oleh

FITRA: Kemenkes Gagal Tender Diduga Ada Mark Up Dalam pengadaan Obat ARV

RadarKotaNews – Kementrian kesehatan di nilai mengalami gagal tender untuk pengadaan obat ARV, karena ketidak sepakatan harga antara pemerintah dan perusahaan farmasi yang memiliki ijin edar obat tersebut yaitu PT. Kimia Farma dan PT. indofarma.

Begitu di katakan Sekjen Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA),  Misbah Hasan dalam konferensi pers bertajuk “Menelisik Anggaran HIV/AIDS, Antara Monopoli dan potensi korupsi pengadaan obat ARV,” yang gelar oleh Seknas Fitra, di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (19/9).

Menurut Misbah, Fungsi obat ARV memiliki dua persen yaitu menghambat perkembangan dan aktivitas virus, artinya terapi ARV begitu penting bagi ODHA. Sebab, ODHA harus mengkonsumsi ARV tepat waktu karena apabila tidak dikonsumsi secara disiplin maka berpotensi membuat virus menjadi resisten.

“Konsumsi ARV secara teratur bisa membuat pengidap HIV memiliki angka harapan hidup setara dengan orang yang tidak terinfeksi HIV. Dengan gagalnya tender pengadaan obat ARV bisa mengganggu terapi pengobatan yang dilakukan oleh ODHA.”jelas Misbah

Sementara, Advokasi Seknas FITRA, Gulfino menilai Pendanaan untuk pengadaan obat ARV ada di indonesia berasal dari 2 sumber yaitu obat ARV bersumber dari APBN dan sumber dan GF. Dana obat melalui APBN disediakan oleh Dirjen Binfar akses dengan produsen tunggal yaitu PT. Kimia Farma (KF) dan hanya memproduksi 5 jenis ARV lini.

“Melihat selisih harga yang diluar kewajaran, seknas fitra menilai ada indikasi mark up dalam pengadaan obat ARV. Pemerintah dibuat tidak berdaya oleh dua perusahaan farmasi yang mengantongi ijin edar obat ARV,”ungkap Gulfino.

“Persoalan monopoli dan dua poli dalam pengadaan obat juga ditemukan juga pada layanan obat BPJS, karena monopoli pengadaan obat maka harga obat melambung tinggi.”jelasnya.(Wawan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed