Islamofobia Menggeliat, Islam Kian Tereduksi

Nur Rahmawati, S.Pd (Pendidik Generasi, Aktivis Dakwah)

Oleh: Nur Rahmawati, S.Pd

Ketakutan terhadap Islam atau Islamofobia tak hanya marak di kalangan masyarakat Barat di Amerika dan Eropa, melainkan pula di Indonesia.

Menghadapi serangan kelompok islamofobia, Wakil Ketua Majelis Tablig PP Muhammadiyah, Fahmi Salim menyebutkan bahwa tugas semua muslim untuk menjelaskan dan menampilkan Islam yang tidak seperti mereka takutkan.

Dilansir dari laman PP Muhammadiyah, di negara-negara Barat yang sekuler, terjadi fenomena islamofobia menurutnya itu bukan hal yang mengagetkan. Akan tetapi Islamofobia di negara dengan penduduk mayoritas Islam lebih mengkhawatirkan.

Fahmi Salim menyebutkan arus informasi serampangan yang ditampilkan media menyebabkan Islamofobia ini makin menggeliat. Banyak akun anonim yang memproduksi konten informasi bagi publik yang mendiskreditkan agama Islam. “Ada semacam kebencian, narasi-narasi hate space atau ungkapan ujaran kebencian,” tuturnya pada selasa (5/4) di acara Tausiyah Online yang diadakan Pimpinan Wilayah Muhammad (PMW) DI. Yogyakarta, dikutip dari muhammadiyah.or.id (7/4)

Agenda Islamofobia merupakan grand design Barat untuk merusak citra Islam. Tujuannya, supaya umat Islam antipati dengan agamanya sendiri. Bahkan tidak mau mempelajari lebih dalam tentang ajarannya. Sehingga bisa dipastikan umat Islam yang terbentuk adalah umat Islam yang sesuai dengan kehendak Barat. Yakni Islam yang sekadar ibadah spiritual semata. Bukan Islam sebagai pandangan hidup.

Islamofobia begitu masif di berbagai negara, karena Barat tak menginginkan Islam menjadi sumber dalam bernegara dan menggeser kedudukan Barat dalam kancah dunia. Isu ini pun begitu menjamur dalam sistem Sekularisme. Pasalnya, sekularisme berusaha memisahkan Islam dari kancah kehidupan dan ini in line dengan isu Islamofobia.

Dalam sistem sekularisme, negara selalu berusaha untuk meminimalisasi kegiatan yang berbau agama yang sekiranya dapat membangkitkan ghirah penerapan Islam. Sebut saja, kegiatan agama dicurigai, para ulama dan penceramahnya dicap radikal, dipersekusi bahkan dilarang untuk diundang mengisi pengajian. Acara pengajian dibubarkan dengan berbagai alasan namun konseR musik tetap boleh diadakan. Sungguh tidakadilan terlihat nyata.

Akhirnya radikal-radikul dimunculkan untuk menciptakan Islamofobia. Islam selalu dikaitkan dengan isu terorisme. Setiap pemberitaan mengenai teror sudah dapat dipastikan bahwa pelakunya memiliki simbol-simbol Islam. Opini jelek terus dimunculkan, terus dicari kesalahan-kesalahan dari umat muslim.

Sepantasnya para pemimpin muslim hendaknya tidak hanya mengecam Islamofobia tapi bertindak nyata mewujudkan kepemimpinan Islam agar umat memiliki kembali kepemimpinan Khilafah yang terbukti mampu menjadi perisai Islam dan kaum muslim. Dengan penerapan sistem yang berasaskan Alquran dan as sunnah maka akan mampu menjaga dan melindungi rakyat sehingga rakyat tentram dalam melaksanakan ketaatannya pada syariat.

Saatnya kita tunjukkan dan buktikan keimanan kita dengan mengambil islam kaffah agar rahmatan lil’alamin dapat terwujud. ”Wahai orang-orang yang beriman masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syetan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (TQS. Al-Baqarah: 208). Wallahu a’lam bi ash-shawwab

*) Penulis adalah Pendidik Generasi, Aktivis Dakwah