Larangan Mudik Menuai Polemik

Pemerhati Masyarakat, Ratna Munjiah

Oleh: Ratna Munjiah

Pos Sekat Bundaran Kepuh Kecamatan Karawang Barat bobol oleh ratusan pemudik bermotor. Kondisi ini terjadi karena polisi kalah jumlah. Para pengendara itu berhasil terobos penyekatan petugas.

Nampak dalam video yang dilaporkan diambil di Jalan Arteri Lingkar Luar Tanjungpura-Klari, Kelurahan Karangpawitan, Kecamatan Karawang Barat, ratusan pemudik merangsek maju di pos penyekatan.

Lantaran kalah jumlah, barikade yang dipasang polisi tak sanggup menahan para pengendara tersebut. Ratusan pemudik yang kebanyakan menggunakan sepeda motor berhasil terobos penyekatan polisi di Karawang, Jawa Barat.

Kepala Seksi Humas Polres Karawang IPDA Budi Santoso mengungkapkan, kejadian itu pada Sabtu dini hari sekitar pukul 00.05 WIB. Ketika itu jumlah personel tak sebanding dengan pemudik yang diperkirakan mencapai sekitar 500-an. Imbasnya petugas tak bisa berbuat banyak. Selanjutnya pada pukul 00.15 WIB, situasi sudah terkendali dan pemudik, seluruhnya berputar kembali ke arah Jakarta.(radarcirebon.com, 2021/05/09)

Untuk kesekian kali kebijakan pemerintah menuai kritik dari kalangan masyarakat. Tak mengherankan pada akhirnya jika kebijakan pemerintah melarang mudik tidak dipatuhi masyarakat yang akhirnya menimbulkan polemik yang berakibat terjadi penyerangan terhadap aparat. Kondisi ini pun diperburuk dengan mentalitas korup sebagian petugas yang mengambil kesempatan dengan memungut pungli.

Ketidakjelasan basis pembuatan kebijakan bisa menghilangkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah dan terhadap aturan. Kebijakan ini telah nyata menghilangkan kemaslahatan masyarakat dan menyakiti perasaan masyarakat. Kebijakan ini pun semakin menunjukkan kegagalan sistem sekuler yang seharusnya memberi maslahat bagi semua rakyat.

Bisa disaksikan bersama mudik dilarang namun aktivitas ditempat perbelanjaan dan wisata penuh. Setelah tahun lalu rakyat tidak diperkenankan untuk mudik karena pandemi tahun ini pun larangan mudik ditetapkan dengan dalih menekan perkembangan covid sementara banyak aktivitas masyarakat di luar yang memicu kepadatan mengalahi aktivitas mudik sendiri. Sebagai masyarakat biasa jika pemerintah adil dalam menetapkan kebijakan rakyat tentu akan patuh dan taat terhadap kebijakan tersebut. Faktanya saat ini ketidakadilan tampak nyata dihadapan. Bisa dilihat bagaimana WNA (Warga Negara Asing) masih bisa keluar masuk di negeri ini. Sementara rakyat kecil untuk pulang menengok orangtua dipersulit dan dijaga ketat seperti penjagaan terhadap teroris. Miris dan menyedihkan tentu.

Silaturahmi untuk bertemu orang tua dibatasi dengan kebijakan larangan mudik, yang menggelikan larangan mudik ini pun berlaku beberapa hari menjelang dan setelah lebaran. Seakan-akan kebijakan tersebut mampu menekan lonjakan kasus Covid. Kebijakan ini sejatinya seperti memutus tali silaturahmi, sementara silaturahmi merupakan aktivitas yang menimbulkan banyak maslahat. Allah Ta’ala memerintahkan untuk menyambung tali silaturahim, dalam firman-Nya:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36).

Allah juga berfirman:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur - hamburkan (hartamu) secara boros” (QS. Al Isra: 26).

Ia juga berfirman:

فَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ذَلِكَ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung” (QS. Ar Rum: 38).

Demikian juga Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau memerintahkan umatnya untuk menyambung silaturahim, dalam sabda beliau:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليصل رحمه، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka sambunglah tali silaturahim. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah yang baik atau diam” (HR. Bukhari).

Sebagai seorang muslim sejatinya kalau memang kondisi tidak baik atau sedang sakit tentu tidak akan melakukan mudik karena selain berbahaya bagi dirinya akan berbahaya bagi yang ingin dikunjungi. Sehingga seseorang pun mudik tentu akan melihat kondisi kesehatan dirinya dan orang yang akan dikunjungi. Larangan mudik merupakan kebijakan yang hanya akan menuai polemik diatas ketidakjelasan peraturan. Solusi untuk menekan angka kenaikan Covid bukan dengan larangan mudik tetapi hanya dengan kembali kepada syariat Allah. Wallahua'lam

*)Penulis adalah Pemerhati Masyarakat

Baca Juga