Kasus HIV/AIDS Makin Menggunung, Kaum Pelangi Justru Cari Panggung

Ilustrasi

Oleh: Rizqa Fadlilah, S.Kep

Peringatan hari HIV/AIDS sedunia sudah berlalu beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 1 Desember.

Meski peringatan hari HIV/AIDS ini telah diberlakukan sejak beberapa tahun silam, namun nyatanya angka kejadian HIV/AIDS semakin menggunung. Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Kalimantan Timur, hingga tahun 2019 jumlah pengidap HIV/AIDS di Kaltim mencapai 7.286 orang, dengan latar belakang yang beragam, termasuk golongan pelajar (news.prokal.com, 22/11/2022).

Kabupaten Kutai Timur menjadi penyumbang angka HIV/AIDS yang cukup tinggi. Berdasarkan data yang dihimpun AIDS digital sejak 2015 hingga 2021, jumlah Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) di Kutim mencapai 563 orang (pro.kutaitimurkab.go.id, 17/11/2021).

Pemerintah sudah melakukan beberapa upaya dalam pencegahan terjadinya HIV/AIDS. Salah satunya program Triad KRR yang digagas oleh Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), yang meliputi tidak melakukan seks pra nikah, tidak menikah usia dini, dan tidak NAPZA. Pemerintah juga menggandeng pihak swasta dalam penanganan masalah HIV/AIDS dengan mengadakan sosialisasi dan edukasi, khususnya di kalangan pelajar. Di Kaltim kegiatan edukasi kepada pelajar terkait pencegahan dan bahaya penyakit HIV/AIDS telah di lakukan oleh PT. Pertamina Patra Niaga Regional Kaltim di SMAN 5 Balikpapan.

Kejadian HIV/AIDS ini tentu tidak terlepas dari semakin bebasnya pergaulan remaja saat ini. Terbukti dengan semakin banyaknya pegiat LGBT, hingga merebaknya fenomena ‘sugar dady’. Bahkan dari sebuah survei yang dilakukan oleh situs kencan Seeking Arrangement, didapatkan Indonesia memiliki lebih dari 60.500 ‘sugar dady’ (gramedia.com). Maka tentu tidak cukup jika hanya melakukan edukasi dan sosialisasi terkait pencegahan dan bahaya penyakit HIV/AIDS saja.

Liberalisme menumbuh-suburkan HIV/AIDS

HIV/AIDS di kalangan remaja tidak terlepas dari akar masalahnya yaitu paham Liberalisme dan Sekulerisme. Paham tersebut menafikkan aturan agama dalam kehidupan. Aturan agama dianggap mengekang dan membatasi kebebasan berpendapat, berperilaku, dan berkeyakinan. Sehingga mereka enggan diatur dengan syariat Islam, maka tidak heran jika kerusakan yang terjadi bertubi-tubi.

Dengan adanya kebebasan berperilaku, muncul berbagai penyimpangan yang dianggap wajar, seperti LGBT dan ‘sugar dady’. Padahal sebenarnya perilaku semacam itulah yang menimbulkan berbagai masalah, mulai dari masalah sosial hingga kesehatan, tidak terkecuali HIV/AIDS.

Seakan lupa diri, peringatan hari HIV/AIDS sedunia justru digunakan kaum LGBT untuk mendapat pengakuan eksistensi mereka secara hukum, termasuk juga di negeri ini. Mereka menganggap bahwa LGBT merupakan kelompok rentan, karena masih banyak mendapat diskriminasi, dan stigma negatif. Oleh karenanya, mereka masif melakukan berbagai upaya untuk mendapat payung hukum, di bawah undang-undang HAM.

Mirisnya gerakan ini didukung oleh lembaga dunia, sebuah badan PBB, United Nations Development Programe (UNDP) menjalin kemitraan global dengan kedutaan swedia di Bangkok, Thailand dan USAID. Pada tahun 2016 dana sebesar US$ 8 juta (sekitar Rp. 108 miliar) dikucurkan dengan fokus ke empat negara, yaitu Indonesia, China, Filipina, dan Thailand. Inisiatif tersebut dimaksudkan untuk memajukan kesejahteraan komunitas LGBT dan mengurangi ketimpangan atas orientasi seksual dan gender (jurnalasia.com, 13/02/2016).

Tidak hanya sampai di situ, kini eksistensi LGBT semakin terlihat dengan dukungan paham moderasi beragama. Sikap toleran dan terbuka yang menjadi asas paham ini sering kali kebablasan, tidak salah jika dimaknai tidak peduli terhadap aturan agama. Atas nama HAM dan toleransi berbagai kemaksiatan dimaklumi. Seperti perilaku LGBT yang jelas dilarang dalam Islam juga fenomena ‘sugar dady’ yang sejatinya adalah perzinahan, para pelakunya tidak boleh disalahkan selama mereka tidak mengganggu atau melanggar hak orang lain.

