Islamofobia Semakin Menjangkit Kaum Intelektual

Aktivis Mahasiswa, Nadya Musmiatin (Ist)

Oleh: Nadya Musmiatin, SP

Baru-baru ini, Rektor Institut Teknologi Kalimantan atau ITK, Prof. Budi Santosa Purwokartiko menjadi sorotan, Prof. Budi menyebut mahasiswi berjilbab dengan istilah manusia gurun. Ucapannya itu dinilai rasis karena memuat unsur SARA.

Bahkan, Founder of Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi turut prihatin dengan tulisan yang dibuat Rektor ITK Balikpapan, Ismail menilai tulisan tersebut bisa masuk kategori rasis dan xenophobic. (Fajar.co.id, 01/05/2022)

Rasis: pembedaan berdasarkan ras (manusia gurun, Arab).
Xenophobic: benci pada orang asing (manusia gurun).

Tulisan memicu kontroversi itu diposting oleh Prof. Budi Santoso pada 27 April 2022 lalu. Belakangan status itu dipermasalahkan netizen, lantaran dianggap mengandung unsur SARA. Sebab guru besar dari ITK Balikpapan itu menyinggung perihal kalimat yang seringkali digunakan dalam ajaran Islam seperti, InsyaAllah, Barakallah dan Qadarullah. Berikut statusnya yang saat ini sudah dihapus di laman facebooknya.

“Saya berkesempatan mewawancara beberapa mahasiswa yang ikut mobilitas mahasiswa ke luar negeri. Program Dikti yang dibiayai LPDP ini banyak mendapat perhatian dari para mahasiswa. Mereka adalah anak-anak pintar yang punya kemampuan luar biasa. Jika diplot dalam distribusi normal, mereka mungkin termasuk 2,5 persen sisi kanan populasi mahasiswa. Tidak satu pun saya mendapatkan mereka ini hobi demo. Yang ada adalah mahasiswa dengan IP yang luar biasa tinggi di atas 3.5 bahkan beberapa 3.8, dan 3.9. Bahasa Inggris mereka cas cis cus dengan nilai IELTS 8, 8.5, bahkan 9. Duolingo bisa mencapai 140, 145, bahkan ada yang 150 (padahal syarat minimum 100). Luar biasa,"

Selain itu, mereka juga aktif di organisasi kemahasiswaan (profesional), sosial kemasyarakatan, dan asisten lab atau asisten dosen. Mereka bicara tentang hal-hal yang membumi: apa cita-citanya, minatnya, usaha-usaha untuk mendukung cita-citanya, apa kontribusi untuk masyarakat dan bangsanya, nasionalisme dan sebagainya.Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati. Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit: insaallah, barakallah, syiar, qadarullah, dan sebagainya. Generasi ini merupakan bonus demografi yang akan mengisi posisi-posisi di BUMN, lembaga pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta beberapa tahun mendatang.

"!Dan kebetulan dari 16 yang saya harus wawancara, hanya ada dua cowok dan sisanya cewek. Dari 14, ada dua tidak hadir. Jadi 12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar open mind. Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju, seperti Korea, Eropa Barat dan US, bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi”

Kebanggaan Prof. Budi atas kesempatan "tidak mewawancarai satu pun mahasiswi berjilbab seperti manusia gurun" bukan hanya tidak relevan dengan tugas yang sedang beliau laksanakan, tetapi bertendensi menimbulkan kecurigaan, terjadi praktik diskriminasi berdasarkan penampilan dan kepercayaan pribadi. Betapa ironis, ketika beliau memuji calon penerima beasiswa yang dianggap “open minded”, justru beliau sendiri dengan bangga mempertontonkan pemikirannya yang begitu sempit. Kontras dengan busana guru besar dan jabatan rektor yang dikenakan, jabatan tersebut kini seperti pakaian yang kebesaran bagi sebuah hati yang kerdil dan pikiran yang sempit.

Keangkuhan intelektual benar-benar mendominasi dari isi status tersebut, karena menilai prestasi unggul hanya dari prestasi akademik bahkan menganggap semestinya manusia cerdas adalah para penolak ketaatan pada agama.

Jelas sekali, bukti bahwa sekularisme telah merusak mentalitas kaum intelektual bahkan sekelas Rektor sekalipun.

Intelektual pengidap islamofobia seperti ini hanya muncul dalam sistem demokrasi yang mengagungkan kebebasan.

Berkebalikan dengan sistem islam yang melahirkan intelektual/ulama sebagai orang-orang yang paling besar ketundukan dan takut pada murka Rabbnya.

Wallahu’alam bish shawab

*) Penulis adalah Aktivis Mahasiswa

Baca Juga