Kondisi Perunggasan Nasional Saat Ini Cukup Mengenaskan

Ketua DPP PKS Bidang Tani dan Nelayan, Riyono

RadarKotaNews, Semarang - Masyarakat yang bergerak di bidang peternakan menjerit karena pola kerja sama dan suasana usaha yang nyaris bisa dikatakan monopoli. Apalagi produk utama unggas berupa daging dan telur harganya terus turun mengakibatkan kerugian besar.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bidang Tani dan Nelayan, Riyono dalam tertulisnya kepada awak media, Rabu (8/9/2021).

Menurut Riyono, sudah sejak 10 tahun terakhir kondisi perunggasan nasional terus memburuk, harga tidak stabil serta suasana pasar yang mengarah kepada monopoli oleh korporasi dengan modal besar.

"Peternakan rakyat sangat terjepit serta banyak yang gulung tikar," tukasnya

Kekacauan sektor perunggasan ini membuat peternak rakyat semakin berat kondisinya. Produsen pakan dan bibit yang awalnya tidak boleh bermain di lini pembesaran saat ini diperbolehkan, korporasi semakin kuat mengendalikan mulai hulu - hilir bisnis ini.

"PKS meminta kepada pemerintah untuk bisa melindungi peternak lokal yang semakin tertekan dengan serbuan daging ayam impor dan kondisi harga pakan yang terus naik," imbuhnya.

Diungkapkan Riyono, data dari Pinsar dan Gabungan Asosiasi Pengusaha Peternak Ayam Nasional (Gopan), 68 persen kebutuhan ayam nasional dipenuhi oleh pengusaha besar yang rata-rata pemodal asing. "Peternak lokal hanya mengisi 20 - 30 persen, bahkan tahun 2021 ini kondisi bisa jadi 90% sudah dikuasai oleh konglomerasi. Peternak lokal tinggal 10 persen," tegasnya

Saat ini ada 170.000 peternak lokal yang nasibnya diujung tanduk, kebangkrutan sudah didepan mata. Asing menguasai sektor perunggasan nasional yang bisa jadi 10 tahun ke depan bisa jadi 100% kebutuhan daging ayam nasional dipenuhi oleh impor dan pengusaha bermodal asing yang ada di Indonesia.

Potensi produksi daging ayam menurut BPS 2018 ada sekitar 3.3 juta ton dengan estimasi kebutuhan nasional 3.05 juta ton/tahun. Bahkan saat ini Indonesia sedang dalam tekanan karena sering kalah di WTO terkait gugatan negara produsen, kekalahan di WTO Indonesia harus siap di serbu ayam impor dari Brazil yang rawan membawa penyakit, kasus 2018 ditemukan daging ayam Brazil ada Salmonella.

"Peternak lokal hanya akan menjadi konsumen dan penonton karena semua dikuasai oleh asing," pungkas Riyono. (fy)

Penulis:

Baca Juga