Kunci Sukses Pendidikan Generasi Gemilang

Ilustrasi

Oleh: Risna Sari, S.E

"Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Sebuah kalimat legendaris yang pernah diucap oleh proklamator Indonesia, Bung Karno.

Sejatinya memang begitulah realitas potensi luar biasa yang ada dalam diri pemuda.
Jauh sebelum Bung Karno mengungkap potensi pemuda, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. Ar-Rum ayat 54).

Imam Jalaluddin al Mahalli dan imam Jalaluddin as Suyuthi dalam kitab tafsir Jalalayn menjelaskan makna جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً bahwa Allah Swt menjadikan masa muda yang penuh dengan semangat dan kekuatan.

Hal ini tidaklah mengherankan karena faktanya melekat erat dengan pemuda yang memiliki segudang potensi kebaikan.

Namun yang terjadi hari ini pada diri pemuda sungguh membuat setiap diri kita mengelus dada saking prihatinnya. Setiap hari diberitakan prestasi-prestasi negatif dari kebanyakan pemuda, mulai dari kecanduan narkoba, pergaulan bebas yang sudah merambah mulai dari anak SD, bullying hingga yang tidak kekerasan seperti tawuran dan pembunuhan.

Pemerintah menilai banyaknya prestasi negatif yang dihasilkan para pemuda karena minimnya pemahaman kebangsaan dan Pancasila. Sehingga, anggota DPRD Samarinda, Laila Fatihah melaksanakan kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan kepada siswa siswi di SMP Labbaika, Kamis 24 November 2022. Dalam kesempatan tersebut, Laila Fatihah mengatakan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan sangat penting untuk terus diterapkan untuk masyarakat Bumi Etam saat ini (kliksamarinda-com).

Hal yang sama juga dilakukan di Balikpapan yaitu Sosialisasi Pendidikan Karakter dan Wasbang di SMPN 1 Balikpapan karena seringnya terjadi bullying dan tawuran di area tersebut.

Lantas, apakah prestasi negatif yang dihasilkan pemuda benar karena minimnya pemahaman Kebangsaan dan Pancasila?

Sejatinya sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia lah yang harus dikritisi dan diganti, yaitu sistem pendidikan sekuler. Sistem sekuler adalah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, sistem ini telah berhasil menjauhkan generasi muslim dari nilai-nilai Islam. Dengan pendidikan sekuler ini, generasi diajarkan ilmu Islam serta hukum halal dan haramnya, namun dengan sangat mudah mereka mengamalkan perbuatan-perbuatan yang melanggar Islam, mendekati keharam dan jauh dari ketaqwaan. Subhanallah.

Pendidikan adalah hal yang vital untuk mencetak generasi cemerlang. Berhasil atau tidaknya sebuah pendidikan tergantung pada visi pendidikan itu sendiri. Pendidikan karakter bukanlah solusi hakiki bagi pembangun bangsa yang shohih. Sebab, sebuah visi pendidikan dikatakan shohih ketika mempunyai visi dan misi mengubah negeri menjadi maju, beradab dan kuat. Sehingga, yang dibutuhkan oleh generasi ini adalah pendidikan dengan asas yang shohih.

Dalam hal ini, Islam telah berhasil membangun sebuah peradaban maju yang bertahta hingga 1300 tahun lamanya. Dalam Islam, ada aturan pendidikan yang shohih. Pendidikan yang terbukti menghasilkan generasi yang mampu membangun peradaban maju, kuat serta terdepan.

Sistem pendidikan Islam tersebut menitikberatkan pada terbentuknya karakter kepribadian Islam, yaitu pola pikir dan pola sikap Islami yang terpancar dari akidah Islam itu sendiri. Pendidikan yang bertujuan membentuk karakter kepribadian Islam tentu berbeda dengan karakter kebangsaan.

Sebab, karakter kepribadian Islam dibangun berdasarkan akidah Islam. Yang dihasilkan adalah generasi yang memiliki sudut pandang dan pemikiran yang shohih (Islami) dan sikap atau perilaku yang tidak menyimpang dari aturan Sang Khalik. Hal ini sangat penting, mengingat kunci dari semua persoalan bangsa adalah benarnya (shohihnya) aturan dan kebijakan yang diterapkan, dan itu dapat terwujud hanya melalui proses pendidikan yang shohih.

Pendidikan yang shohih tidak akan bisa terwujud tanpa adanya peran negara. Maka, kehadiran negara sebagai penjaga sistem pendidikan Islam menjadi agenda yang wajib untuk dihadirkan. Wallahu a’lam

*) Penulis adalah Guru Swasta, Aktifis Dakwah Muslimah Balikpapan

Baca Juga