Ketidakseimbangan Ekosistem, Perburuan Liar

Ilustrasi

Oleh: Fatun Latifa

Populasi belalang meningkat dan populasi elang terancam punah, bagaimana keseimbangan ekosistem kedepannya?

Pada awal bulan lalu, masyarakat khususnya para petani digemparkan dengan keberadaan ribuan hama belalang yang menyerang tanaman pokok petani di Nusa Tenggara Timur. Hama belalang yang datang dalam gerembolan besar, ada yang masih berupa nimfa (anak-anak belalang), dan yang sudah dewasa. Hama belalang ini terus bergerak mengancam tanaman jagung dan padi warga sekitar. Serangan hama belalang ini menyerang tanaman jagung petani di wilayah utara Sumba Tengah.

Serangan hama belalang juga terjadi di sumba timur, berawal di kecamatan Rindi, yang terus meluas ke kecamatan Kahaungu Eti, Pandawai dan Umalulu, dan terus meningkat setiap harinya. Pada sejumlah desa di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), serangan hama belalang terus meluas dan menyerang dua desa di Kecamatan Wewewa Timur yaitu, Desa Tema dan Desa Pada. Diketahui akibat insiden tersebut, ratusan hektar lahan tanaman petani terancam gagal panen.

Belalang merupakan salah satu hama tanaman yang cukup meresahkan, khususnya bagi tanaman jagung. Hal ini karena belalang muda maupun dewasa sangat rakus dan umumnya menyerang tanaman dari famili Graminae seperti padi, jagung, dan tebu, hingga tanaman hias, buah, sayuran, dan tanaman perkebunan.

Belalang yang menyerang tanaman jagung ada dua jenis, yaitu Locusta sp., dan Oxya chinensis. Hama jenis ini menyerang tanaman jagung saat masih muda, dengan cara memakan tunas jagung muda (baru tumbuh). Hama belalang pada tanaman jagung merupakan hama migran, dimana tingkat kerusakannya tergantung dari jumlah populasi serta tipe tanaman yang diserang. Dalam kasus ini, hama belalangnya dari jenis belalang Kembara (Locusta migratoria) yang muncul dalam gerombolan besar sehingga dapat mengakibatkan kerusakan dan kerugian yang besar pada tanaman jagung. Sehingga dapat menyebabkan gagal panen.

Pengendalian hama belalang pada budidaya jagung secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan. Namun, Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan menyebabkan timbulnya masalah lingkungan, ketahanan hama terhadap pestisida, resurgensi serangga dan organisme pengganggu tumbuhan, kematian serangga yang menguntungkan, residu pestisida dalam bahan makanan dan pakan ternak. Mempertimbangkan masalah ini, timbul kekhawatiran dunia tentang toksisitas pestisida kimia, dan kebutuhan untuk meningkatkan metode pengendalian yang bersifat non-kimia dalam pengendalian hama terpadu.

Lonjakan populasi hama belalang disebabkan oleh tradisi tanam berpindah-pindah setiap tahun oleh penduduk, menanami lahan setiap musim hujan, dan membakar tunggul sebelum meninggalkannya pada musim kering. Kebiasaan ini  menyebabkan tersedianya makanan dan tempat berlindung, serta tempat meletakkan telur belalang yang mendukung perubahan fase belalang ke fase gregarius. Fase gregarius ini biasanya dimulai pada awal musim hujan setelah melewati musim kemarau yang cukup kering (dibawah normal). Apabila kondisi lingkungan memungkinkan, belalang akan berkembang menjadi fase gregarius melalui fase transien. Dan akan mengalami perubahan dari fase gragarius kembali ke fase soliter apabila keadaan lingkungan tidak menguntungkan bagi kehidupan belalang.

Tak hanya itu, pembukaan lahan untuk usaha perkebunan juga menciptakan biotipe yang potensial untuk perkembangan hama belalang. Semakin banyak tanah yang terbuka semakin banyak tempat peletakan telur belalang. Peningkatan suhu lingkungan juga akan menyediakan tempat yang potensial bagi belalang untuk memperoleh makanan serta sebagai tempat berlindung (shelter).

Lalu, bagaimana dampak yang ditimbulkan akibat peningkatan populasi belalang?

Dalam sebuah rantai makanan, belalang berperan sebagai konsumen 1 dimana ia merupakan makhluk hidup heterotrof yang tidak dapat menyediakan makanannya sendiri, sehingga belalang bergantung pada makhluk hidup yang bersifat autotrof. Pada rantai makanan, makhluk hidup yang bersifat autotrof berperan sebagai produsen, contohnya yaitu tanaman hijau (tanaman padi, jagung, dan lainnya), ganggang, serta fitoplankton.

