Kapitalis Berperan Dalam Krisis Iklim Dunia

Foto: Kristi Widyastuti (Pemerhati Sosial)

Oleh: Kristi Widyastuti

Kalimantan disebut juga sebagai paru-paru dunia. Hutan di pulau Kalimantan yang cukup luas menjadi penghasil oksigen terbesar, sehingga Indonesia menjadi sorotan dalam acara Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP26) di Glasgow, Skotlandia yang berlangsung pada 30 Oktober sampai dengan 12 November 2021.

Dalam acara itu Presiden Jokowi menyampaikan Indonesia terus berkontribusi dalam penanganan krisis iklim, dan menekan kebakaran hutan hingga turunnya deforestasi.

Dikesempatan yang sama Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor mendapat undangan dari Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia menjadi salah satu narasumber di Conference of Parties (COP) United Nation Climate Change Conference (UNFCCC) ke 26. Sejalan dengan pernyataan presiden, Gubernur Isran Noor menyampaikan bahwa Kalimantan Timur tetap berkomitmen dalam pengurangan emisi karbon. (kaltimprov.go.id)

Penggiat Lingkungan dari Extinction Rebellion Bunga Terung Kaltim, Maulana Yudhistira menyampaikan pertemuan dan COP26 hanya membahas itu-itu saja, kata-kata besar dan janji palsu terus diutarakan tanpa aksi nyata dan seakan tidak mengerti sains sehingga membuat keadaan makin memburuk.

Menurut Maulana wilayah Kaltim menjadi tempat pengerukan dan penghancuran hutan yang masif dari tahun ke tahun. Padahal penyebab utama krisis iklim adalah pembongkaran hutan dan pembakaran energi dan 71% penyebab krisis iklim hanya disebabkan oleh 100 perusahaan dan sebagian diantaranya ada di Kalimantan Timur. (selasar.co/read/2021/10/30)

Inggris sebagai penyelenggara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) COP26 memberikan pernyataan melalui Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dalam pidatonya menyampaikan KTT COP26 berpotensi gagal. Ia menilai negara-negara masih belum memberikan target yang cukup untuk mengendalikan kenaikan suhu bumi agar tetap dibawah 1,5 derajat celcius. Johnson memperingatkan setiap negara harus bertanggung jawab atas emisi karbon dan berjanji menurunkan emisi mereka.

Pernyataan Boris Johnson ini muncul setelah Ia gagal membujuk Presiden Cina Xi Jin Ping untuk berkomitmen dalam menurunkan emisi karbonnya, Ia kecewa karena Cina merupakan negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia. (cakaplah.com/2021/11/02)

Penyelenggaraan KTT COP26 yang semestinya bertujuan untuk mengurangi emisi global seolah berbanding terbalik karena negara-negara yang tergabung dalam KTT COP26 justru merekalah penghasil emisi besar di dunia. Emisi karbon yang cukup besar dihasilkan oleh negara industri seperti Cina justru terang-terangan menolak menguranginya. Mereka para kapitalis industri tidak mau pendapatannya berkurang dengan menekan emisi karbonnya.

Peran kapitalis dalam mengeksploitasi alam dunia sangat besar. Mereka para pemilik modal mengambil penuh keuntungan dari alam serta dalam pelaksanaan ekonominya secara brutal, membuat alam semakin lama semakin rusak, bencana alam dan krisis iklim yang terjadi seperti saat ini.

Kalau negara-negara global menginginkan untuk menyelamatkan bumi di sektor lahan dan hutan harusnya dengan cara menekan jumlah deforestasi (penggundulan hutan). Selanjutnya rehabilitasi juga harus dilakukan dengan reboisasi (penanaman kembali), dan izin-izin pembukaan lahan dan hutan juga harus dihentikan. Bukan dengan terus melakukan pengerukan kekayaan alam dan pengrusakan hutan.

Sejatinya, krisis iklim yang terjadi disebabkan sistem kapitalisme yang mendominasi di semua negara saat ini. Sistem ini hanya terobsesi untuk mengamankan pendapatan dan keuntungan ekonomi, mengalahkan semua nilai kemanusiaan dan kebutuhan manusia, termasuk perlindungan lingkungan. Alhasil, hutan digunduli, berganti kebun kelapa sawit, sumber daya alam dikeruk, reklamasi dengan dalih pembangunan masif, pengabaian analisis dampak lingkungan dalam pembangunan dan seabrek "dosa" kapitalis terhadap lingkungan lainnya. Jadi, selama pemanfaatan serta pengelolaan sumber daya alam yang tersebut tidak sesuai dengan syariat tentu akan menyebabkan rusaknya alam dan lingkungan.

Syariat Islam menekankan bahwa dalam pengelolaan sumber daya alam dengan berbasis materialistik akan menyebabkan krisis iklim dunia, maka seharusnya negara di dunia dapat mengembalikan lagi kepada fitrahnya alam dan kehidupan sehingga alam seimbang dan terjaga kelestariannya.

Dalam Islam Al Qur’an menempati posisi sentral dalam memberi petunjuk pada jalan kebahagiaan dan kesejahteraan. Untuk mendapatkan keduanya umat manusia harus memperhatikan hubungan dirinya dengan tuhannya dan makhluk sosial. Selain itu umat manusia juga diharuskan mempunyai pola pikir bahwa lingkungan harus dipertahankan, dilindungi, dan dipelihara sebagaimana seharusnya agar tetap mampu menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan dan kesejahteraan. Baik kesejahteraan bagi tumbuh-tumbuhan, hewan, bahkan manusia sendiri.

Negara harus memiliki tanggung jawab mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam berdasarkan konservasi untuk mencapai kemakmuran agar terpenuhi seluruh kebutuhan umat manusia, dan saling menjaga lingkungan sekitar kita dalam konteks apapun. Dijelaskan di dalam Al Qur’an, bahwa manusia bertanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan lingkungan.

Hal tersebut termaktub dalam surah Al-Qhasas ayat 77 sebagai berikut:

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Artinya : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (***)

*) Penulis adalah Pemerhati Sosial

Baca Juga