Ibu Gorok Anaknya, Mengapa Hal itu Terjadi?

Photo, Devita Deandra (Aktivis Muslimah)

Oleh: Devita Deandra

Baru-baru ini, kejadian sadis dengan pelaku seorang ibu muda di Kompleks Sokawera RT 03/02 Desa Tonjong, Kecamatan Tonjong, Brebes, berinisial KU (35 tahun), yang tega membunuh anaknya yang masih 6 tahun, pada Ahad (20/3/2022). Menghebohkan publik. Tidak hanya itu, dua anak kandung lainnya bahkan juga nyaris jadi korban.

Peristiwa itu terjadi Ahad dinihari sekitar pukul 02.00 WIB. Korban meninggal merupakan anak kedua pelaku dan masih duduk di bangku kelas 1 SD. Pelaku juga sempat hendak membunuh 2 anaknya yang lain. Namun gagal karena 2 anaknya kabur dan sembunyi di kamar. Mereka berteriak sehingga mengundang warga untuk datang dan mendobrak pintu kamar.

Pelaku KU dalam sebuah pengakuannya di kantor polisi, dalam sel penjara, ia hanya ingin menyelamatkan anak-anaknya. Meski dengan cara yang salah, dia meyakini kematian anak-anaknya adalah jalan terbaik.

“Saya ingin menyelamatkan anak-anak saya biar enggak hidup susah. Enggak perlu ngerasain sedih. Harus mati biar enggak sedih kayak saya,” ujar pelaku.

Dia mengaku selama ini kurang kasih sayang. Dia mengaku sudah tidak sanggup lagi hidup dengan ekonomi yang pas-pasan. Apalagi, dia mengaku suaminya sering menganggur. “Saya ini enggak gila. Pengin disayang sama suami, suami saya sering nganggur," katanya. Republika.com

Tanggapan Islam

Sungguh miris!! kejadian ini bukanlah hal baru, tindakan sadis kepada anaknya karena alasan ekonomi, kesulitan hidup sudah pernah terjadi sebelumnya. Saat seorang ibu meracuni ketiga anaknya. Lebih mirisnya ibu rumah tangga di Pekanbaru, Riau, yang berinisial NSW (27) juga nekat menghabisi nyawanya sendiri, dengan gantung diri setelah sebelumnya meracuni ketiga anaknya pada 2020 lalu. Detik.com

Kasus serupa yang terus berulang, tentu membuat keprihatinan akan rendahnya taraf berfikir masyarakat saat ini, yang mana pola pikir manusia saat ini lebih cenderung menyukai hal-hal instan, termasuk dalam menyelesaikan persoalan hidup atau problem kehidupan. Tanpa berfikir bahwa sesungguhnya kehidupan ini telah memiliki aturan yang sedemikian rupa, dan sedemikian detailnya, sebab apa? kehidupan bukanlah suatu kebetulan melainkan kita hidup dengan melalui proses penciptaan. Artinya tidaklah mungkin sesuatu diciptakan tanpa tujuan dan aturan.

Namun begitu jauhnya kehidupan manusia saat ini dari penciptanya membuat kerusakan dimana-mana, termasuk rusaknya akal, pemikiran juga perasaan. Sebab standar ukuran baik dan benar hanyalah logika semata. Inilah buah dari penerapan sistem hidup yang sekuler atau memisahkan agama dari kehidupan. Aturan hidup yang memisahkan agama dari kehidupan, menuntut manusia yang lemah dan terbatas ini, mencari solusi dan berhak menentukan hidupnya sendiri.

Padahal manusia tidaklah mampu hidup sendiri, melainkan manusia butuh sesuatu yang tiada terbatas, siapa itu? Allah. Namun kehidupan sekuler ditambah paham-paham Kapitalisme, liberalisme. Menyebabkan manusia merasa lebih hebat dari penciptanya.

Sistem Kapitalisme yang tolok ukurnya adalah materi, maka kebahagiaan dan ketenangan hidup hanya dinilai ketika seseorang mampu memiliki apa yang mau dia miliki, termasuk menjadi orang yang bergelimang materi. Padahal kita tau kehidupan serba mewah dan serba ada nyatanya bukanlah penentu sebuah kebahagiaan. Sebab dunia fana, semakin dikejar semakin menjauh dan akan kita tinggalkan, yang membuktikan bahwa didunia tidak ada yang abadi. Dari sini membuktikan bahwa materi bukanlah segalanya.

Maka sebuah kerugian ketika manusia hari ini hanya fokus kepada materi, hingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kebahagian, termasuk juga dalam menentukan perbuatan yang melanggar syariat sebagai pilihan atau solusi seperti peristiwa baru-baru ini.

Memanglah karut marutnya kehidupan hari ini tak lepas dari abainya seorang pemimpin dalam mengayomi dan memberikan hak-hak rakyat atas kepemimpinannya. Kondisi kehidupan hari ini yang serba sulit, memanglah bukan tanpa sebab dan alasan. Disamping rendahnya taraf berfikir manusia yang jauh dari agama juga karena aturan atau sistem hidup hari ini yang terus menggerus keimanan hingga betul-betul iman itu tak lagi menjadi kekuatan/benteng pertama dalam hidup. Dalam kondisi kesempitan hidup, hingga abainya sebuah negara terhadap kebutuhan rakyatnya menjadikan kehidupan ini semakin terhimpit. Hingga muncullah manusia-manusia yang berfikiran sempit.

Hilangnya Fungsi Agama dan Negara

Melihat kejadian diatas tentu semua tak lepas dari peran penting negara yang kini tidak dijalankan. Negara yang seharusnya menjadi penjamin kebutuhan rakyatnya termasuk pekerjaan dan kebutuhan primer lainnya, namun negara dalam sistem Demokrasi tidaklah demikian. Alhasil saat ini kondisi rakyat dalam negeri yang kaya sumber daya alam ini mengalami kemerosotan ekonomi yang luar biasa. Ibarat kata pepatah yang miskin makin miskin.

Kebutuhan pokok termasuk pendidikan dan kesehatan juga bukanlah menjadi fokus utama negara untuk menyediakan segara gratis kepada rakyatnya, alhasil rakyat harus memutar otak hingga memeras keringat demi memenuhi kebutuhan tersebut, padahal dalam menyediakan kebutuhan sehari-hari saja saat ini, masih banyak rakyat negeri ini yang kesulitan. Baik itu karena tidak adanya pekerjaan atau karena memang tidak terjangkau oleh masyarakat. Semua tak lepas dari kebijakan negara. Sebab negara dalam Demokrasi hanyalah banyak janji.

Maka dari itu, semua ini butuh solusi fundamental. Mulai dari perbaikan akidah sampai perbaikan masalah ekonomi. Hingga fungsi pemimpin dalam sebuah negara. Jika melihat sistem Demokrasi yang telah gagal menciptakan orang tua yang sholih dan mampu menjadi orang tua sekaligus pendidik dan penjaga bagi anak-anaknya.

Tentu juga butuh solusi terkait perbaikan akhlaq dan aturan yang mampu menjaga akhlaq, yaitu aturan shohih yang bersumber dari pencipta manusia dan hidup, yakni sistem Islam kaffah dalam naungan negara Khilafah. Mengapa? sebab hanya dengan sistem Islam (Khilafah) lah aturan Allah dapat dijalankan dengan sempurna, Yang dengannya manusia akan terjaga akal dan pikirannya, juga perasaannya. Juga didukung oleh negara yang mampu memberikan edukasi juga memenuhi kebutuhan rakyatnya secara benar sesuai dengan yang telah syariat tetapkan.

Dalam sistem Islam tidaklah mungkin, segala bentuk kejahatan akan menjamur, sebab Islam menerapkan sanksi tegas terhadap para pelaku, sehingga orang-orang yang melihatnya pun akan berfikir untuk melakukan hal yang sama.

Selanjutnya seorang pemimpin didalam Islam juga wajib mengetahui kondisi rakyatnya, dan memberikan hak rakyatnya termasuk juga dalam menyediakan lapangan pekerjaan bagi para pencari nafkah (Suami). Negara juga wajib memberikan Perlindungan serta keamanan bagi setiap warga negaranya, belajar dari kasus yang ada, sudah selayaknya untuk sadar bahwa hidup dalam naungan sistem gagal membuat manusia dan hidup menjadi tak tentu arah.

Maka jelas solusi segala kerusakan adalah dengan kembali kepada jalan yang benar, yakni dengan kembali menerapkan sistem buatan yang maha benar. Wallahu A'lam

*) Penulis adalah Aktivis Muslimah

Baca Juga