Indonesia, Negeri Layaknya Negeri Saba’ atau Tsamud?

Oleh: Nur Rahmawati, S.Pd

Media asing melaporkan skor ketahanan Indonesia terhadap Covid-19 berada di peringkat paling akhir. Artinya Indonesia disebut sebagai negara yang paling buruk dalam menangani Covid-19 di dunia.

Dalam laporan Bloomberg pada selasa (27/2), Indonesia menempati peringkat Ke-53 dari 53 negara di dunia. Tercatat, lebih dari 1.300 orang meninggal setiap harinya. Sekaligus rendahnya vaksinasi di Indonesia yaitu 11,9 persen dari total penduduk. (Tribunnews.com 31/7/2021)

Menurut Direktur pencegahan dan pengendalian penyakit Menular, Siti Nadia Tarmizi sebagaimana dirilis tvOne (31/7), tak ada jurus jitu untuk menangani Covid-19. Pasalnya pandemi ini bukan hanya permasalahan Indonesia saja. Melainkan semua negara pun sedang berupaya keras untuk keluar dari situasi ini.

Sepanjang tahun 2020 -2021 pemerintah Indonesia terus berupaya menangani Covid-19, termasuk dengan kampanye massal 5M. Yakni mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas. Pada akhir tahun 2020, pemerintah mulai menetapkan program vaksinasi nasional yang pengarusannya begitu massif hingga saat ini.

Beragam kebijakan dilaksanakan, tetapi tampaknya pandemi ini belum menemui titik akhirnya. Bisa jadi, kemungkinan mortality rate kembali meningkat. Tak ada yang tahu pasti. Dimungkiri atau tidak, kurva pandemi tak menentu dipengaruhi oleh “kegagapan” pemerintah dalam menangani pandemi.

Dengan kelambanan pemerintah dalam menangani pandemi, rakyat Indonesia termasuk rakyat yang masih begitu “nerimo”. Walaupun, mereka hakikatnya tertekan dengan kondisi saat ini. Berbeda dengan rakyat Tunisia yang melakukan demonstrasi besar-besaran karena kegagalan pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19.

Aksi tersebut sebagai bentuk kemarahan rakyat Tunisia yang mendorong Saied memecat Perdana Menteri Hichem Mechichi dan menangguhkan parlemen. Bahkan, militer pun mendukung aksi tersebut. Dari sini, kita melihat bahwa rakyat butuh satu gagasan yang solutif yang bisa menyelesaikan masalah pandemi ini. Terlebih Tunisia selama bertahun-tahun mengalami stagnasi ekonomi dan layanan publik yang memburuk. Sementara, para politikus hanya sibuk memperebutkan kekuasaan.

Saat Tunisia dihantam pandemi, kesulitan pun kian dirasakan. Bahkan makin terasa di wilayah-wilayah miskin seperti Jendouba, dimana vaksin sulit didapatkan. Kesalahan kelola selama bertahun-tahun ini yang kemudian menyebabkan gelombang protes besar-besaran. Namun, ke manakah perubahan itu akan beralih? Akankah hanya perubahan rezim semata dengan sistem yang sama? Sehingga tidak mewujudkan perubahan signifikan untuk rakyat Tunisia.

Perubahan Hanya dengan Islam
Perubahan bukan hanya dibutuhkan oleh Tunisia, melainkan Indonesia pun membutuhkan hal yang serupa. Bukan hanya perubahan rezim dengan sistem yang sama, yakni Politik Demokrasi dengan sistem pemerintahannya, Sekularisme - Kapitalisme. Faktanya, pangkal dari kegagalan penanganan pandemi ini karena asas yang digunakan pemerintah yakni paradigma Kapitalisme. Alhasil, butuh perubahan revolusioner yang bisa menuntaskan pandemi ini dengan penanganan yang cepat dan tepat. Karena bagaimanapun, penanganan pandemi dipengaruhi oleh paradigma politik pemerintah.

Islam sebagai sistem yang komprehensif punya jawaban atas berbagai problematika kehidupan saat ini. Pengaturan yang holistik dari hulu ke hilir, hakikatnya telah termaktub dalam nash syar’i, baik dalam Alquran maupun As-Sunnah. Juga terdapat Ijma Sahabat dan Qiyas yang menjadi rujukan untuk manusia.

Kehidupan masyarakat dengan Islam sejatinya telah kita lihat dalam goresan sejarah peradaban Islam yang berhasil menorehkan kegemilangannya selama kurang lebih 13 abad lamanya. Kesejahteraan masyarakat dirasakan sebagai hikmah atas penerapan syariat Allah Swt. Jika kita bercermin dari kisah negeri Saba’ yang termaktub dalam QS. As-Saba’: 15, sesungguhnya Allah akan menjadikan negeri dengan predikat “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” ketika masyarakat di dalam negeri tersebut beriman dengan totalitas. Artinya, tidak hanya dalam skala individu, tapi juga masyarakat juga negara.

Sudah banyak negara yang hancur diakibatkan mereka melalaikan syariat Allah. Atau bahkan menentangnya, seperti Kaum ‘Ad, Tsamud, dan lainnya. Lantas, apakah kita akan mengikuti jejak yang sama seperti kaum yang diazab Allah?
Wallahu a’lam bi ash-shawwab

*) Penulis adalah Komunitas anggota Revowriter, Anggota Forum Dakwah muslimah.

Penulis:

Baca Juga