Fenomena Maraknya Kekerasan Dalam Pacaran Remaja

Ilustrasi

Oleh: Yuliana S.Sos

Kekerasan dalam pacaran seperti fenomena gunung es.

"Korban malu untuk bercerita, akhirnya hanya bisa memendam sendiri dan bisa berpengaruh pada psikologi korban juga". Pendapat ini di sampaikan Wakil Ketua I DPRD Berau Syarifatul Syadiah.

"Makanya peran orang tua sangat dibutuhkan, bagaimana mengawasi perkembangan anak. Apalagi saat ini, budaya barat sudah terlalu jauh masuk Indonesia, termasuk Berau. Batas-batas pacaran sudah jarang terlihat".(Berau Post, Sabtu, 7/01/2023)

Keresahan pergaulan bebas remaja saat ini sangat memilukan. Dimana banyak kasus kekerasan tejadi bermula dari pacaran. Kekerasan yang dialami bukan hanya kekerasan fisik tetapi juga kekerasan verbal termasuk pelecehan seksual. Pacaran memang telah menjadi pintu perzinahan dan dosa besar lainnya. Bahkan kehamilan yang tak diinginkan selalu berujung aborsi.

Pergaulan bebas semakin marak dalam sistem kapitalisme sekuler saat ini. Tidak ada batasan pergaulan, anak dibiarkan pacaran oleh orang tua bahkan bangga ketika anaknya punya pacar dan merasa takut ketika anaknya tidak punya pacar. Kekerasan dalam pacaran bahkan hamil adalah akibat liberalisasi.

Nilai-nilai sekuler dan liberal telah menghiasi kehidupan pemuda saat ini. Gaul bebas menjadi kebiasaan. Tidak ada perasaan takut melakukan seks bebas.

Mereka tak berpikir panjang dan takut akan konsekuensinya.

Penyebabnya:

Pertama, lemahnya keimanan. Sistem sekuler menyebabkan agama tidak mengatur aspek kehidupan manusia. Termasuk dalam sistem pergaulan. Akibatnya, masyarakat gaul bebas tanpa batas. Ketika iman lemah, nafsu terus membuncah. Mudah melakukan dosa dan kemaksiatan.

Kedua, lingkungan yang rusak. Akhirnya kemaksiatan sudah menjadi kebiasaan. Aktivitas amar makruf nahi mungkar atau saling mengingatkan oleh masyarakat pun melemah.

Ketiga, media turut menjadi pendorong maraknya seks bebas. Misalnya menjamurnya gambar atau video berbau porno yang mudah untuk diakses di internet. Media sosial menjadi sarana menyebarkan konten negatif.

Solusinya pun tak cukup hanya dengan menangkap dan menghukum pelaku. Pasalnya, sebelumnya saja sudah banyak kasus serupa terjadi. Tidak menutup kemungkinan akan muncul kasus lainnya.

Masalah ini harus diselesaikan dengan solusi tuntas. Tidak lain adalah dengan diterapkannya sistem pergaulan Islam. Sistem pergaulan Islam akan mengatur hubungan atau interaksi lawan jenis. Islam jelas melarang perilaku pacaran karena merupakan aktivitas mendekati perzinaan. Sebagaimana firman Allah Swt. Dalam QS. Al-Isra ayat 32 yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”.

Islam juga melarang aktivitas khalwat yakni berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dalam suatu tempat yang tidak memungkinkan orang lain masuk kecuali atas izin keduanya. Selain itu larangan ikhtilat atau campur baur tanpa ada hajat syar’i (kebutuhan yang diperbolehkan syara').

Interaksi antara lawan jenis hanya terjadi pada aktivitas yang diperbolehkan syara'. Misalnya muamalah (transaksi jual beli), pengajaran, pengobatan dan peradilan.

Islam akan mencegah semua pintu perzinaan. Termasuk media atau tontonan yang membangkitkan syahwat akan dicegah. Penerapan sistem islam akan membuat suasana keimanan meningkat termasuk individunya. Hal ini akan mampu mencegah individu berbuat maksiat karena adanya masyarakat yang akan saling mengingatkan.

Selanjutnya, dipertegas dengan penerapan sanksi. Islam menetapkan sanksi bagi pezina muhsan (sudah menikah) adalah dengan dirajam atau dilempar batu hingga mati. Sementara, pezina ghair muhsan (belum menikah) didera 100 kali dan diasingkan selama 1 tahun.

Dengan demikian sangat penting untuk segera menerapkan syariat islam secara kaffah dalam institusi negara. Hal ini agar generasi muda terbebas dari kekerasan dan pergaulan bebas. Islam benar-benar menyelesaikan permasalahan ini secara tuntas. Wallahu a’lam bishshawab.

*) Penulis adalah Pemerhati sosial

Baca Juga