Konten Negatif Marak Mewarnai, Gorengan Media Saat Pandemi Makin Tak Bernurani

Dewi Soviariani (Ibu dan pemerhati umat)

Oleh: Dewi Soviariani

Hampir dua tahun sudah pandemi melanda, masyarakat mau tak mau harus menahan diri berdiam dirumah. Ditengah wabah tak banyak yang bisa dilakukan warga, menghabiskan hari dengan aktivitas yang banyak bersumber dari sosial media sudah menjadi hal biasa.

Banyak nya pengguna internet menjadi kan ajang persaingan meraup rupiah. Berbagai konten pun dicipta untuk menghibur masyarakat dari rumah. Sayangnya kondisi ini tak membawa perubahan positif. Justru lahir banyak konten kreator yang memunculkan siaran negatif yang tak lagi memandang norma. Masifnya penggunaan media sosial ternyata menjadi perubahan besar pada sistem sosial dimasyarakat, hal ini juga memicu terpaparnya warga net pada konten negatif yang wara wiri pada setiap beranda sosial media. Dari konten pornografi, hoax, ghibah, prank negatif dan jenis konten konten tak berfaedah bebas diserap masyarakat. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate. Yang mengatakan, bermigrasinya aktivitas ke media komunikasi daring selama pandemi juga meningkatkan paparan konten negatif ke pengguna internet. "Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir dua tahun, telah memunculkan seluruh aktivitas manusia bermigrasi, dari interaksi secara fisik menjadi media komunikasi daring, Kondisi ini dapat memicu terjadinya konten negatif di ruang digital,” ujarnya di World Economic Forum Global Coalition on Digital Safety Inaugural Meeting 2021, dari Jakarta.

Sejalan dengan pernyataannya, Menkominfo juga menilai selama ini sudah memberikan solusi untuk membendung maraknya konten konten negatif tersebut. pemerintah punya tiga pendekatan untuk meredam sebaran konten negatif di internet yaitu di tingkat hulu, menengah, dan hilir. Untuk hulu conohnya, Kominfo telah menggandeng 108 komunitas, akademisi, lembaga pemerintah, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk memberikan literasi digital ke masyarakat.

Selain itu juga dilansir siaran pers di laman Kominfo, Minggu (19/9/2021), hingga September 2021, Menkominfo menyebut mereka telah menghapus 24.531 konten negatif. Konten negatif yang dihapus termasuk 214 kasus pornografi anak, 22.103 konten terkait terorisme, 1.895 mis informasi Covid-19, dan 319 mis informasi vaksin Covid-19.

Dari strategi yang dikerahkan pemerintah ternyata tak sesuai harapan. Fakta menunjukkan perkembangan konten konten negatif terus meningkat. Para kreator berlomba lomba memproduksi tayangan tak beredukasi demi menyelamatkan ekonomi. Dengan jaminan kebebasan berpendapat dan berperilaku yang ditetapkan dalam sistem Demokrasi. Menjadi tameng mereka untuk bebas mengeksplore ide untuk dijadikan konten. Tanpa memandang lagi aturan agama dalam pembuatan nya,konten negatif lebih cepat penyebaran nya dan direspon antusias oleh pengguna internet.

Miris memang, ketika pemikiran sekuler dijadikan sandaran. Halal haram sudah tidak menjadi tolok ukur perbuatan, asalkan pundi pundi keuangan terus dihasilkan. Entah bagaimana rusak dan hancur nya generasi bangsa ini ke depan, jika paparan negatif media sekuler tak segera dihentikan. Faktanya konten negatif terus diproduksi karena edukasi tidak bersandar pada aspek mendasar yakni ketakwaan, tidak diiringi regulasi yang melarang sektor lain menyebar aktifitas negatif, sektor pergaulan dan ekonomi dan politik masih toleran terhadap pornografi, manipulasi dan tidak ada definisi yang baku terhadap makna konten negatif.

Bukan hanya kerusakan moral yang mengancam, kerusakan aqidah jauh lebih berbahaya. Mewabah bagai virus Corona hingga kini solusi yang berikan tak jua membuat konten negatif tersebut berhenti siaran. Adapun efek dari konten negatif tersebut nyata kerusakan nya pada kehidupan masyarakat. Rusak nya moral bangsa, generasi pembebek dan pemuja produk asing hingga angka bunuh diri yg tinggi akibat tayangan yang sering menghadirkan konten pembullyan atau persaingan kerap terjadi. Namun apa daya munculnya aturan penguasa yang ternyata tak bisa sejalan dengan sistem negara yang justru menjadi pelindung bagi liberalisme.

Kehidupan millenial jaman now katanya yang tidak bisa lepas dari gadget, ternyata membawa kekhawatiran bagi kita semua. Teknologi informasi yang berkembang pesat bisa membawa kerusakan dahsyat jika tidak dalam perlindungan sistem yang benar. Kehidupan kapitalis dengan standar sekuler nya jelas membuat teknologi media menjadi bom atom bagi kehidupan manusia.

Masyarakat butuh solusi yang sistematis, bukan sekedar kebijakan tambal sulam yang pada akhirnya berbuah penderitaan. Islam menawarkan solusi hakiki yang akan menyelamatkan manusia dari kerusakan. Didalam sistem Islam media tidak dibiarkan liar memproduksi tayangan. Kebijakan dan aturan Islam bersumber dari zat yang Maha tinggi dan Maha pengatur Allah SWT.

Media massa dan media sosial akan dikontrol sebagai media edukasi untuk membangun akhlak masyarakat. Pengaturan media didalam aturan Islam berdasarkan aspek ketakwaan. Selain itu, dalam sistem Islam terdapat regulasi yang melarang penyebaran aktivitas negatif, baik di sektor pergaulan, ekonomi, dan politik. Penyebaran konten yang bermuatan pornografi dan manipulasi dapat dicegah sedini mungkin. Definisi konten negatif adalah berdasarkan syariat, maka publik dapat memilah mana yang bermuatan negatif atau tidak.

Dalam hal ini pemerintah Islam akan membuat aturan dan undang-undang yang ketat terhadap para pengguna internet. Penyebaran informasi akan dipantau secara cermat. Konten konten yang berpotensi memuat kerusakan akidah dilarang untuk disebarkan. Akan diseleksi dan dipantau oleh pemerintah. Pendidikan akhlak bagi pembuat konten juga menjadi perhatian. Konten kreator dan influencer harus mengikuti standarisasi hukum Syara' dalam memproduksi tayangan. Tidak boleh Mengandung kebohongan, penipuan atau pun fitnah. Informasi konten harus mendorong masyarakat untuk melaksanakan hukum Syara'. Tidak menggunjing atau membuka aib orang lain. Tidak mengandung pornografi, pornoaksi, pelecehan seksual ataupun LGBT. Semua konten yang memuat ujaran kebencian dan adu domba yang menimbulkan perpecahan akan diatur secara ketat dan mendetil.

Kedudukan media dalam sistem Islam benar benar penting. Menjadi sarana yang kokoh untuk membangun masyarakat yang bertakwa sekaligus berperan menyebarkan Islam, baik dalam kondisi perang maupun damai untuk menunjukkan keagungan ideologi Islam dan membongkar kebobrokan ideologi kufur. Tentunya ini berbanding terbalik dengan fungsi media sekuler yang hadir saat ini. Tidak ada jalan lain untuk menghentikan dampak negatif media sekuler yang merusak, hanya kembali pada aturan Islam. Dalam naungan Islam harapan masyarakat terhindar dari ancaman generasi akibat terpapar konten media negatif akan terwujud. Kehormatan dan kemuliaan manusia akan berada pada posisi nya. Aturan Islam tak hanya memberikan solusi tapi juga mencegah terjadinya kembali semua tindakan kemaksiatan. Generasi bertakwa hanya hadir dari sistem yang berlandaskan akidah yang benar, dan sistem Islam lah yang memiliki solusi hakiki tersebut.

Allahu A'lam bisshawwab.

*) Penulis adalah Ibu dan pemerhati umat

Baca Juga