Gencarkan Wisata Maratua Lewat Musik Jazz: Incar Untung atau Malah Buntung?

Maratua Island

Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd

Maratua merupakan destinasi wisata bahari dengan pesona alam memukau di Kalimantan Timur.

Wisatawan menyebut bahwa Maratua merupakan serpihan surga yang diberikan Tuhan Sang Pencipta kepada Kalimantan. Maratua menghadirkan destinasi wisata dan hamparan pasir putih dan pesona bawah lautnya yang menakjubkan.

Maratua tak kalah indah dan unik dibanding pulau lain di Indonesia, termasuk Bali. Maratua berada dalam gugusan Kepulauan Derawan Kabupaten Berau, salah satu pulau terluar di Kalimantan Timur yang berbatasan dengan Filipina Selatan dan Sabah, Malaysia Timur.

Sebagai bentuk komitmen terhadap kemajuan pariwisata, Pemkab Berau mendukung penuh festival musik bertajuk Maratua Jazz yang bakal digelar di Pulau Maratua tahun depan.

Dengan digencarkan wisata Maratua lewat musik jazz diharapkan mampu mengincar untung, tidak hanya nasional tetapi di kancah internasional. Selain itu, sebagai upaya mengganti sumber daya yang sudah tidak dapat diperbaharui lagi. (Beraupost.co, 5/11/2022)

Sebelumnya, gencarnya pemerintah terhadap kemajuan pariwisata bisa dilihat dari kehadiran Bandara Kalimarau di Tanjung Redeb dan Bandara Maratua. Maratua memang digadang-gadang akan menjadi destinasi wisata unggulan untuk Ibu Kota Negara (IKN) baru nanti. Tak ayal pariwisata Maratua pun semakin digencarkan demi "memikat" pengunjung nasional maupun mancanegara. Salah satunya, melalui festival musik jazz. Namun, di balik digencarkannya pariwisata Maratua akankah untung yang diincar atau malah sebaliknya buntung?

Bahaya Di balik Digencarkannya Pariwisata

Untung yang diraih berupa pendapatan daerah dari digalakkan pariwisata sebenarnya tidak sebanding dengan buntung yang didapat rakyat. Mengundang wisatawan ke Pulau Maratua justru merugikan rakyat, seperti kemaksiatan dan liberalisasi pun terjadi.

Pariwisata sebagai sumber pendapatan negara justru menjadikan tempat wisata sebagai obyek kapitalisasi. Dibenak pemerintah hanya berupa materi atau untung yang diincar, tak peduli merugikan masyarakat sekitar dengan masuknya pemikiran liberal dan gaya hidup yang sangat membahayakan kehidupan sosial masyarakat.

Pengelolaan pariwisata dalam sistem kapitalis sekuler saat ini memang semakin menjauhkan agama dari kehidupan. Seakan agama tidak mengatur bagaimana pariwisata yang benar tanpa harus mengundang buntung alias bahaya.

Sistem Kapitalis sekuler saat ini memang menjadikan pariwisata sebagai sumber perekonomian. Apapun akan dilakukan demi kepentingan ekonomi dan bisnis. Meski untuk itu, harus berdamai dengan praktik kemaksiatan bahkan kesyirikan. Devisa didapat tidak sebanding dengan dosa yang mengundang murka dan bencana. Naudzubillah .

Pariwisata dalam Islam

Pariwisata tanpa terikat dan diatur syariat Islam hanya akan mengundang buntung atau bahaya. Tujuan pariwisata dalam Islam bukan hanya untuk meraih materi berupa manfaat, pendapatan dan kesenangan semata.

Dalam Islam pariwisata dikembangkan untuk meningkatkan ketakwaan umat Islam dan sarana dakwah bagi umat lain. Terkait keindahan alam misalnya Maratua maka akan dimanfaatkan untuk tadabur alam, betapa indahnya ciptaan Allah.

Pariwisata meski bisa menjadi salah satu sumber devisa, namun dalam Islam tidak akan dijadikan sebagai sumber perekonomian negara. Tujuan utama dipertahankan pariwisata hanya sebagai sarana dakwah. Negara tidak akan mengeksploitasi pariwisata untuk kepentingan ekonomi dan bisnis.

Ada empat sumber tetap bagi perekonomian dalam negara Islam, yaitu pertanian, perdagangan, industri dan jasa. Keempat sumber inilah yang menjadi tulang punggung bagi negara dalam membiayai perekonomiannya. Negara juga mempunyai sumber lain, baik melalui pintu zakat, jizyah, kharaj, fai’, ghanimah hingga dharibah. Semuanya ini mempunyai kontribusi yang tidak kecil dalam membiayai perekonomian negara.

Dengan demikian hanya Islam sebagai negara yang mampu mensejahterakan rakyat. Islam tidak akan berharap pada pariwisata yang justru mengundang bahaya.

Negara dalam Islam akan membuat potensi SDAE yang melimpah dikelola dengan benar. Negara juga akan mengembangkan sektor lain seperti pertanian, industri, teknologi, dll sehingga membuat masyarakat sejahtera tanpa berharap pada sektor pariwisata.

Demikianlah pariwisata dalam Islam hanya untuk menambah keimanan. Berbeda sekali dengan pariwisata saat ini yang dijadikan ajang bisnis meski mengundang bahaya dan mengikis keimanan.
Wallahu’alam ...

*) Penulis adalah alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin

Baca Juga