oleh

Junaidi Auly: Persoalan Ketersediaan Pangan di Indonesia Sangat Rumit

RadarKotaNews, Jakarta – Balai Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, pada November 2019 tingkatan inflasi bahan pangan (volatile food inflation) jauh berada di atas jenis inflasi lainnya.

Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi XI DPR RI, Junaidi Auly mengungkapkan, ketersediaan bahan pangan menjadi persoalan utama inflasi di Indonesia. Sehingga diperlukan formula khusus untuk menekan inflasi tersebut.

Bahkan, pada November lalu, beberapa komoditas pangan mengalami kenaikan harga yang signifikan seperti bawang merah, tomat, dan bayam.

“Kami berharap harga pangan bisa lebih stabil, kalaupun ada lonjakan harga tentunya tidak terlalu tinggi sehingga dapat terjangkau,” kata Junaidi dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (4/12/2019).

Lebih lanjut, Junaidi merasa, dengan adanya lonjakan harga tersebut harusnya dapat berkontribusi kepada kesejahteraan para petani.

“Tapi pada kenyataannya, lonjakan harga itu lebih dinikmati oleh distributor maupun rantai perdagangan lainnya,” jelas politikus PKS ini.

Junaidi melihat bahwa persoalan ketersediaan pangan di Indonesia sangat rumit.

“Dulu kita dijuluki negara agraris, sekarang banyak pemenuhan kebutuhan bahan pangan justru lewat impor. Tentu, hal ini berpengaruh terhadap ketahanan pangan di Indonesia dan stabilitas sosial hingga politik,” kata dia.

Lebih jauh, bagi Junaidi, lonjakan harga pangan yang naik setiap tahun berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan ekonomi lewat konsumsi rumah tangga.

“Jadi kalau harga pangan naik terus, maka rumah tangga harus menaikkan alokasi dana untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga alokasi dana lain semakin turun. Apalagi bagi masyarakat prasejahtera, hampir 50 persen dari pendapatannya tersebut untuk kebutuhan pangan. Jadi, stabilitas harga pangan menjadi sangat penting,” tutup Junaidi.(fy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed