oleh

Kemiskinan, Benarkah Hanya Karena Problem Pernikahan?

Oleh: Djumriah Lina Johan

Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy bicara soal keluarga miskin di Indonesia. Menurut Muhadjir, jumlah keluarga miskin yang masih tinggi di Indonesia tak terlepas dari pernikahan sesama keluarga miskin. Sebagaimana kita ketahui bapak ibu sekalian, rumah tangga miskin di Indonesia itu jumlahnya masih sangat tinggi, masih sekitar 76 juta rumah tangga miskin di Indonesia itu, kata Muhadjir Effendy dalam pemaparannya di webinar Kowani, Selasa (4/8/2020).

Muhadjir menegaskan pentingnya pemutusan mata rantai rumah tangga miskin di Indonesia. Dan rumah tangga baru yang miskin itu rata-rata adalah juga dari keluarga rumah tangga miskin ini, tutur Muhadjir.

Sesama keluarga miskin besanan kemudian lahirlah keluarga miskin baru sehingga ini perlu ada pemotongan mata rantai keluarga miskin, kenapa? Karena kemiskinan itu pada dasarnya basisnya adalah di dalam keluarga, ucap mantan Mendikbud ini. (Detik.com, Selasa, 4/8/2020)

Sebelumnya, pada Februari 2020, Muhadjir Effendy juga mengeluarkan statement yang sama mengenai polemik kemiskinan negeri ini. Ia mensolusikan pemutusan mata rantai kemiskinan dengan menikahkan si kaya dengan si miskin.

Menurut Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, ucapan dan tingkah laku seseorang tergantung apa yang ia pikirkan. Melihat konsistensi pak Menteri memandang kemiskinan, menjelaskan bahwa memang itulah yang ia pahami mengenai akar masalah kemiskinan negeri ini. Tentu hal ini sangat berisiko jika dibiarkan. Karena kesalahan mengindera akar kemiskinan akan berujung pada kesalahan mengeluarkan kebijakan sebagai solusi kemiskinan.

Dalam sudut pandang Islam, kemiskinan adalah kala sebuah keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok, berupa sandang, pangan, dan papan. Ketidakmampuan ini tidak semata-mata karena pernikahan antar sesama keluarga miskin sebagaimana propaganda pejabat negeri ini. Melainkan karena dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Pada faktor internal, kemiskinan bisa terjadi karena kepala keluarga baik suami atau ayah tidak memiliki pekerjaan atau telah mencari nafkah namun tidak mencukupi ketiga kebutuhan pokok di atas.

Pada faktor eksternal, kemiskinan terjadi akibat kesalahan sistem yang berlaku dalam sebuah negara. Negara tersebut tidak bertanggung jawab mengurusi rakyatnya dengan baik. Entah itu dengan tidak membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi laki-laki yang sudah balig, suami, maupun ayah sebagai kepala keluarga. Tidak mengelola harta milik rakyat dengan baik bahkan menjualnya kepada pihak swasta demi keuntungan pribadi dan kroni-kroninya. Tidak mengelola harta milik negara dengan baik dan berakhir dijual kepada pihak asing yang dirasa lebih mumpuni.

Tidak cukup sampai di situ, negara juga sering melakukan perjanjian luar negeri yang merugikan rakyat. Melakukan dan menghidupkan sistem ribawi. Mematikan distribusi kekayaan sehingga harta hanya beredar di kalangan orang kaya. Melegislasi hukum-hukum yang mematikan mata pencaharian rakyat serta merugikan rakyat dari segi penetapan upah, jam kerja, dan lain-lain.

Lantas, benarkah kemiskinan negeri ini hanya karena pernikahan antar orang miskin? Tentu jawabannya tidak. Dibanding faktor internal, kemiskinan negeri ini lebih didominasi faktor eksternal, yaitu akibat kesalahan sistem. Sistem bernama Kapitalisme telah merubah peran negeri ini dari operator menjadi regulator semata. Negara tidak menjalankan tupoksinya sebagai pelayan dan pengurus urusan umat. Malah menjadi pelayan dan penyembah korporasi serta elite politik yang berkuasa. Walhasil, kemiskinan pun terpelihara bahkan dibudidayakan hingga beranak-pinak seperti sekarang.

Untuk memutus rantai kemiskinan hanya bisa dengan mengganti sistem yang telah mengakar di negeri ini menjadi sistem Islam. Sebab, Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaannya sebagai sebuah sistem hidup dan sistem hukum meliputi segala perkara. Allah SWT berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Kucukupkan nikmat-Ku kepada kalian dan telah Kuridhai Islam menjadi agama bagi kalian.” (TQS. al-Maidah: 3)

Allah SWT juga berfirman, “Kami telah menurunkan kepada kamu al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (TQS. an-Nahl: 89)

Ini berarti, problematika apa saja, atau apapun tantangan yang dihadapi, akan dapat dipecahkan dan dijawab oleh Islam. Termasuk dalam hal kemiskinan tersistem. Oleh karena itu, jelas agama tidak bisa dipisahkan dari negara, sebagai pemilik kekuasaan.

Imam al-Ghazali mengungkapkan pentingnya agama dan negara. Beliau mengungkapkan, “Agama dan kekuasaan (ibarat) saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu yang tanpa pondasi niscaya runtuh dan sesuatu tanpa penjaga niscaya lenyap.” (Al-Ghazali, Al-Iqtishad fi al-I’tiqad)

Sistem ini bukan sekadar teori, namun telah terbukti pernah ada. Bahkan keberadaannya diakui oleh Barat sendiri. Sebagaimana pengakuan Will Durrant:

Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad. (Will Durant – The Story of Civilization)

Ia juga menambahkan:

Pada masa pemerintahan Abdurrahman III diperoleh pendapatan sebesar 12,045,000 dinar emas. Diduga kuat bahwa jumlah tersebut melebihi pendapatan pemerintahan negeri-negeri Masehi Latin jika digabungkan. Sumber pendapatan yang besar tersebut bukan berasal dari pajak yang tinggi, melainkan salah satu pengaruh dari pemerintahan yang baik serta kemajuan pertanian, industri dan pesatnya aktivitas perdagangan. (Will Durant – The Story of Civilization)

Selain sistem yang baik, diperlukan sosok pemimpin yang baik. Dialah sosok yang sadar dan paham bahwa jabatan adalah amanah, yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Ia paham sabda Rasulullah saw, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ia juga paham bahwa hakikat kepemimpinannya adalah sebagai pelayan, bukan pemimpin yang merasa punya kuasa untuk melakukan segala sesuatu terhadap yang ia pimpin. Hakikat kepemimpinan tercermin seperti ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw, “Sayyid al-qawm khadimuhum (Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka).” (HR. Abu Nu‘aim)

Oleh karena itu, untuk mewujudkan terciptanya kehidupan yang penuh dengan keadilan dan kesejahteraan, haruslah menggunakan sistem yang baik. Yakni, sistem Islam. Penerapan sistem Islam secara kaffah akan melahirkan pemimpin yang amanah, bertakwa, kapabel, serta cerdas. Sehingga mampu menjalankan amanah kepemimpinan dengan benar dan tidak akan terjebak dalam masalah berkepanjangan seperti kemiskinan saat ini. Wallahu a’lam bish-shawab.

*) Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial Ekonomi Islam

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed