Jeruk Makan Jeruk, Generasi Makin Terpuruk

Ilustrasi

Oleh: Arsilah

Dunia kembali terhenyak, ketika LGBT lagi-lagi mendapat panggung kebebasan, seolah- olah tak pernah habis berita tentang LGBT ini.

Siapa yang tak kenal dengan Deddy Corbuzier yang saat ini tengah ramai diperbincangkan netizen di media sosial. Pasalnya, belum lama ini Deddy mengundang Ragil Mahardika dan Frederik Vollert ke dalam podcast YouTubenya. Ragil Mahardika dan Frederik Vollert adalah pasangan gay yang saat ini tinggal di Jerman. Dalam video yang berdurasi sekitar satu jam tersebut, Deddy Corbuzier banyak membahas seputar kehidupan dan hasrat seksual seorang gay.

Dan Banyak netizen Indonesia yang justru kecewa dan mengolok-olok Deddy Corbuzier karena dianggap telah memberikan ruang ekspresi untuk pasangan LGBT. (lifestyle.sindonews.com/read)

Kaum LGBT ini semakin masif dan bebas, karena mendapat dukungan dari berbagai pihak, terutama Dukungan dari Unilever, perusahaan ini memihak gerakan lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ+).

Governance and Corporate Affairs Director Unilever Indonesia Sancoyo Antarikso mengatakan, Unilever beroperasi di lebih dari 180 negara dengan budaya yang berbeda. "Secara global dan di Indonesia, Unilever percaya pada keberagaman dan lingkungan yang inklusif," katanya dalam keterangan pers yang diterima, Jumat (26/6).

Sancoyo mengatakan, Unilever telah beroperasi selama 86 tahun di Indonesia. Unilever selalu menghormati maupun memahami budaya, norma, dan nilai setempat. "Oleh karena itu, kami akan selalu bertindak dan menyampaikan pesan yang sesuai dengan budaya, norma, dan nilai yang berlaku di Indonesia," katanya.

Unilever, perusahaan yang berbasis di Amsterdam, Belanda, pada 19 Juni lalu resmi menyatakan diri berkomitmen mendukung gerakan LGBTQ+. Hal tersebut disampaikan melalui akun Instagram. "Kami berkomitmen untuk membuat rekan LGBTQ+ bangga karena kami bersama mereka. Karena itu, kami mengambil aksi dengan menandatangani Declaration of Amsterdam untuk memastikan setiap orang memiliki akses secara inklusif ke tempat kerja," kata Unilever. Dan juga membuka kesempatan bisnis bagi LGBTQ+ sebagai bagian dari koalisi global. Selain itu, Unilever meminta Stonewall, lembaga amal untuk LGBT, untuk mengaudit kebijakan dan tolok ukur bagaimana Unilever melanjutkan aksi ini. (republika.co.id)

Mirisnya, selain perusahaan Unilever ternyata lima partai di DPR pun tidak mau ketinggalan, Dukungan kepada kaum nyeleneh ini pun di beri ruang.

Dalam kegiatan Tanwir I Aisyiyah di Surabaya, Sabtu (20/1), Zulkifli mengungkapkan bahwa terdapat lima partai yang tengah membahas rancangan Undang-Undang mengenai LGBT.

"Saat ini di DPR sedang dibahas soal Undang-Undang LGBT atau pernikahan sesama jenis. Sudah ada lima partai politik menyetujui LGBT," kata Zulkifli seperti dilansir Antara.

Namun, Zulkifli bergeming saat ditanya fraksi mana saja yang menyetujui LGBT. Zulkifli sama sekali tidak menyebutkan siapa saja lima fraksi tersebut dan memastikan bahwa Fraksi PAN di DPR menolak.
Pria yang juga menjabat Ketua Umum Partai PAN itu juga mengungkapkan bahwa hal tersebut disebabkan oleh kesenjangan politik di Indonesia di mana keinginan masyarakat berlawanan dengan keinginan DPR. (kumparan.com)

Tak sedikit seruan untuk memboikot produk Unilever, Mungkin boikot akan membuat Unilever berpikir sejenak untuk menarik dukungannya. Tapi sama sekali tak membuat gerakan ini berhenti. Selain Unilever, masih banyak sekali pendukung gerakan ini.

