Hilangnya Empati di Tengah Badai Pandemi

Foto: Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd. (Pemerhati Masalah Sosial dan Politik)

Oleh: Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd.

Bintang Emon memberikan reaksi menohok atas pernyataan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD yang sering menonton sinetron Ikatan Cinta.

Bagi komika 25 tahun ini, apa yang disampaikan Mahfud adalah tanda sang menteri tak memiliki empati kepada rakyat Indonesia yang tengah kesulitan akibat pandemi Covid-19. Bintang Emon sendiri tak menyebut nama dalam pernyataannya di sebuah video yang ia unggah di Instagram. Namun tentu semua orang sepakat apa yang diucapkan Bintang Emon mengarah kepada Mahfud MD.

Menurut Bintang Emon, pernyataan Mahfud MD itu seharusnya tak perlu di sampaikan ke publik, karena kondisi negara kita yang tengah krisis dan banyak orang susah akibat PPKM Darurat. Hal itu disampaikan Bintang sambil mesem-mesem dan sesekali tertawa. "Jadi wajar aja menurut gue kalau pak menteri nonton sinetron. Tapi poinnya menurut gue, nggak usah cerita-cerita, kan sekarang situasi lagi kritis," kata Bintang Emon.

Bintang Emon mengatakan, sejatinya tidak etis menteri yang mengadakan sejumlah kebijakan malah terlihat santai dan nyaman menjalani masa PPKM di kediamannya. Sementara, sebagian rakyat merana akibat kebijakan yang ditetapkan pemerintah. "Ada yang dagangannya dirazia nih, nggak boleh kerja, ada oknum galak. 'Saya habis nonton sinetron'. Bapak yang memangku kebijakan, bapak yang bertanggungjawab, terus ngaku lagi nonton sinetron kan lucu," ungkap Bintang Emon.

Menurut Bintang Emon, seharusnya para menteri ikut turun tangan membantu masyarakat yang terkena dampak dari kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah. Bukan malah memperlihatkan kehidupannya yang makmur. "Jangan kelihatan banget makmurnya. Jam 7 udah ada di depan TV, padahal ada yang jam 7 dagangannya ditarik karena udah nggak boleh dagang," ujar Bintang Emon.

Kicauan Mahfud MD tersebut memantik cibiran publik lantaran cerita keseruan menonton sinetron Ikatan Cinta di tengah banyaknya korban yang tumbang akibat pandemi Covid-19. Mahfud MD mendapatkan berbagai kritikan dan cibiran dari publik terkait cuitannya itu. (suara.com/2021/07/17)

Di masa kegemilangan peradaban Islam, harum semerbak kemahsyuran para pemimpinnya mengular hingga kini, bagaimana luar biasanya sikap mereka ketika diamanahi suatu jabatan. Umar Bin Khaththab ra., sahabat Nabi Muhammad SAW, diangkat sebagai khalifah kedua umat Islam menggantikan Abu Bakar Asyiddiq melalui musyawarah di antara para sahabat.

Umar Bin Khaththab ra justru menangis, karena baginya jabatan yang diamanahkan kepadanya amatlah berat. Di masa kepemimpinan Umar Bin Khaththab ra, Islam mengalami kemajuan yang pesat. Persia dan Romawi takluk di bawah bendera Islam. Umar Bin Khaththab ra. sohor sebagai
pemimpin yang tegas dan sederhana.

Contoh yang lain lagi, Umar Bin Abdul Aziz, salah satu khalifah Islam dari Dinasti Bani Umayyah dan masih keturunan dari Umar Bin Khaththab ra. melalui garis ibu. Saat dibaiat jadi khalifah menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik, Umar Bin Abdul Aziz tidak langsung menyanggupi. Dia menangis, memasukkan kepalanya dalam dua lututnya sambil berujar :

"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rajiuun. Demi Allah, sungguh aku tidak meminta urusan ini sedikitpun, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan".

Umar Bin Abdul Aziz dikenal sebagai pemimpin yang sederhana. Di bawah pemerintahannya, umat Islam berhasil disatukan. Sama seperti Umar Bin Khaththab ra., Umar Bin Abdul Aziz juga dikenal sebagai pemimpin yang gemar mengunjungi rakyatnya. Pencapaian kaliber spektakuler dalam sejarah kepemimpinannya, bahkan dunia pun tak sanggup melupakannya, kesejahteraan yang merata melingkupi warga negaranya sehingga sampai-sampai tidak ditemukan warga yang berhak mendapatkan zakat. (m.merdeka.com)

Mari bandingkan dengan para pemimpin era milenial? Ketika mereka tahu akan diamanahi suatu jabatan, menangiskah mereka bersimpuh memohon ridho dan pertolongan Allah SWT? Ketika tangan kanan mereka menyentuh Al-Qur'an dan bersumpah atas nama Allah SWT saat dilantik jabatan, sungguhkah mereka berjanji untuk benar-benar mengayomi masyarakat sebagai bagian dari ketaatan mereka atas perintah Allah Azza Wa Jalla?

Pemimpin kaliber Umar Bin Khaththab ra. dan Umar Bin Abdul Aziz hanya bisa dihasilkan ketika Islam dijadikan dasar hukum dalam mengatur semua lini kehidupan negara. Islam sebagai agama paripurna, tidak hanya memandu aspek spiritual, tetapi juga politik, dari bangun tidur sampai bangun negara! Para pemimpinnya sangatlah bersungguh-sungguh dalam meresapi dan mengamalkan sabda Rasulullah SAW :

"Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya." (HR. Muslim dan Ahmad).

Mengapa para petinggi era milenial seolah tak berhati? Inilah buah penerapan sistem kapitalisme sekuler, sistem yang kuat menggerus rasa empati yang secara fitrah semestinya ada dalam jiwa, menjadi pemuja materi tak bertepi, ditambah lagi mendudukkan ajaran agama (baca : Islam) tak lebih dari sekadar pengatur aspek ruhiyah semata. Sehingga ketika bersumpah di atas Al-Qur'an pun, sebatas memenuhi syarat seremonial belaka. Karena kebijakan maupun aturan yang dibuat, tidak berlandaskan kitab yang mereka berjanji atasnya.

Maka sudah tiba saatnya, sistem kapitalisme sekuler dibuang ke keranjang sampah peradaban! Karena dianya justru menghilangkan martabat dan kemuliaan manusia dengan menghamba kepada hawa nafsu, bukan kepada Allah SWT. Walhasil, keberkahan pun menjadi enggan singgah, tinggallah wabah yang telah sedemikian lama betah bertahan.

Hanya dalam sistem Islam, manusia akan kembali kepada fitrah penciptaannya, sebagai hamba yang hanya menyembah Allah SWT, yang Maha Tahu yang terbaik bagi ciptaan-NYA, sehingga gemetarlah sekujur tubuh para pemimpin, ketika mendengar doa Rasulullah SAW :

"Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia; dan siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia." (HR. Muslim dan Ahmad). Wallahu'alam.

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Politik

Baca Juga