Liberalisme memang kian deras mengarus di negeri ini. Selain menyasar tatanan sosial, SDAE dan SDM kita pun tidak lepas dari pengaruh liberalisme. Kebebasan privatisasi dan swastanisasi SDAE membuat rakyat semakin sengsara. Bagaimana tidak, hasil kekayaan alam yang harusnya dinikmati warga sekitar, justru dieksploitasi oleh para kapital. Rakyat hanya mendapat remahan, bahkan harus menanggung kerusakan lingkungan akibat keserakahan para kapital. Patut kita sadari, bahwa liberalisasi ekonomi ini justru memuluskan langkah penjajah mengeruk kekayaan negeri.

Sebagai negara pengekor, Indonesia hanya mengikuti dikte kebijakan global, baik dalam sistem ekonomi maupun tatanan sosial. Begitu pula dalam mengatasi berbagai masalah, termasuk masalah HIV/AIDS dan berbagai permasalahan generasi saat ini. Padahal jelas kebijakan global merupakan kebijakan yang sekuler kapitalistik, yang menafikkan aturan agama dan hanya berpihak pada kepentingan dan keuntungan para kapital.

Meski harus mengorbankan rakyat dan pemuda sebagai generasi penerus bangsa, tidak menjadi masalah bagi mereka. Dengan asasnya yang sekuler, sistem kapitalisme membentuk generasi yang toleran pada kemaksiatan, bahkan bangga menjadi pelaku kemaksiatan yang jelas-jelas dimurkai Allah SWT.

Problem Liberalisasi Perilaku Terselesaikan dengan Sistem Islam

Islam sebagai agama sekaligus ideologi mendasari setiap kebijakan politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial-budaya, dan semua tata aturan pemerintahan. Sistem pendidikan dalam Islam berlandaskan syariat Islam, setiap kurikulum dan mata pelajaran berbasis akidah Islam. Sistem pendidikan inilah yang kemudian dapat menguatkan keimanan dan mencegah kemaksiatan di kalangan pemuda khususnya dan seluruh warga negara pada umumnya, termasuk perilaku seksual menyimpang LGBT. Karena jelas perilaku LGBT haram hukumnya dan pelakunya mendapat ancaman keras dari Allah SWT.

Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.” (TQS. Al-A’raf: 81) “Dan kami hujani mereka dengan hujan (batu). Maka perhatikanlah kesudahan orang yang berbuat dosa itu.” (TQS. Al-A’raf: 84)

Tidak hanya mengharamkan LGBT, sistem Islam juga mengatur tata pergaulan laki-laki dan perempuan dengan jelas dan tegas. Allah SWT berfirman:

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar menjaga pandangannya dan menjaga kemaluannya, yang demikian lebih baik bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan katakanlah pada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat.” (TQS. An-Nur: 30-31)

Maka jelas, hanya sistem pergaulan Islam lah yang efektif menyelesaikan problem liberalisasi perilaku dan menyelamatkan generasi dari berbagai ancaman kerusakan, termasuk LGBT dan HIV/AIDS. Akan tetapi sistem pergaulan Islam yang demikian hanya bisa diterapkan dalam negara yang menerapkan sistem Islam secara kaffah.

Terbukti pada masa kekhalifahan Islam tercetak profil generasi emas yang tidak hanya pandai dalam ilmu agama tapi juga ilmu pengetahuan, bahkan dari kalangan perempuan. Diantaranya Mariyam Al-Astrolabiya, penemu star finder atau alat pemburu bintang yang menjadi cikal bakal GPS. Fatimah A-Fihri, pendiri universitas pertama di dunia. Sutayta Al-Mahali, seorang ahli matematika khususnya dalam bidang aritmatika, dan banyak lagi ilmuwan lain.

Khatimah

Sebagai seorang muslim yang hidup dalam sistem kapitalisme saat ini, sudah selayaknya kita waspada dan berhati-hati terhadap setiap kebijakan yang dapat menjerumuskan generasi pada paham sekuler-liberal. Kita juga harus memandang Islam sebagai tata aturan baku yang harus kita terapkan dalam seluruh aspek kehidupan, sebagai konsekuensi keimanan.

Tidak cukup hanya diri sendiri, dakwah Islam kaffah juga harus kita gencarkan untuk memahamkan semua orang. Karena hanya dengan diterapkannya sistem Islam kaffah akan terwujud keselamatan dan kemaslahatan bagi seluruh manusia. Wallahu a’alam...

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial

Baca Juga