Islamophobia Semakin Merajalela Tanpa Solusi Yang Shahih

Poto: Milda, S.Pd (Aktivis Muslimah)

Oleh: Milda, S.Pd

Kepolisian India mengumumkan pada Sabtu (11/6/2022), bentrokan antara umat Hindu dan Muslim di India timur memakan korban dua remaja pada Jumat (10/6/2022). Bentrokan ini buntut dari pernyataan menghina yang dilakukan pejabat Bharatiya Janata Party (BJP) kepada Nabi Muhammad SAW.

Polisi melepaskan tembakan untuk membubarkan kekerasan di kota Ranchi di negara bagian Jharkhand. Hanya saja tidak jelas apakah penyebab kedua korban terbunuh oleh polisi atau oleh perusuh. Jha mengatakan, setidaknya 14 petugas polisi terluka dalam insiden di Ranchi dan daerah lainnya. Jam malam diberlakukan dan layanan Internet ditangguhkan untuk menghentikan kerusuhan yang meningkat. (www.republika.co.id)

Penghinaan terhadap kehormatan Islam, kaum muslim, dan Rasulullah terus berulang di sistem sekuler. Bagaimana tidak, para pengusung Islamophobia terus saja memperlihatkan kebencian terhadap umat muslim sampai hari ini seperti halnya yang terjadi di India, umat muslim di sana mendapatkan diskriminasi, seperti pelarangan penggunaan hijab bagi muslimah.

Bukankah demokrasi dan HAM yang di bangga-banggakan telah memberi hak kepada siapa saja untuk bebas berpendapat dan berekspresi? Namun mengapa Islam selalu menjadi korban kebiadaban para pembencinya? Belum lagi pernyataan jubir BJP Nuhur Sharma yang menyamakan Al-Qur'an dengan "bumi itu datar" dan menghina Nabi karena menikahi gadis belia Siti Aisyah.

Dengan berbagai macam kasus islamophobia ini, maka perlu dipertanyakan dimana persatuan dan kesatuan umat muslim dunia untuk menghentikan hal seperti ini terulang kembali? Bukanlah ini masalah bersama? Penguasa-penguasa di negeri dengan mayoritas penduduk muslim sepertinya hanya mampu sebatas mengecam dan memboikot produk-produk India. Semakin banyak kasus pelecehan terhadap Islam, semakin menunjukkan penguasa-penguasa muslim tidak berdaya.

Sistem kapitalisme benar-benar menjadikan agama sebagai bahan hinaan dan menjadikan penguasa muslim bungkam tak berdaya. Dalam kapitalisme tidak heran jika hal ini terjadi, sebab dengan sistem ini membuka lebar pintu kemungkaran, kriminalitas, ketidak adilan, kesengsaraan, maupun kejahatan-kejahatan lainnya yang mana para pemimpin muslim hanya mampu bersuara tanpa adanya bukti nyata dalam membela kaum muslim yang tertindas.

Seharusnya sebagai seorang muslim yang mengakui keesaan Allah dan Rasulullah sebagai utusan-Nya, tindakan tegas terhadap para pengusung islamofobia seperti memutus kerja sama antara sesama negeri-negeri kafir yang banyak menghina Islam perlu dilakukan, namun nampaknya selama sistem kapitalisme masih menjadi pijakan maka selama itu pula penguasa lumpuh tidak berdaya terhadap musuh-musuh Allah.

Para ulama sepakat bahwa hukuman bagi siapa saja yang menghina Nabi Muhammad sanksinya adalah hukuman mati. Seperti yang disampaikan Ibnu Taiminyyah Rahimahulullah dalam Sharimul Mashul sebagai berikut:

Orang yang mencela Nabi saw., baik muslim atau kafir, ia wajib dibunuh. Ini adalah mazhab mayoritas ulama. Ibnu Munzir mengatakan [bahwa] mayoritas ulama sepakat hukuman bagi pencela Nabi saw. adalah dibunuh. Di antara yang berpendapat demikian adalah Malik, AlLaits, Ahmad, Ishaq, dan ini juga merupakan pendapat mazhab Syafii. Ibnul Munzir juga berkata, ‘… dan diriwayatkan dari An Nu’man bahwa ia berpendapat pencela Nabi (jika kafir zimi) tidak dibunuh, karena justru mereka sudah memiliki hal yang lebih parah, yaitu kemusyrikan.’.” Yang bermakna, para pembenci Islam tidak akan mendapatkan kebaikan sedikitpun dan Allah tidak akan memberikan rahmat-Nya kepada para penghina Islam.

Dalam sistem Islam upaya yang harus dilakukan jika penghinaan terhadap Islam dilakukan oleh suatu negara adalah dengan berjihad. Dengan bersatunya umat muslim diseluruh dunia dalam satu sistem pemerintahan yakni Islam yang akan mampu menghentikan penghinaan dan pelecehan terhadap Islam, sehingga tidak akan terulang kembali hal yang serupa. Untuk itu seharusnya umat muslim menyadari bahwa agenda kita bersama adalah mewujudkan kembali sistem Islam dalam bingkai negara, yakni Khilafah. Sebab khilafah akan melindungi, menjaga, meriayah umat sehingga tidak akan ada lagi yang berani melecehkan Islam.

Maka untuk itu sadarlah, tidak ada jalan lain untuk keluar dari segala problematika kecuali hanya dengan Islam. Seperti penghinaan terhadap Islam yang tidak bisa diatasi jika hanya sekedar dengan pemboikotan produk, dll dan yang paling utama jika masih saja menerapkan sistem kapitalisme yang rusak dan bathil ini.

Lakukanlah perubahan wahai hamba Allah Ta’ala, bangkitlah dari pemikiran kapitalis-sekuler yang selama ini mencengkram di tengah-tengah umat! Semoga Allah Swt segera memberikan pertolongannya bagi para hamba-hambanya yang berjuang dalam menghidupkan kembali peradaban gemilang.

Sebagaimana firman Allah yang artinya, "Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?" (QS. Al-Maidah ayat 50). Wallahu Alam Bishowab.

*)Penulis adalah Aktivis Muslimah

Baca Juga