IHSG Merosot: Saatnya Buy On Weakness?

Oleh: Via Putrisari

Sejak pasca lebaran, hari Senin (9/05) hingga Kamis (12/05) telah terjadi penurunan Indeks Harga Saham (IHSG) secara beruntun.

Perdagangan di sesi 2 hari Kamis (12/05) berada di level 6.599,84 (-3,17%) artinya sudah lebih rendah lagi dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Trend anjlok bukan hanya dialami oleh Wall Street saja, namun IHSG (Indeks Harga Saham) di Indonesia pun juga ikut anjlok. Anjloknya Wall Street diketahui dikarenakan The Federal Reserve System yang menaikan suku bunga acuan sehingga menekan IHSG. Kenaikan suku bunga The Fed telah di ramal pasar sejak lama.

Berdasarkan Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2022 mengalami pertumbuhan sebesar 5,01 % year on year (yoy) diatas Singapura, Tiongkok, dan Korea Selatan. Meskipun laporan pertumbuhan ekonomi masih sesuai dengan ekspetasi dan daya beli masyarakat juga masih terjaga.

Namun, laporan pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih belum bisa berdampak pada laju penurunan IHSG. Hal ini menyebabkan sejumlah investor mencari tempat aman di tengah sikap agresif The Fed dalam melawan kenaikan inflasi. Kenaikan suku bunga agresif memicu penguatan dollar Amerika. Investor cenderung melakukan panic selling.

Hal inilah yang membuat aksi jual asing secara masal hingga 2,7 Trilliun di seluruh pasar. Investor asing juga melepas saham-saham bluechip. Diantaranya yang paling berdampak adalah emiten perbankan. Salah satunya adalah BBCA yang anjlok dengan harga 7,275 per 12 Mei 2022 pada sesi terakhir.

Menurut Laporan Badan Pusat Statistik pada Senin (9/5/2022), menunjukan bahwa pada April 2022 tingkat inflasi di Indonesia meroket sebesar 0,95% (month to month/mtm). Kenaikan ini menjadi level tertinggi sejak Januari 2017.

Sedangkan jika dilihat secara tahunan (year on year/yoy), tingkat inflasi Indonesia meroket ke level 3,47%. Kenaikan ini merupakan tertinggi sejak Agustus 2019. Inflasi tahunan tersebut hampir mendekati target BI yaitu 2 - 4%. Kenaikan inflasi yang cukup signifikan membuat Bank Indonesia (BI) siap menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR). Bank Indonesia harus terus memonitor inflasi agar memberikan respon kebijakan yang tepat.

Di saat kondisi IHSG yang sedang melemah dapat menjadi kesempatan emas bagi para investor untuk Buy On Weakness. Strategi Buy On Weakness merupakan startegi yang dilakukan ketika pasar saham sedang melemah (bearish) yang ditandai dengan harga sejumlah saham sedang anjlok.

Secara sederhana, Buy On Weakness berarti membeli saham saat harganya murah namun bukan murahan. Murah yang dimaksud adalah terkait dengan nilai valuasinya, tidak selalu tentang nominal harganya. Investor wajib memperhatikan tolok ukur sebelum membeli saham. Investor dapat melakukan analisis secara fundamental maupun teknikal. Setelah melakukan analisis nilai valuasi saham dengan tepat dan melakukan Buy On Weakness akan mendatangkan prospek cuan bagi investor.

Menjadi seorang investor, ketika melakukan pembelian saham disaat pasar sedang turun tentu mengalami rasa panik sehingga perlu dilakukan money management yang tepat. Asumsikan jika investor memiliki 100% modal, maka investor dapat melakukan buy kurang lebih 20% saja terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar ketika pasar mengalami kenaikan, investor dapat merasakan keuntungan yang di dapatkan Sebaliknya, jika harga pasar sedang turun, investor masih punya amunisi untuk average down.

Jika melihat dari fenomena IHSG yang terjun saat ini yang menjadikan kondisi saham bluechip serentak merah merona, hal tersebut merupakan hal yang sangat jarang terjadi. Ini berarti bahwa tren turun masal ini pasti akan naik. Begitu juga sebaliknya. Jika ketika semua emiten serentak mengalami penurunan, emiten pasti akan rebound lagi. Begitu juga sebaliknya, ketika semua emiten serentak hijau (harga naik), emiten pasti akan turun. Itulah mengapa, tidak ada grafik yang berbentuk lurus. Begitulah polanya. Intinya sebagai seorang investor memanfaatkan momentum sangat penting di bursa.

Berbeda dengan reksadana pasar uang yang tidak terlalu terdampak dengan IHSG, tentu hal ini juga sangat menguntungkan untuk para investor yang ingin bermain dengan aman. Dengan return profit yang lumayan dapat menjadi pilihan untuk berinvestasi. Berdasarkan dari Laporan Bareksa, berikut adalah reksadana yang mengalami tren kenaikan :

  1. Reksadana pendapatan tetap : Sucorinvest Stable Fund (profit 7,59/ tahun)
  2. Reksadana Pasar Uang : Sucorinvest Sharia Money Market Fund (profit 4,5%/tahun), Sucorinvest Money Market Fund (profit 5%/tahun), Capital money market fund (profit 4%/tahun)

*) Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang

Penulis:

Baca Juga