Jika populasi belalang meningkat maka akan terjadi peningkatan populasi katak dan peningkatan populasi ular. Peningkatan populasi ular akan menyebabkan peningkatan populasi Elang sebagai konsumen tingkat akhir. Namun, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Populasi elang tidak mengalami peningkatan dan malah terancam punah. Berdasarkan data yang diperoleh, penyebab utama penurunan populasi elang dikarenakan tingginya angka perburuan liar oleh oknum tertentu.

Elang flores [Nisaetus floris] merupakan jenis pemangsa yang tersebar di Pulau Lombok, Sumbawa, serta pulau kecil Satonda dan Rinca, dan tentunya Pulau Flores, Nusa Tenggara yang populasinya hanya berkisar antara 100-240 individu dewasa. Sehingga, Badan Konservasi Dunia IUCN [International Union for Conservation of Nature] menetapkan statusnya Kritis [Critically Endangered/CR] atau satu langkah menuju kepunahan di alam. Elang flores menginspirasi Soekarno, sang proklamator yang juga presiden pertama Indonesia, dalam menetapkan warna bendera negara.

Persebarannya yang terbatas di kawasan hutan di Nusa Tenggara, perkembangbiakannya yang hanya menghasilkan 1 - 2 telur saja, serta penangkapan dan perdagangan ilegal memperparah kondisi populasinya di alam. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi menetapkan elang flores sebagai jenis dilindungi.

Sejatinya, berdasarkan Surat Dirjen PHKA Nomor S.20/IV-KKH/2015, elang flores masuk dalam 25 satwa prioritas terancam punah yang harus ditingkatkan populasinya sebanyak 10 persen hingga 2019, berdasarkan kondisi biologis dan ketersediaan habitat.

Peningkatan kasus perdagangan Elang terus meningkat setiap tahunnya karena banyak elang yang dipelihara untuk memenuhi hobi. Padahal, elang yang diambil dari alam sudah jelas ilegal yang aturan serta hukumnya dilarang. Oleh karenanya, perlu digalakkan sosialisasi untuk kelestarian elang dan dilakukan upaya ketat penegakan hukum yang menghasilkan efek jera bagi pelaku perburuan liar pada elang yang jelas-jelas merupakan satwa yang dilindungi oleh negara.

Upaya pentingnya hal tersebut harus pula dilakukan oleh pemerintah, melalui UU No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Juga Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 dan No.8 tahun 1999 tentang Pemanfaatan serta Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Dalam Peraturan tersebut dijelaskan termasuk kaidah pemanfaatan dan kategori pelanggaran yang berkaitan dengan pelestarian keanekaragaman hayati.

Bagaimana dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat status konservasi Elang yang semakin mengkhawatirkan?

Dalam rantai makanan elang berperan sebagai konsumen Puncak atau konsumen tingkat akhir. Terganggunya sebuah proses dalam rantai makanan akan mempengaruhi komponen lain dan mengakibatkan munculnya efek berantai yang mampu mengubah kinerja ekosistem. Dalam kasus ini, Elang memiliki peranan penting dalam rantai makanan yaitu sebagai konsumen tingkat akhir yang nantinya akan diurai oleh organisme yaitu jamur dan bakteri.

Peningkatan populasi belalang dan penurunan populasi elang akan menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem yang menyebabkan terjadinya peningkatan populasi ular karena tidak adanya predator yang akan memangsa ular. Populasi tikus masih dapat dikendalikan karena ular dalam hal ini berperan sebagai predator untuk mengendalikan keberadaan tikus. Kemungkinan buruk yang akan terjadi yaitu tergantikannya kedudukan elang dalam ekosistem sebagai konsumen tingkat akhir oleh ular yang tentunya akan berdampak buruk pada manusia itu sendiri.

Peningkatan populasi ular akan mengganggu aktivitas manusia karena ular dapat memasuki pemukiman warga. Terlebih lagi jika habitat ular mulai terganggu dan populasinya semakin tidak dapat dikendalikan. Tak hanya itu, peningkatan populasi ular juga berdampak pada peningkatan populasi belalang yang tidak kalah merugikan bagi masyarakat.

Oleh karenanya untuk menghindari hal-hal tersebut, perburuan liar perlu segera dihentikan karena sangat berdampak besar pada keseimbangan ekosistem. Perburuan liar juga berdampak pada kepunahan satwa tertentu

Kepunahan berbagai satwa endemik Indonesia sangatlah disayangkan. Oleh karenanya untuk menghindari hal-hal tersebut perburuan liar harus diatasi dengan memperketat aturan yang berlaku di Indonesia serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat akan dampak yang ditimbulkan dari aktivitas perburuan liar serta pembukaan lahan secara terus-menerus. Mengingat aktivitas yang dilakukan oleh manusia itu sendiri akan menjadi boomerang bagi masyarakat setempat.

*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Airlangga

Baca Juga