Kapitalisasi Destinasi Wisata di Kaltim

Pemerhati masalah Umat, Siti Nur Ainun Ajijah (Ist)

Oleh: Siti Nur Ainun Ajijah

Sekprov Muhammad Sa'bani dalam kegiatan launching rumah Adat Lamin Anjungan Kaltim di TMII Jakarta Sabtu (13/11/2021) kemarin menyatakan bahwa keindahan alam yang ada di di Provinsi Kalimantan Timur memiliki potensi pariwisata yang dilirik oleh masyarakat di luar negeri.

Bahkan Duta Besar Slovakia untuk RI Jaroslav Chlebo menyebut sangat antusias terhadap pariwisata di Kalimantan Timur bahkan terpesona dengan keindahan Pulau Maratua Kabupaten Berau. Sekprov pun berharap khususnya Dubes Slovakia membawa para investor ke Kaltim termasuk melakukan kunjungan wisata. (kaltim.tribunnews.com/2021/11/14)

Salah satu destinasi wisata di Kukar yang mendapat perhatian serius yaitu Taman Gubang. Destinasi wisata di kawasan danau di Desa Loa Ulung, Kecamatan Tenggarong Seberang, itu mengundang perhatian Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim. Di tengah kemandirian dan kreativitas, destinasi wisata ini disebut memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim Sri Wahyuni saat menggelar dialog bertema Kolaborasi Pemberdayaan Masyarakat Wisata atau Pokdarwis Menuju Desa Wisata. Dia menyebutkan, salah satu program unggulan Provinsi Kaltim saat ini adalah pariwisata yang berbasis kerakyatan. Untuk mengembangkan pariwisata di Kaltim, pemprov tidak bisa berjalan sendiri tanpa ada kolaborasi dari pihak dunia usaha. Pihaknya bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) dalam mengembangkan pariwisata di Kaltim. (kaltim.prokal.co)

Bahkan Bapak Wakil Gubernur Kaltim, H. Hadi Mulyadi mendukung dengan mengatakan potensi Sungai Mahakam di Kota Samarinda diyakini akan menjadi destinasi wisata internasional di masa akan datang. Karena susur Sungai Mahakam, tidak ada di seluruh provinsi di Indonesia dan baru Kota Samarinda yang memilikinya. Bahkan, Hadi mencatat, kurang lebih ada 10 kali membawa tamu dari luar Kaltim untuk melaksanakan susur Sungai Mahakam. Bahkan, Dubes Malaysia untuk Indonesia turut menikmati suasana susur Sungai Mahakam. (kaltimprov.go.id)

Kaltim provinsi yang kaya akan keberagaman baik suku, budaya, keindahan dan kekayaan alamnya menjadi sesuatu yang bernilai dan patut disyukuri bagi umat manusia, terkhusus masyarakat Kaltim. Banyak hal yang bisa dilakukan dalam rangka mensyukuri keindahan alam yang ada dengan menjaga, mengelola dengan baik dan melestarikannya.

Gencarnya Kaltim mempromosikan berbagai obyek wisatanya dengan tujuan menjadikan pariwisata sumber PAD (Pendapatan Anggaran Asli Daerah) menggantikan tambang ternyata perlu diwaspadai. Karena dengan mempromosikan pariwisata kepada orang asing untuk mengunjungi hingga berinvestasi justru malah bisa menjadi celah swasta dan asing untuk menguasai dan mengambil banyak keuntungan dari kekayaan alam yang ada di Kaltim. Padahal sejatinya pariwisata yang menonjolkan keindahan alam adalah hak seluruh rakyat untuk menikmatinya dan negaralah satu-satunya yang bertanggungjawab dalam pengelolaannya. Keindahan alam bukan obyek kepemilikan individu swasta atau asing.

Para pemilik modal besar (swasta dan asing) sudah pasti dengan senang hati menyambut baik tawaran investasi obyek wisata tersebut terlebih para kapitalis karena capaian mereka adalah materi tidak berfikir apakah nanti berdampak baik atau buruk untuk masyarakat sekitar. Intinya adalah dengan begitu semakin melanggengkan sistem kapitalisme yang memperdaya kehidupan masyarakat secara umum.
Dampak lain dari kapitalisasi obyek pariwisata adalah masuknya nilai-nilai kehidupan sekuler liberal dan gaya hidup dari pengunjung yang datang. Semisal: tempat wisata harus menyediakan miras, membolehkan telanjang ataupun minimalis menutup aurat,  memfasilitasi kebebasan pergaulan laki dan perempuan alias zina ataupun mendekati zina, mengubah pemikiran dan gaya hidup masyarakat di sekitar obyek pariwisata menjadi sekular dan liberal hingga melanggar hukum syariat. Nastahgfirullah.

Dampak buruk pariwisata ini jelas menyertai kapitalisasinya. Kehidupan pun makin jauh dari syariat Islam, meski ‘remah-remah kecil’ keuntungan dirasakan oleh masyarakat kecil di sekitar. Inilah dampak pengelolaan obyek pariwisata sistem kapitalisme yang tidak mengindahkan syariat Islam sebagai aturan kehidupan.

Islam hadir tentu tidak hanya sebagai agama ritual dan moral belaka. Islam merupakan sistem kehidupan sempurna yang mampu memecahkan seluruh problem kehidupan manusia sebagaimana aturan di dalam Islam yang mengatur masalah aqidah, ibadah, pakaian, pendidikan, bernegara dan lain-lain. Seperti firman Allah:
لْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِين

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu.”  (Al-Maa-idah: 3)

Begitu juga Islam dalam mengatur kekayaan alam yang menurut pandangan Islam keindahan atau kekayaan alam adalah bagian dari kepemilikan umum. Maka kepemilikan umum ini wajib pengelolaanya oleh negara yang hasilnya nanti akan dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat secara umum.

Sebaliknya haram hukumnya menyerahkan pengelolaan kepemilikan umum kepada individu, swasta, apalagi asing. Karena jelas disini jika pengelolaan diserahkan kepada swasta atau asing mereka lah yang paling banyak meraup keuntungan sementara negara terlebih rakyat hanya mendapatkan beberapa persennya atau bahkan serpihan-serpihannya saja. Hal ini merujuk pada sabda Rasulullah SAW:
Kaum Muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api.” (HR Ibnu Majah).

Kemudian,Rasul saw juga bersabda:
Tiga hal yang tak boleh dimonopoli: air, rumput dan api.” (HR Ibnu Majah)

Keindahan alam adalah hak seluruh rakyat untuk menikmatinya, bukan hak sebagian orang-orang tertentu saja. Keindahan alam tidak boleh dikuasai untuk dieksploitasi untuk kepentingan individu swasta maupun asing agar mereka saja yang berhak mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari kapitalisasi obyek pariwisata yang ada.

Sikap muslim dan muslimah dalam menikmati keindahan alam adalah tetap mengikuti aturan-aturan syariat di tempat umum. Mulai dari menutup aurat, tidak berkhalwat, menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, tidak memperjual-belikan barang-barang yang haram, hingga saling memelihara suasana ketaatan.

Keindahan alam dinikmati sebagai syi’ar menguatkan keimanan tentang kebesaran Allah Sang Maha Pencipta yang menciptakan segala sesuatu, termasuk keindahan alamnya. Tujuannya agar manusia semakin takjub terhadap Allah Sang Maha Pencipta dan melahirkan konsekuensi taat terhadap seluruh aturan-aturan Allah dalam kehidupan ini. Maka kembali kepada Islam dengan menerapkan syariatnya adalah bukti konsekuensi manusia sebagai mahluk yang juga diciptakan. Tidak ada aturan yang sempurna selain Islam, aturan yang murni langsung dari sang pencipta yang tidak ada cacat dan rusaknya. Wallahu a'lambishawab. (*)

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Umat

Baca Juga