oleh

KPK Jangan Diem Saja! di Pertamina ada Dugaan Korupsi Mark Down

RadarKotaNews, Jakarta – Produksi minyak PT Pertamina di tahun 2018, tidak melampaui target sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Demikian data yang diungkap pengamat anggaran Uchok Sky Khadafi, yang disampaikan kepada wartawan, di Jakarta, Kamis (27/2/2020).

Disampaikan Uchok, produksi minyak perusahaan itu hanya mencapai 28.998 MBBL atau 79.445 BOPD dari RKAP sebesar 30.295 MBBL atau 83.000 BOPD.

Dan Produksi minyak pada tahun 2018 ini sama dengan produksi minyak pada tahun 2017 yang juga pada angka sebesar 28.161 MBBL atau 77.154 BOPD.

“Meskipun produksi minyak dari tahun 2017 ke  2018 mengalami kenaikan, tetapi kenaikan hanya ‘se-emprit’ alias sedikit banget,” kata Uchok.

Kenaikan sedikit produksi minyak ini,  mempelihatkan kinerja PT Pertamina jelek dan seperti suka-suka mereka. Dia pun melihat kondisi ini sangat memprihatinkan.

Menurut Uchok, jeleknya kinerja PT Pertamina EP, yang harus disalahkan adalah Direktur Operasi dan Produksi Chalid Said Salim.

Karena, amanah jabatan yang dipegang tidak serius dijalankan, hanya sekedar main main saja. Hal ini, bisa dirujuk dari tidak bisanya dia menaikan produksi minyak sebagai tanggungjawab dirinya dalam perusahaan.

Oleh karena sedikit kenaikan produksi minyak ini, senior di Center For Budget Analisis itu menilai bahwa pendapatan PT Pertamina EP akan kena efeknya, dan hal ini seperti tidak beres atau patut dicurigai ada yang tidak beres atas pendapatan perusahaan.

“Coba lihat pada era PT Pertamina EP dipegang oleh Presiden Direktur Nanang Abdul Manaf dan Direktur Operasi dan Produksi Chalid Said Salim, pendapatan usaha pada tahun 2017 hanya sebesar USD 2.7 miliar dan pada tahun 2018 USD 3.1 miliar.”

“Padahal pendapatan PT Pertamina EP pada tahun 2012, bisa menghasilkan pendapatan sebesar USD 5.1 miliar, dan pada tahun 2014 sebesar USD 4.6 miliar,” kata Uchok.

Jadi pendapatan PT Pertamina pada era Presiden Direktur Nanang Abdul Manaf dan Direktur Operasi dan Produksi Chalid Said Salim perlu dicurigai, dan mungkin ada dugaan korupsi mark down pada sektor pendapatan PT Pertamina EP yang perlu diselidiki oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Kami dari CBA meminta kepada KPK, agar segera memanggil  Presiden Direktur Nanang Abdul Manaf dan Direktur Operasi dan Produksi Chalid Said Salim untuk diperiksa atas rendahnya pendapatan PT Pertamina EP lantaran berbau dugaan mark down,” kata Uchok.

“Kalau perlu, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati juga harus dipanggil oleh KPK, biar sesekali memberikan senyum asem kepada penyidik KPK.” kata dia. (fy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed