Harga Melambung, Masyarakat Berat Menanggung

Pemerhati Masalah Ummat, Siti Nur Ainun Ajijah (Ist)

Oleh: Siti Nur Ainun Ajijah

Berawal dari naiknya harga minyak makan kemudian disusul oleh harga kebutuhan pokok lainnya akhirnya menuai komentar banyak dari masyarakat. Begitu juga Anggota Komisi IX DPR RI Kurniasih Mufidayati menilai pemerintah memberikan kado akhir tahun berupa kecilnya kenaikan Upah Minimum (UM) yang tak sebanding dengan melambungnya harga kebutuhan barang pokok.

Menurutnya, kebijakan UM yang ditetapkan melalui metode perhitungan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja tersebut hanya memiliki rata-rata kenaikan satu persen saja. Akhirnya masyarakat lagi yang dikorbankan.

Menurut Anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) DPR RI ini, selain barang pokok, kenaikkan juga terjadi pada harga gas elpiji non-subsidi, yang diikuti dengan rencana kenaikan tarif listrik dan penghapusan BBM jenis premium di pasar. Secara jangka panjang, kondisi ini akan berdampak, khususnya, bagi ibu rumah tangga yang selama pandemi terus terhimpit berbagai masalah ekonomi.

Selama pandemi ini, ibu rumah tangga, harus merangkap sebagai guru bagi anak-anaknya yang mengikuti pembelajaran daring, merangkap pula sebagai tenaga kesehatan saat anggota keluarga ada yang terpapar Covid-19. Bahkan, juga harus menjadi pekerja karena pendapatan suami yang menurun atau bahkan ditinggal wafat karena terpapar Covid-19. (dpr.go.id/berita/detail/id)

Fakta hari ini bagaimana kondisi masyarakat sedang bener-bener sulit terlebih masyarakat bawah yang sungguh sangat terasa dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok. Bahkan tidak hanya bahan kebutuhan pokok, tetapi juga naiknya harga kebutuhan lainnya. Sebelumnya pemerintah sudah menaikkan harga gas LPG nonsubsidi. Begitu juga dengan rencana naiknya harga tarif listrik nonsubsidi. Bahkan ada rencana penghapusan premium dan pertalite. Ini menjadi kabar buruk bagi masyarakat yang selama pandemi covid ini terus terhimpit dari berbagai masalah terlebih ekonomi. Kondisi yang semakin menambah derita dimasyarakat bahkan dapat dipastikan akan semakin menambah angka kemiskinan dimasyarakat.

Menyikapi kondisi ini perlu digali apa yang menjadi pokok permasalahan sehingga dapat dicari solusi tuntasnya. Penerapan sistem kapitalisme yang diemban negeri inilah yang menjadi akar masalahnya. Sebab dalam sistem kapitalisme, kemajuan ekonomi ditentukan oleh besarnya investasi, pertumbuhan ekonomi dan lain-lain. Akibatnya yang diuntungkan adalah para pengusaha sebab merekalah yang dipandang pencipta kemajuan ekonomi. Sementara kondisi masyarakat yang serba susah dan kekurangan tidaklah menjadi ukuran. Kondisi yang tentu tidak diinginkan oleh semua masyarakat. Semakin menambah beban hidup masyarakat bukan malah berkurang tetapi justru malah bertambah setiap harinya.

Tergambar jelas kerusakan akibat penerapannya karena capaian sistem ini adalah sebanyak-banyaknya materi tanpa memikirkan akibat apa yang dihasilkan dari penerapannya. Terbukti dengan kondisi saat ini yang semakin sulit, begitu juga masalah lainnya yang semakin bertambah. Hal ini karena sistem ini jelas tidak sesuai dengan fitrah manusia.

Sistem sekuler kapitalisme ini lahir dari aturan yang dibuat oleh manusia yang memiliki sifat lemah dan terbatas. Terlebih lagi setiap  manusia juga memiliki kecenderungan sehingga wajar jika sistem ini tidak akan pernah menjadi solusi untuk permasalahan masyarakat. Sistem ini juga tidak akan pernah bisa mensejahterakan masyarakat. Sistem yang hanya akan memihak kepada para kapital (pemilik modal) tanpa peduli dengan kemaslahatan orang banyak seluruhnya.

Islam agama sekaligus ideologi sempurna umat manusia yang aturan didalamnya mencakup seluruh kebutuhan hidup manusia. Terlihat sempurnanya dari bagaimana Islam mengatur masalah aqidah, ibadah, makanan, pakaian, bernegara, dan masih banyak aturan lainnya.

Seperti Firman Allah Azza Wazalla:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ 

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. ” (Q.S. Al-Maidah ayat 3)

Begitu juga Islam dalam mengatur pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Islam memandang umat adalah bagian dari tanggung jawab penuh negara begitu juga dalam pemenuhan kebutuhan pokoknya yang disini Islam menjamin kebutuhan pokok setiap umat manusia. Islam sangat mendorong kemajuan dan pertumbuhan. Dalam hal ini Allah menjelaskan terkait macam kebutuhan pokok yang harus terpenuhi pada setiap individu.

Firman Allah SWT:

وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۗ

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf" (TQS. Al-Baqarah: 233).

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ

Di dalam ayat yang lain disebutkan, "Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu" (TQS Ath-Thalaq :6).

Kedua ayat ini dan ayat-ayat senada lainnya menunjukkan bahwa kebutuhan pokok setiap individu rakyat adalah makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Berdasarkan hal ini politik ekonomi Islam merupakan politik ekonomi yang berpihak kepada kebutuhan rakyat. Tidak boleh ada seorangpun yang terabaikan kebutuhan pokoknya. Sehingga yang menjadi indikator utama maju tidaknya perekonomian bukanlah pertumbuhan, inflasi,dan lain-lain. Melainkan berapa banyak pengangguran, berapa banyak jumlah penduduk yang tidak memiliki tempat tinggal yang layak, berapa banyak jumlah orang yang tidak mendapatkan makanan yang layak, dan berapa penduduk yang pakaiannya jauh dari yang semestinya.

"Negara wajib memastikan terpenuhinya kebutuhan tersebut disamping kebutuhan lainnya, dan hal tersebut hanya akan terealisasi dalam sistem Islam."

Kembali kepada Islam adalah pilihan terbaik saat ini disamping konsekuensi sebagai seorang muslim untuk taat kepada syariatnya. Aturan yang lahir dari sang pencipta yaitu Allah SWT Tuhan semesta alam yang tidak akan pernah ada cacatnya dan sudah pasti sesuai dengan fitrah manusia sehingga sangat mudah sekali untuk diterapkan. Sehingga keberkahan dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat dapat tercapai. Wallahu a’lamu bis-shawwab.[***]

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Umat

Baca Juga