oleh

Golkar Untuk Indonesia

Oleh: Azis Syamsuddin

PUJI syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena berkat rahmat dan hidayah-Nya juga, Musyawarah Nasional Partai Golkar ke X bisa terlaksana lancar dan berkualitas.

Salah satu yang cukup menuai pujian dalam perhelatan Golkar kali ini adalah atmosfirnya yang demikian cair, sejuk dan konstruktif. Bahkan sebagian pendapat mengatakan bahwa Munas Golkar kali ini adalah yang paling sejuk sejak reformasi.

Hal itu wajar, mengingat dalam beberapa perhelatan Munas terakhir, Partai Golkar selalu diuji dengan sejumlah masalah pelik sebagai akibat dari dinamika kompetisi sengit antar kadernya.

Sebagai partai terbesar dengan jumlah kader tersebar di seluruh propinsi dan kota di Indonesia, tidak mengherankan bila dampak dari terbulensi internal Partai Golkar tersebut juga terasa secara langsung terhadap stabilitas politik dalam negeri.

Ini sebabnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutannya dalam acara pembukaan Munas ke X Partai Golkar mengatakan bahwa internal Partai Golkar harus solid dan sejuk. Karena negeri ini sedang dalam visi menuju Indonesia maju, yang menitikberatkan targetnya pada sektor ekonomi, pembangunan sumber daya Manusia, dan pembangunan infratrukstur. Untuk itu, semua elemen bangsa ini harus bersatu dan menjaga stabilitas politik dalam negeri, agar iklim investasi menjadi kondusif.

Terkait amanat Presiden tersebut, kita patut memberi apresiasi pada segenap kader Partai Golkar karena berhasil mementaskan sebuah perhelatan politik yang bermutu tinggi.

Meski dinilai sejuk, namun bukan berarti Munas kali ini minim dinamika. Karena bagaimanapun, Golkar adalah salah satu partai terbesar yang berisikan kader-kader terbaik bangsa. Nuansa persaingan dan kompetisi tentu tak mungkin dihilangkan dari identitas partai ini.

Realitas Partai Golkar yang seperti itulah yang membuat sebagian kalangan menilai bahwa Munas Golkar akan berlangsung panas. Namun bila melihat proses dan output yang lahir dari Munas kali ini, maka bangsa ini bisa berbesar hati.

Sebab apa yang diparadekan oleh para kader Partai Golkar dalam munas tersebut, jelas menunjukkan bahwa Partai Golkar sudah menapaki tangga kedewasan dalam berpolitik. Perbedaan pendapat tidak melahirkan turbulensi politik ataupun konflik. Alih-alih, perbedaan tersebut justru terelaborasi baik dalam sejumlah produk keputusan yg berkualitas.

Dalam perhelatan Munas ke-X ini, Partai Golkar mengacu pada asas musyawarah untuk mufakat sebagai identitas khas demokrasi Indonesia. Dan sebagaimana layaknya suatu keputusan yang diambil melalui mekanisme musyawah mufakat, Munas Partai Golkar justru menjadi ajang yang merekatkan soliditas kader, menyerap aspirasi secara penuh, dan menghasilkan keputusan-keputusan bermutu tinggi.

Salah satunya, disarikan dalam visi-misi Ketua Umum Partai Golkar terpilih untuk periode 2019-2024, Airlangga Hartarto. Visi tersebut dinamakan Eka Trio, yang memuat tiga target utama, yaitu: 1) membangun Jati diri kader (penataan sistematis terhadap seluruh tatanan organisasi Partai Golkar); 2) penguatan kepribadian kader (secara konsisten menuntaskan persoalan setiap kader partai, berdasarkan nilai kemanusiaan dan kesetiakawanan); 3) penyaluran aspirasi publik (mengutamakan suara rakyat dengan memastikan setiap aspirasi publik disalurkan dengan cepat dan tepat).

Ketiga visi tersebut, diturunkan dalam bentuk misi, yang disebut sebagai Eka Sapta, yang terdiri dari: kaderisasi berdasarkan riset, ilmu pengetahuan dan data yang valid; rekrutmen sistematis dan berkesinambungan, difokuskan pada kelompok pemilih pemula; meningkatkan kapasitas pejabat publik dan mempercepat lahirnya pimpinan masa depan; membangun komunikasi politik yang intensif, efektif dan efisien; memastikan kader perempuan memiliki akses, peran, dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi maksimal dalam seluruh lini organisasi; dan memodernisasi pengelolaan basis massa politik baru.

Di bawah kepemimpinan bapak Airlangga Hartarto, kepengurusan partai periode ini akan “Mengembalikan khitah Partai Golkar sebagai partai yang berkarya dan membangun berazaskan Pancasila, UUD 1945 dan NKRI.”

Melalui visi misi tersebut diharapkan Partai Golkar tidak sekedar menjadi rumah aspirasi rakyat, tapi juga sebagai madrasah politik yang mencetak kader-kader terbaik umtuk memimpin bangsa ini di masa depan. Lebih dari itu, tidak berlebihan bila penulis juga berharap, Partai Golkar akan menjadi rahim bagi lahirnya budaya politik Indonesia modern.

Pada skala yang lebih luas, yaitu peta perpolitikan nasional, kita tentu berharap, apa yg sudah dipentaskan oleh Munas Partai Golkar bisa menjadi role model kompetisi politik secara nasional. Dimana semangat musyawarah dan mufakat menjadi asas yg melambari setiap keputusan yg diambil, adanya pemahaman yang sama tentang kepentingan kolektif, dan semangat gotong-royong untuk memenangkan tujuan bersama. Dengan demikian, visi Presiden Jokowi untuk membawa bangsa ini menjadi lima besar kekuatan ekonomi dunia di tahun 2045 bisa terwujud sebagaimana mestinya. Wallahu a’lam bishawab. (fy)

*Penulis adalah Wakil Pimpinan DPR RI Bidang Korpolkam

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed