Kajian Sosiolinguistik Penggunaan Bahasa Mostly ‘gaul’ di Kalangan Anak Jaksel

Ilustrasi

Oleh: Putri Fajar Aulia

Sebenarnya model penggunaan bahasa yang seperti itu tidak hanya terjadi pada mereka yang berada di kawasan Jakarta Selatan. Namun, di bagian Jakarta yang lain, bahkan luar daerah seperti Surabaya juga terjadi penggunaan bahasa seperti ini.

Namun, entah apa yang terjadi Anak Jaksel-lah yang pada akhirnya dilekatkan dengan fenomena ini. Kalau menurut saya sendiri, anak Jaksel sering dijadikan sebagai trend model para milenial mulai dari fashion hingga cara berbicara. Bahkan beberapa teman saya juga dari Jaksel mulai berbicara dengan bahasa yang tercampur-campur.

Hampir semua negara menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika bahasa Inggris begitu universal dan dianggap sebagai bahasa yang relatif mudah dipelajari.

Tidak terkecuali di Indonesia tentunya, bahkan bahasa Inggris dijadikan mata pelajaran wajib yang harus dipelajari oleh semua siswa di hampir semua jenjang sekolah bahkan sampai perguruan tinggi kita masih menemukan pelajaran bahasa Inggris.

Tapi apa jadinya kalau bahasa Inggris dicampur dengan bahasa Indonesia?
Mengenai hal itu, kita bisa melihat beberapa negara melakukan hal serupa. Contohnya adalah negara tetangga kita, Malaysia, hal ini sebagian besar disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah penyerapan kata-kata dalam bahasa Melayu yang umum digunakan sangat dipengaruhi oleh bahasa Inggris dan mengingat sejarah Malaysia yang pernah dijajah oleh Inggris meninggalkan pengaruh dalam bahasa.

Lalu mengapa hal tersebut dapat terjadi?, hal itu dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu ingin tampil beda, Komunikasi yang menggunakan lebih dari satu bahasa dalam satu kalimat dilakukan untuk membedakan diri dengan lingkungan dan orang lain. Apalagi di kalangan milenial, sebagian dari mereka memiliki pemikiran yang kekinian. Saya pribadi merasa lebih bagus menggunakan bahasa Inggris karena mungkin saya akan dianggap sebagai penutur bahasa Inggris yang fasih, tingkat sosial masyarakat, percampuran bahasa ini juga terjadi karena adanya faktor jarak kekuasaan atau dalam istilah komunikasi dikenal dengan istilah jarak kekuasaan.

Budaya dan masyarakat Indonesia menganggap bahasa Inggris sebagai bahasa yang unggul, Membawa lingkungan pertemanan ketika seseorang melakukan sosialisasi, pasti akan membawa beberapa perubahan. Milenial menjadi sangat cepat dalam perubahan karena pada usia tersebut mereka sedang mencari jati diri. Ketika mereka mungkin sudah terbiasa dengan gaya bahasa temannya, maka mulailah mencoba mencampuradukkan bahasa yang digunakan.

"Saya pribadi merasakan ini ketika lingkaran teman saya menggunakan 'bahasa anak-anak Jaksel', rasanya jika saya tidak mengikutinya maka saya akan tertinggal, kewajaran penggunaan kalimat yang melibatkan lebih dari satu bahasa merupakan hal yang wajar dan lumrah dalam dunia linguistik". Hal ini biasanya terjadi karena seseorang sedang belajar bahasa baru dan belum menguasai semua kosakata dalam bahasa tersebut. Misalnya dalam belajar bahasa asing, saya juga masih sering menggunakan kata-kata bahasa Indonesia ketika berbicara bahasa Inggris karena ada beberapa kosakata yang saya tidak tahu.

Namun kita sebagai kaum milenial, bisa berbahasa Inggris dengan baik itu nilai lebih, tapi alangkah lebih baiknya kita juga tidak merusak bahasa Indonesia itu sendiri, jangan sampai karena kebiasaan mencampuradukkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, bahasa ibu kita sudah lama terkikis dan terlupakan.

Indonesia sendiri tidak ada catatan pernah dijajah oleh Inggris, tapi fenomena percampuran bahasa ada di Indonesia lho. Fenomena ini baru terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah Jakarta Selatan. Anak kecil atau yang biasa kita sebut dengan millennials menggunakan bahasa Indonesia bercampur bahasa Inggris dalam kesehariannya, bahkan sebagian orang menyebutnya sebagai 'bahasa anak Jaksel'.

*) Penulis adalah Mahasiswa Aktif Universitas Pamulang