجاء امرا جعلناعاليهاسافلهاوامطرناعليهاحجارةمن سجيل منضود

Artinya: " Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkan negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar." (QS. Hud [11]: 82)

Sejatinya perbuatan Liwath tidak boleh dibiarkan berkembang dan eksis. Harus ada upaya serius dari penguasa untuk menjaga umatnya agar tidak terkontaminasi dengan penyakit mental ini.

Hanya negara yang merujuk pada syariat Allah sajalah yang mampu memutus mata rantai komunitas LGBT ini. Negara dengan basis syariat Allah, akan melahirkan sosok pemimpin yang bertakwa dan senantiasa ikhlas mengurusi umat sebagai amanah dari Allah yang nantinya harus dipertanggungjawabkan. Rasul SAW bersabda :
الأمام راع ومسؤل عن رعايته

"Imam adalah pemimpin dan dia bertanggung jawab dengan apa yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Untuk itu negara akan melakukan hal-hal yang dianggap perlu, diantaranya:

1. Negara akan melakukan pembinaan untuk menanamkan iman dan takwa kepada umatnya, sehingga timbul sikap takut akan murka Allah dikarenakan maksiat yang akan mereka lakukan.

2. Menghentikan aktivitas yang mengarah pada pornografi dan pornoaksi ataupun perbuatan yang berpotensi terjadi penyimpangan tingkah laku.

3. Memberikan sanksi yang tegas kepada pelaku Liwath. Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, Rasulullah Saw bersabda:

"Barangsiapa yang mengetahui ada yang melakukan perbuatan Liwath (sebagaimana yang dilakukan kaum Nabi Luth) maka bunuhlah kedua pasangan Liwath itu." (HR. Al khamsah kecuali Nasa'i)

Solusi sahih tidak akan didapatkan oleh sebuah sistem yang berakar pada asas sekuler. Sistem kapitalis yang menjadi turunannya justru akan melanggengkan keberadaan kelompok pelangi ini. Dan akibatnya dipastikan akan terjadi krisis generasi. Na'udzubillaahi mindzaalik
Ayo kembali kepada syari'at Allah untuk menyelamatkan generasi dari virus LGBT.
Waallaahu a'lam bishshawab

*) Penulis adalah Aktivis dakwah

Baca Juga