oleh

Heboh Bela Palestina, Setelah Itu Apa!!!

PENOLAKAN terhadap pengakuan Amerika Serikat atas Yerusalem sebagai Ibukota Israel tidak hanya terjadi di Indonesia, hampir diseluruh negara, utamanya yang Islam menentang hal itu. Lantas, bagaimana nasib Palestina sekarang?

Negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) telah selesai menggelar Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa di Istanbul, Turki. Para delegasinya juga sudah kembali ke negara masing-masing.

Dalam KTT itu, OKI mendorong Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk segera mengeluarkan resolusi menolak pengakuan Amerika Serikat atas Yerusalem sebagai Ibukota Israel. Apakah desakan itu mujarab?

OKI nampaknya lupa, atau OKI hanya pura-pura menentang Amerika Serikat. Sebab di dalam PBB, Amerika Serikat adalah salah satu anggotanya. Bahkan, negara berjuluk “Abang Sam” itu, satu dari lima negara yang memiliki hak veto. Hak yang dapat membatalkan keputusan PBB.

OKI justru mirip paduan suara, penuh retorika, kutukan, dan setelah itu kembali sepi. OKI hanyalah sekumpulan “macan ompong” yang tak pernah menjadi kekuatan riil di pentas diplomasi dunia.

Tidak ada harapan konkret yang ditawarkan, tidak ada inisiatif keadilan, dan tentunya tidak ada masa depan bagi rakyat Palestina.

Buktinya, setelah KTT Luar Biasa OKI, tak ada satupun dari 57 negara anggota yang berani bergerak lebih jauh. Semisal, memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika, atau tindakan yang lebih “gila”, seperti menggagas boikot minyak kepada AS.

Tak ada yang terjadi, Saudi tetap saja membom Yaman bukan Israel, memboikot Qatar dan Iran bukannya AS. Jadi buat apa OKI?

Tidak hanya negara-negara OKI, negara di dunia yang menyatakan menolak, menentang, bahkan mengecam Presiden AS, Donald John Trump hanyalah sekedar pemanis politik.

Semua tau soal Deklarasi Balfour. Inggris adalah pendiri Israel. Dalam Deklarasi Balfour, dokumen Arthur Balfour, tertera “warga Yahudi berhak memiliki tanah sendiri di Palestina”.

Jadi, kalau Inggris menyatakan tidak setuju atas kebijakan Donald Trump yang secara sepihak mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel, itu Dusta.

Bahkan secara politik, Inggris memiliki hubungan dengan Israel. Buktinya ada Kedutaan Besar (Kedubes) Israel di Inggris.

Hal serupa juga berlaku bagi Turki, Mesir, dan negara-negara lainnya. Selama ada Kedubes Israel di suatu Negara, maka penolakan terhadap ucapan Trump bisa disebut Dusta. [***]

Saeful Anwar
*Penulis adalah mantan Jurnalis media Nasional

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed