Kaum Muslim Ditindas, Butuh Negara Sebagai Perisai

Ilustrasi

Oleh: Nur Rahmawati, S.Pd

Umat, khususnya kaum muslim di berbagai negeri banyak mengalami penindasan dan diskriminasi. Di berbagai negeri bahkan telah dimusuhi dan tidak diakui sebagai warga negara di negaranya sendiri.

Kondisi ini semakin saja memburuk dan berlarut. Seperti yang dikatakan oleh ketua LBH Pelita Umat Chandra Purna Irawan, S.H , M.H dalam agenda opening speech Inrenational Muslim Lawyer Conference (IMLC) ahad (3/10/2021) di kanal Youtube Al Waqiyah TV.

Berbagai penindasan terhadap kaum muslim bukanlah hal baru. Bahkan sejak keruntuhan Khilafah Islamiyyah pada tahun 1924, kaum muslim kerap menjadi bulan-bulanan negara kafir penjajah. Kita sudah lama saksikan, bagaimana Israel mempertontonkan kebengisan mereka tanpa ada yang membela secara nyata dari para pemimpin kaum muslimin. Hanya sekadar pernyataan tanpa unjuk nyata.

Penindasan terus meluas ke berbagai negeri lainnya. Bahkan di negara minoritas muslim, kaum muslim menjadi kaum minoritas paling teraniaya di dunia. Sebut saja muslim Rohingnya. Lebih dari dua juta jiwa mengalami penganiayaan oleh militer dan pemerintahan Myanmar. Sejarah panjang undang-undang, diskriminasi, dan kesewenang-wenangan merampas hak Rohingya memperoleh kewarganegaraan di negeri asal mereka.

Di Uighur, kaum muslim dituduh sebagai radikal dan teroris, hingga akhirnya berujung pada reduction camp. Kaum muslim di sana ditahan hingga mengalami penyiksaan. Bahkan kalangan perempuan mengalami pemerkosaan. Kaum muslim di negeri minoritas selalu tertindas dan ditindas. Bahkan tak hanya di negeri minoritas, di negara mayoritas Muslim pun, ajaran Islam pun mulai tampak didiskriminasi. Lalu siapakah yang akan memberi perlindungan dan solusi apa yang mestinya diambil oleh kaum muslimin?

Ketidakadilan ini pun tidak hanya dirasakan oleh umat Islam saja namun dirasakan oleh umat lainnya. Sehingga umat sejatinya membutuhkan perisai berupa institusi politik Islam yang murni membela dan melindungi kaum muslimin dari setiap bentuk peghinaan, pelecehan dan penodaan kehormatan mereka. Institusi politik yang tulus berkhidmat pada umat atas dasar perintah syariat. Institusi ini tak lain sistem Khilafah Islamiyyah, sebuah sistem kepemimpinan global yang akan melindungi umat dari berbagai penindasan.

Al-Allamah asy-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah menjelaskan, Khilafah adalah kepemimpinan umum untuk seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariat Islam dan mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh penjuru alam. Khilafah substansinya sama dengan imamah. Dengan demikian imamah dan khilafah memiliki makna yang sama.

Rasulullah Muhammad saw., bersabda,” sesungguhnya Al-Imam (khalifah) itu perisai, yang (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan kekuasaannya.” (HR Al Bukhari Muslim).

Lantas, apakah sistem Sekularisme-Kapitalisme yang kita inginkan? Sistem yang jelas-jelas menindas umat Islam di berbagai penjuru. Sistem apakah yang lebih baik daripada sistem yang berasalkan dari wahyu bagi orang-orang yang berpikir? “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al-Maidah: 50)
Wallahu a’lam bi ash-shawab

*) Penulis adalah Komunitas anggota Revowriter, Anggota Forum Dakwah muslimah.

Baca Juga