Hari Lansia, Negara Gagal Sejahterakan Orang Tua

Nur Rahmawati, S.Pd (Pendidik Generasi, pemerhati masalah pendidikan)

Oleh: Nur Rahmawati, S.Pd

Tanggal 29 Mei lalu merupakan peringatan Hari Lansia, Penetapan hari lansia ini sebagai wujud kepedulian dan penghargaan kepada manusia lanjut usia. Berdasarkan Undang-Undang No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan Lansia, Lansia adalah orang yang berusia 60 tahun ke atas.

Sebagai wujud dari penghargaan terhadap orang lanjut usia, pemerintah membentuk Komnas Lansia (Komisi Nasional Perlindungan Penduduk Lanjut Usia), dan merancang Rencana Aksi Nasional Lanjut Usia di bawah koordinasi Kantor Menko Kesra. Komnas Lansia dibentuk berdasarkan keppres Nomor 52 tahun 2004 dan bertugas sebagai koordinator usaha peningkatan kesejahteraan sosial orang lanjut usia di Indonesia. Rri.co.id (29/05/2022).

Dilihat dari sejarah sebelumnya, Hari Lanjut Usia Internasional (Internasional Day of Older Persons) ditetapkan sidang Umum PBB setiap 1 Oktober berdasarkan resolusi No. 45/106 tanggal 14 Desember 1990. Penetapan hari lansia internasional merupakan kelanjutan dari Vienna Internasional Plan of Action on Aging (Vienna Plan). Vienna Plan itu diputuskan di Wina tahun 1982 dengan resolusi No. 37/1982, yang melahirkan kesepakatan untuk mengundang bangsa-bangsa secara merata menetapkan hari lanjut usia.

Kemudian Hari Lanjut Usia Nasional di Indonesia dicanangkan secara resmi pada 29 Mei 1996 oleh Presiden Soeharto. Hal itu untuk menghormati jasa Dr. KRT Radjiman Wediodiningrat yang di usia lanjutnya memimpin sidang pertama Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang saat itu beliau sudah berusia lanjut.

Adanya peringatan hari Lansia harusnya berkorelasi dengan kesejahteraan para lansia di negeri ini. Bukan sebatas seremonial belaka tanpa ada dampak apapun bagi kehidupan mereka. Namun, jika kita lihat khususnya di negara Indonesia ini apakah dengan memberi penghargaan berupa peringatan hari lansia akan menambah kebahagiaan mereka dan sudah membuat lansia sejahtera?

Berdasarkan laporan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 29,3 juta penduduk lansia di Indonesia pada 2021. Angka ini setara dengan 10,82% dari total penduduk seluruh populasi. Dari jumlah tersebut, tercatat masih banyak lansia yang tergolong tidak sejahtera. Jika dilihat dari status ekonomi, mayoritas atau 4,29 % penduduk lansia berasal dari rumah tangga dengan kelompok pengeluaran 40% terbawah, kemudian persebarannya juga banyak berada di kelompok pengeluaran 40% menengah, yaitu sebesar 37,4%. Adapun yang berada di 20% teratas hanya sebanyak 19,31% masih banyak lansia yang berada pada kondisi ekonomi rendah.

Hal ini perlu menjadi perhatian karena lansia bukanlah usia produktif untuk bisa bekerja. Apalagi dengan bertambahnya rasio ketergantungan lansia, maka terdapat beban yang harus ditanggung untuk membiayai kehidupan para lansia. Selain itu pemerintah perlu berupaya untuk memberikan akses terhadap layanan kesehatan karena lansia rentan untuk terkena penyakit.

Seperti di Tasikmalaya, ada 28.000 lansia tunggal (hidup sendiri). Banyak lansia yang kekurangan disebabkan beberapa hal, ada yang ditinggal oleh anaknya, ada pula yang memang sudah tidak punya keluarga. Hal itu terjadi di berbagai wilayah, tidak hanya di Tasikmalaya. (Kompas.com, 29/5/2022)

Permasalahan lansia tidak akan pernah selesai hanya dengan memberi bantuan saja. Ibarat luka terus diobati, namun penyebab dari luka tersebut dibiarkan. Alhasil luka itupun tak akan kunjung sembuh karena penyebab utamanya tidak diselesaikan. Pun dengan permasalahan lansia. Permasalahan lansia sangat erat dengan tingkat kesejahteraan. Mendapat penghidupan yang layak atau bahkan tempat tinggal yang lebih manusiawi. Tapi tetap saja dengan meroketnya kebutuhan pokok, kebutuhan hidup kian sulit terpenuhi.

Lansia termasuk rakyat yang harus dipikirkan keberadaannya dan mereka adalah makhluk Allah yang sudah tidak bisa apa-apa. Inilah yang harus dipikirkan dan menjadi kewajiban negara untuk mengurusnya. Butuhnya peran negara memberikan jaminan hari tua serta menciptakan tempat yang kondusif agar lansia hidup bahagia dan sejahtera sampai akhir hayatnya. Tetapi hal ini tidak didapatkan di sistem kapitalis.

Berbeda jauh dengan sistem Islam dimana Islam datang memberikan jaminannya. Islam dengan dasar akidahnya dan seperangkat aturannya akan membentuk situasi yang kondusif sehingga rakyat akan memahami dimana tanggung jawab mereka. Contoh, seorang anak akan memahami kewajibannya ketika orang tua sudah lanjut usia. Dengan dorongan berbakti kepada orang tua, maka mereka akan merawatnya.

Islam juga memiliki cara membentuk lingkungan yang kondusif, mulai dari orang tua memberi pengasuhan yang baik untuk anaknya, juga memperhatikan dan mendidiknya. Selain itu juga menyediakan sekolah yang menjadikan Islam sebagai landasan sehingga sejak kecil anak akan tertanam pemahaman berbakti kepada orang tua serta terjaga dari pemahaman asing. Wallahu a’lam bi ash-shawwab

*) Penulis adalah Pendidik Generasi, pemerhati masalah pendidikan

Baca Juga