Galau Dengan Adanya Larangan Mudik?

Devita Deandra, Aktivis Muslimah

Oleh: Devita Deandra

Rencana kebijakan larangan mudik menambah panjang daftar kekecewaan rakyat terutama para pengusaha Transportasi. Pasalnya. Nasib pengusaha transportasi, termasuk perusahaan bus, bakal mengalami kesulitan akibat larangan mudik Lebaran 2021.

Kebijakan yang rencananya akan diberlakukan pemerintah mulai 6 sampai 17 Mei mendatang ini mendapat tanggapan dari Iqbal Tosin, selaku pengurus Ikatan Pengusaha Bus Indonesia, yang mengeluhkan larangan mudik Lebaran 2021. Menurut dia, perusahaan otobus akan mengalami kerugian miliaran karena itu.

"Mudik tahun ini tahun kedua (ada pelarangan) akibat pandemi Covid-19," ucap Iqbal pada Kamis, 15 April 2021.

Dia berharap, bukan larangan mudik lebaran yang diterapkan melainkan pengendalian mudik lebaran. Sebab larangan mudik lebaran dapat mengakibatkan bisnis mereka berhenti. "Kami perkirakan pengusaha otobus akan mengalami kerugian sekitar Rp 18 miliar."

Asosiasi pun berharap pemerintah memberikan solusi agar perusahaan bus bisa beroperasi saat Lebaran 2021. Komunikasi dengan Kementerian Perhubungan pun terus dibangun.

Menurut Iqbal Tosin, pemerintah dapat belajar dari larangan mudik Lebaran 2020 sehingga banyak mobil pribadi atau travel gelap yang memanfaatkan situasi. Di sisi lain pengusaha bus yang memiliki izin operasi malah rugi besar. Tempo.co

Kerancuan pelarangan mudik di tengah kondisi saat ini memang membuat galau, bahkan terbilang aneh. Pasalnya pelarangan ini hanya berlaku bagi angkutan umum, sedangkan angkutan ilegal tetap beroperasi. Anehnya lagi di sisi lain pemerintah malah mengizinkan sektor pariwisata dibuka saat lebaran. Hal demikian tentu akan mengakibatkan banyaknya pengunjung yang entah mematuhi protokol kesehatan (prokes) atau tidak. Belum lagi tidak semua tempat wisata memenuhi standar kelayakan dengan menyediakan tempat cuci tangan atau prokes lainnya. Sehingga bila dibandingkan dengan angkutan umum, kemungkinan terjadinya penyebaran virus Covid-19 lebih rentan terjadi di tempat wisata.

Namun juga bukan berarti mudik pun aman, Namun, mudik pun tetap beresiko baik dari segi kecelakaan lalu lintas maupun penyebaran virus Covid-19, alasannya karena kualitas dari angkutan umum banyak yang tidak layak pakai. Jalur lalu lintas yang digunakan rentan terjadi kecelakaan akibat minimnya fasilitas pengaman, seperti penerangan jalan, pembatas jalan, lampu lalu lintas dan lain-lain. Dan itu terbukti dari tingginya tingkat kecelakaan yang terjadi, terlebih saat arus mudik.

Hal ini pun menjadi dilema yang sering terjadi setiap tahunnya. Dan semua ini bukanlah tanpa alasan, ini semua terjadi sebab aturan yang dipakai adalah aturan buatan manusia, maka kebijakan yang dihasilkan pun berdasarkan hasil dari pemikiran manusia yang terbatas. Aturannya tidak baku, tergantung nafsu dan kepentingan manusia yang membuat aturan tersebut. Termasuk kebijakan mudik tahun ini. Seperti tahun lalu, pemerintah melarang mudik tapi membolehkan pulang kampung. Melarang angkutan umum beroperasi tetapi angkutan online dan ilegal luput dari pengawasan. Sekolah diliburkan, tempat ibadah dibatasi dan dijaga ketat sedangkan tempat wisata dan mall dibuka. Maka wajar, wabah ini bukannya menurun malah semakin meningkat dan hal ini mengakibatkan lumpuhnya negara di hampir semua aspek kehidupan.

Sistem Kapitalis yang di terapkan juga telah menjadikan negara gagal dalam menjamin kebutuhan dan urusan rakyatnya. Karena dalam sistem kapitalis kebijakan diambil bukan untuk kesejahteraan rakyat, melainkan untuk kesejahteraan para penguasa dan pengusaha tertentu saja. Solusi yang diambil dalam mengatasi masalah hanya bersifat preventif berdasarkan fakta yang ada saat itu tanpa dicari akar masalah yang sebenarnya. Negara hanya sebagai regulator dalam penyelesaian masalah alhasil terkesan tidak serius.

Sungguh berbeda dengan aturan Islam. Dalam Islam, negara berfungsi sebagai pelindung dan pengurus rakyatnya. Negara juga bertanggung jawab akan seluruh kebutuhan rakyatnya. Dalam perekonomian, khilafah menjamin kebutuhan primer dan menjamin lapangan pekerjaan sehingga rakyat tidak perlu banyak yang pergi ke luar kota untuk mencari pekerjaan dan meninggalkan kampung halaman. Dengan demikian dalam suasana menjelang lebaran pun akan sedikit pemudik. Khilafah juga menjamin transportasi publik yang aman dan nyaman juga fasilitas jalan umum yang memadai sehingga kecelakaan lalu lintas dapat dihindari.

Itu semua sebab Khilafah menerapkan aturan yang berasal dari Al-Quran dan Al-Hadis sehingga tidak ada yang dirugikan dan tidak mungkin ada dilema maupun kegalauan di dalamnya. Kesejahteraan juga akan dirasakan oleh seluruh rakyat tanpa terkecuali. Keadilan akan diterapkan baik kepada pejabat maupun rakyat. Keamanan akan diperoleh baik oleh orang kaya maupun miskin. Alangkah indahnya bukan hidup dalam naungan Islam kaffah, dan itu semua telah Allah janjikan akan ada kembali, tidakkah kita rindu hidup dalam naungannya? maka dari itu kembali kepada syariat adalah jawabannya. Wallahu a'lam

*) Penulis adalah Aktivis Muslimah

Baca Juga