HIV/AIDS dan LGBT Impor Peradaban Liberal – Sekuler Barat Mengancam Generasi

Ilustrasi

Oleh: Ummu Rahmi, S.Pd

Sebagai wujud kepedulian kepada masyarakat, PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melakukan edukasi terkait pencegahan dan bahaya HIV/AIDS dikalangan pelajar.

Tepatnya dilaksanakan di SMA Negeri 5 Balikpapan pada Selasa (22/11) berdasarkan data dari komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Kalimantan TImur, hingga taun 2019 jumlah pengidap HIV/AIDS diKaltim mencapai 7.286 orang dengan latar belakang yang beragam, termasuk golongan pelajar. (news.prokal.co)

Sungguh ironi, generasi muda di era digital 4.0-5.0 ini, wabah HIV/AIDS seolah sudah menjadi problem abadi. Kita mengakui bahwa HIV/AIDS adalah masalah serius yang mengancam generasi muda penerus masa depan bangsa. Untuk mencegah dan memutus rantai virus HIV/AIDS yang terus menjangkiti generasi tidak cukup hanya dengan edukasi pencegahan dan bahaya HIV/AIDS

Jika dicermati secara mendalam edukasi HIV/AIDS tidak boleh lepas dari akar masalah yang memunculkan persoalan ini hingga terus menyebar dikalangan generasi muda, yakni rusaknya sistem tata nilai kehidupan masyarakat saat ini karena impor paham liberal-sekuler yang terus eksis ditengah-tengah generasi. Dimana sejarah AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981, ketika Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat mencatat adanya Pneumonia pneumosistis (sekarang masih diklasifikasikan sebagai PCP tetapi diketahui disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii) pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles (https://id.wikipedia.org).

Ini membuktikan bahwa wabah HIV/AIDS adalah gejala yang melekat pada peradaban sekuler Barat, yang menulari generasi muda negeri ini. Penyakit berbahaya berasal dari kalangan berperilaku seks bebas dan menyimpang

Gaya hidup masyarakat dengan paham liberal-sekuler,memisahkan agama dari kehidupan dan serba bebas sejatinya pintu utama penyebaran HIV/AIDS. Paham liberal-sekuler telah menggiring generasi muda pada aktivitas maksiat; pacaran, seks bebas, narkoba, prositusi dan LGBT. Paham ini pun menjadikan para kaum LGBT memanfaatkan isu HIV/AIDS yang mengerikan ini agar mereka diterima secara hukum di negeri ini. Selain itu, paham ini pun telah menjadikan generasi muda objek komoditas seksual, konsumen produk industry hiburan dan media yang mendukung aktivitas pacaran maupun seks bebas,bahkan LGBT dan dengan ganasnya mental generasi secara perlahan tapi pasti makin terkikis dan krisis kepribadian yang jauh dari kepribadian yang taat dan berakhlak mulia.

Berkembangnya paham liberal-sekuler ini pun kian massif diterima dan merasuki generasi muda karena promosi gaya hidup paham liberal –sekuler melalui isu moderasi beragama. Isu moderasi beragama menjadikan generasi tak mengenal jati dirinya, bahkan menjadikan liberalism (kebebasan) sebagai jalan hidup, tujuan hidup. Dengan moderasi beragama menghantarkan generasi pada pemahaman yang bebas menerima segala budaya-budaya Barat yang merusak, seperti halnya perilaku menyimpang LGBT. Akhirnya generasi banyak yang salah arah tujuan hidup dan krisis identitas/jati diri, yang membuat generasi berperilaku dan tanpa sadar menjadi penyebar perilaku menyimpang. Jelas kondisi ini mengancam keberlangsungan masa depan generasi sebagai pemimpin masa depan Bangsa.

Hancur dan rusaknya generasi memungkin SDAE mudah dijarah oleh para kaum capital global yang haus akan keuntungan sebesar-besarnya dengan berbagai macam cara, kendati mengorbankan masa depan generasi. Watak paham liberal-sekuler menjadi ancaman yang mendorong generasi dalam jurang kepunahan dengan menjadikan generasi muda sebagai SDM yang berada dalam kendali para kapitalis global untuk mengkonsumsi segala produk –produk peradaban liberal-sekuler Barat yang merusak generasi, seperti miras, kondom, konser dan hiburan mengumbar kemaksiatan dan narkoba. Sungguh miris.

Harus disadari bahwa obat bagi generasi dan umat saat ini agar terhindar dari dari wabah HIV/AIDS dan LGBT ini sesungguhnya hanyalah Islam. Dengan menerapkan aturan Sang Pencipta, Allah SWT, yang melarang seks bebas (perzinaan), kemaksiatan dan penggunaan khamr (termasuk narkoba), . Terkait larangan zina, Allah SWT berfirman:

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا

Janganlah kalian mendekati zina karena zina itu perilaku keji dan jalan yang amat buruk (QS al-Isra’ [17]: 32).

Allah SWT juga memberlakukan hukuman yang amat keras bagi pelaku zina, yakni hukuman cambuk (QS an-Nur [24]: 2). Nabi saw. bahkan memberlakukan hukuman rajam sampai mati atas pezina yang pernah menikah. Hukuman yang berat juga harus diberlakukan atas para pengguna narkoba. Selain memang barang haram, narkoba terbukti menjadi alat efektif dalam penyebarluasan HIV/AIDS. Dalam syariat Islam memberikan azab yang pedih bagi pelaku LGBT sebagaimana kisah kaum Nabi Luth. Kisah ini banyak terdapat dalam firman Allah. Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Abbas ra. Nabi Muhammad SAW bersabda;

Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya” [HR. Tirmidzi dan yang lainnya, dishahihkan Syaikh Al-Albani]

Dengan hukuman tersebut, orang yang akan melakukan perilaku menyimpang seks bebas, pacaran, dan LGBT berfikir seribu kali sebelum melakukannya. Selain itu, semua jenis industri seks bebas, hiburan atau media yang mempromosikan perilaku menyimpang dan narkoba harus diberantas habis.

Penting mengubur akar persoalannya, yakni paham liberalism-sekularisme, kemudian menggantinya dengan akidah dan sistem Islam. Penerapan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan baik sistem hukum, social, pendidikan, politik dan ekonomi, sebagaimana peradaban gemilang Islam yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para khalifah yang terbukti menjamin kehormatan, menjaga dan melindungi generasi emas, kuat, pemimpin peradaban. Sudah saatnya pemerintah dan seluruh komponen bangsa ini segera menerapkan seluruh aturan-aturan Allah (syariah Islam) secara total dalam seluruh aspek kehidupan, dalam institusi Khilâfah ‘yang berdasarkan metode kenabian. Institusi yang akan menjadi pelindung/perisai sekaligus obat bagi generasi dari ancaman wabah HIV/AIDS, LGBT dan berbagai penyimpangan perilaku lainnya. . Wallâhu a’lam bi ash-shawâb

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Umat

Baca Juga