Di dunia internasional yang mengadopsi liberalisme hingga mendewakan kebebasan dalam konsep hak asasi manusia, LGBT memang mendapat dukungan kuat. Termasuk di Indonesia. Dan pemerintah Indonesia, tak mampu mengatasi semua dampak buruk perilaku ini. Tak mampu mengerem, apalagi menghentikan korban-korban berjatuhan. Bahkan LGBT telah berkembang menjadi gaya hidup. Pesta gay sering digerebek, namun para pelakunya dilepas kembali karena tak ada pasal pidana yang bisa menjerat mereka. Upaya menjerat mereka dengan hukum legal kandas di tangan MK yang menolak pemidanaan pelaku LGBT.

Sebagaimana kita ketahui, selama ini tidak ada aturan tegas yang melarang aktivitas LGBT, Kebiasaan buruk itu hanya dinilai sebagai penyimpangan seksual, bukan kejahatan. Walhasil, ketiadaan aturan membuat mereka terus berkembang. Oleh karena itu, untuk menghentikan penyebaran aktivitas ini, pemegang kebijakan tidak boleh jinak. Mereka harus berani mengambil keputusan karena LGBT dapat membahayakan bagi manusia. Selain dapat menghancurkan komunitas manusia, juga mendatangkan penyakit yang mematikan (HIV/AIDS).

Meluruskan Pandangan Tentang LGBT

Kaum LGBT adalah kaum yang mengikuti aktivitas umat Nabi Luth (liwath). Dahulu, Allah Swt. murka terhadap kebiasaan yang menyimpang dari fitrah manusia. Sang Penguasa Dunia pun membinasakan para pelaku liwath dengan membalikkan tanah dan melempari mereka dengan batu-batu dari api neraka. Sejarah mencatat hukuman pedih bagi pelaku dosa itu. Sayangnya, kini, peringatan Sang Pencipta tak menjadi alasan mereka untuk insaf. Dengan dalih kebebasan bertingkah laku dan hak asasi manusia (HAM), kaum pendosa itu justru makin mengibarkan eksistensi mereka.

Menurut kaum liberal, menjadi lesbian, gay, biseks maupun transgender adalah sebuah pilihan sebagai bagian dari hak asasi. Kalau pun kemudian muncul masalah, maka itu dianggap karena kurangnya pengaturan baik dari masyarakat maupun negara, bukan karena salahnya pilihan mereka. Ini jelas pandangan yang salah. LGBT bukan pilihan bagi orang normal, tapi pilihan bagi orang abnormal. LGBT adalah sebuah penyimpangan dari fitrah manusia.

Allah SWT memberikan kepada manusia berbagai naluri (gharaa’iz) yang di antaranya adalah naluri melestarikan keturunan (gharizah nau’). Naluri ini bisa dipuaskan oleh manusia dengan berbagai macam cara. Bisa juga dengan hubungan sesama jenis (homoseksual atau lesbian) atau bahkan bisa dipuaskan dengan binatang atau sarana lainnya. Tetapi, dari berbagai cara dan sarana tersebut, tidak mungkin mewujudkan tujuan diciptakannya naluri tersebut oleh Allah SWT kecuali dalam satu kondisi, yaitu pemuasan naluri tersebut oleh seorang laki-laki dengan seorang perempuan atau sebaliknya. Dan tentu saja itu dalam ikatan pernikahan syar’i, bukan zina.

Dengan itulah bisa tercapai tujuan penciptaan laki laki dan perempuan yaitu demi untuk kelangsungan jenis manusia dengan segenap martabatnya sebagaimana firman Allah SWT:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS an Nisa [4] : 1).

Oleh karena itu, perilaku LGBT adalah haram dalam pandangan Islam. Pelakunya dilaknat dan layak mendapat sanksi sesuai syariat Islam. Rasul SAW bersabda, “Dilaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (homoseksual).” (HR at-Tirmidzi dan Ahmad dari Ibnu Abbas).
Wallahu a’lam bishoab

*)Penulis adalah Pemerhati Sosial

Baca Juga