Larangan Mudik, Kebijakan Yang Menggelitik

Ilustrasi

Oleh: Arsilah

Mudik adalah sebuah tradisi dan penantian yang dirindukan setiap hari raya lebaran. Bertemu keluarga dan berkumpul bersama adalah kado terindah yang tak akan tergantikan. Namun apalah daya sudah berganti tahun pandemi belum kunjung usai. Lambatnya penanganan dan kebijakan yang setengah hati.

Pemerintah telah menetapkan larangan untuk melakukan mudik Lebaran 2021. Aturan ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Kepala Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik pada Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah selama 6-17 Mei 2021.

Sebelumnya, pemerintah menerbitkan addendum yang mengatur kebijakan sebelum dan sesudah Lebaran. Hal ini untuk mencegah penularan virus corona yang menyebar akibat mobilitas masyarakat selama lebaran. (Kompas.com)

Sementara selama masa peniadaan mudik 6 – 17 Mei 2021 tetap berlaku SE Satgas Nomor 13 Tahun 2021. Sebelumnya, pemerintah juga memberlakukan pengecualian pada sejumlah wilayah untuk bisa melakukan mudik lokal pada 6-17 Mei 2021.

Dalam pengecualian tersebut, terdapat 36 kota dan 8 wilayah yang diperbolehkan melakukan pergerakan atau mobilitas selama periode larangan mudik. Pengecualian larangan mudik berlaku untuk pergerakkan kendaraan di perkotaan atau kabupaten yang saling terhubung dalam kesatuan wilayah atau tepatnya disebut wilayah aglomerasi. Warga di wilayah aglomerasi pun diperbolehkan bermobilitas tanpa perlu mengikuti persyaratan. (Tirto.id. 27/4/2021).

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, tidak dilarangnya kegiatan wisata selama masa larangan mudik Lebaran bertujuan untuk menggerakkan perekonomian negara.

"Harus dipastikan bahwa tujuan utama kita adalah untuk menekan penyebaran dan penularan Covid-19, bukan untuk membuat aktivitas ekonomi terutama sektor pariwisata juga ikut berimbas secara drastis," kata Muhadjir dalam keterangan tertulis, Jumat (2/4/2021) Jakarta, (Kompas.com).

Kebijakan pertama sudah sangat tepat diberlakukan, namun harusnya semua ditetapkan tanpa ada pengecualian. Jika ingin memutus tali rantai covid maka harus seutuhnya, tidak setengah hati. Namun apalah daya rakyat yang tidak memiliki kekuatan, hanya bisa pasrah dengan keputusan tuannya.

Sangat jelas sistem kapitalis lebih mementingkan ekonomi daripada keselamatan rakyat. Bagaimana pandemi akan berakhir jika kebijakan saling menganulir. Larangan mudik dibarengi dengan pembukaan tempat pariwisata adalah sebuah fakta. Hanya karena alasan perputaran roda ekonomi, keselamatan rakyat menjadi taruhannya. Apakah ada jaminan di saat berpariwisata tak terpapar Corona?

Belum lagi ada sejumlah wilayah yang diperbolehkan mudik, hal ini tentunya semakin membingungkan rakyat. Kebijakan setengah hati yang sangat dirasakan saat ini. Kondisi semacam ini akan mengakibatkan masalah baru di kemudian hari. Rakyat pun akan memilih melanggar kebijakan dari pada menaati. Karena merasa menjadi anak tiri. Kalau seperti ini masihkah dibutuhkan kebijakan yang silih berganti? Bukannya menyelesaikan masalah, tapi membuat semakin parah.

Jika mau jujur, keterpurukan ekonomi dunia termasuk Indonesia bukan dimulai saat pandemi melanda. Jauh sebelum ada pandemi, sistem ekonomi kapitalisme yang menguasai dunia hari ini mempunyai cacat bawaan yang akan mengalami krisis berulang.

Butuh Solusi Yang Tepat

Jika aturan yang dipakai masih sistem kapitalis, dapat dipastikan tidak akan mampu menyelesaikan masalah. Karena aturan yang diambil akan selalu dilandaskan pada untung rugi atau berdasar kepentingan tertentu. Oleh karena itu diperlukan sistem yang dapat menyelesaikan secara tuntas. Yaitu, sistem yang memandang rakyat sebagai tanggung jawabnya. Apalagi jika bukan Islam.

Sistem politik Islam akan menghimpun para penguasa yang amanah dan kapabel, pengurus umat yang paham agama dan berkarakter pemimpin bervisi. Mereka pemimpin yang sedari awal menginginkan berkhidmat pada Sang Pencipta dengan menjadi pelayan umat. Mereka mencintai dan menjadikan umat sebagai fokus kerjanya.

Islam adalah agama rahmatan Lil’alamiin. Jika syariat Islam diterapkan maka pandemi akan cepat berakhir, yang namanya mudikpun pastinya akan bisa kita nikmati, bertemu keluarga, silaturahim, tentunya itu semua akan bisa kita dapati bila memakai syariat Islam secara sempurna.

Wallahu’Alam Bishoab

*)Penulis adalah Pemerhati sosial