Fanatisme Berujung Hilangnya Nyawa Ratusan Orang

Foto: Milda, S.Pd (Pemerhati sosial masyarakat)

Oleh : Milda, S.Pd

Pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya menimbulkan duka mendalam bagi dunia pesepakbolaan Indonesia. Ratusan Aremania dinyatakan meninggal dunia dan lainnya mengalami luka-luka akibat kejadian ini.

Muhammad Riandi Cahyono merupakan salah satu Aremania yang turut menjadi korban dalam tragedi tersebut. Dia dan kekasihnya sengaja menyaksikan pertandingan tersebut dengan mengendarai motor dari Blitar. "Sekarang saya tidak tahu di mana pacar saya, belum ketemu sampai sekarang," ucap pria yang berusia 22 tahun tersebut di RSUD Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Ahad (2/10/2022). Pada saat kejadian, Riandi tak menampik ikut turun ke lapangan bersama Aremania lainnya. Hal ini semata-mata untuk menyampaikan protesnya karena Arema FC kalah dengan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan. (m.republika.co.id)

Sejarah mencatat dunia persepakbolaan mengalami kejadian tragis yakni terenggutnya nyawa lebih dari seratus korban jiwa, rata-rata akibat fanatisme terhadap golongan yang berujung petaka hingga menggemparkan dunia. Peristiwa tragis yang dialami para suporter sekaligus menjadi duka mendalam bagi para keluarga korban, nyawa bagaikan tak berharga hanya karena pertandingan sepak bola, berharap meraih kemenangan namun justru celaka.

Menang dan kalah dalam setiap pertandingan harusnya adalah hal yang biasa. Tetapi anehnya dalam pertandingan sepak bola menang kalah seolah menjadi sesuatu yang menyangkut dengan harga diri. Tidak bisa dipungkiri pertandingan bola merupakan olaraga yang tidak sedikit memakan dana besar, tolak ukur keberhasilan pertandingan sangat berpengaruh terhadap pihak-pihak yang berperan dalam ajang kompetisi tersebut seperti para pemain, pelatih antar klub, dll.

Dalam pertandingan para suporter yang fanatik buta terhadap masing-masing klub seolah rela mati, sebab tidak sedikit dari mereka yang meluapkan emosi, bahagia, ambisi, keuntungan yang semua itu akibat dari fanatisme terhadap golongan sehingga menyebabkan kejadian tragis ini.

Saat para suporter yang masing-masing mendukung tim kebanggaannya kalah seolah mereka tidak terima dengan kekalahannya memunculkan perselisihan, marah, emosi sehingga memicu kerusakan dan kerugian yang besar. Pertandingan sepak bola tidak lebih hanyalah permainan yang mestinya harus sama-sama harus menerima menang kalah dengan lapang dada tanpa menyebabkan kerusuhan. Fanatik terhadap golongan memang memicu permasalahan besar seperti yang saat ini terjdi di lapangan Kanjuruhan, kawan bisa menjadi musuh di lapangan hijau.

Selain para suporter yang fanatik buta terhdap klub. Ada satu hal yang juga menyita perhatian seperti tindakan represif aparat dalam kericuhan massa, bagaimana tidak gas air mata diluncurkan di dalam stadion yang membuat massa panik padahal sebelumnya gas air mata dilarang, namun aparat tetap melakukan hal itu.

Massa yang panik saat aparat menggunakan gas air mata yang bertujuan mengamankan situasi justru menyebabkan ratusan nyawa melayang. Para suporter panik hingga turun kelapangan serta keluar stadion dengan desak-desakan, akibatnya kekurangan oksigen, bahkan saling injak-injakan hingga merenggut nyawa. Jika benar penembakan gas air mata oleh aparat hingga memicu kepanikan penonton sampai meninggalnya ratusan orang maka pihak yang paling bertanggung jawab adalah aparat sebab mereka ditugaskan untuk memberikan rasa aman dan jaminan keamanan dalam pertandingan sepak bola juga harusnya mampu mengendalikan emosi saat kericuhan terjadi di Kanjuruhan.

Namun, perlu di ketahui dalam kompetisi ini negara ikut berperan dalam kejadian tragis ini sebab mesti ada pihak-pihak yang bertanggungjawab dan menjadi tersangka. Disaat banyaknya koban jiwa mampukah negara menyelesaikan masalah? Tetapi apalah daya para suporterlah yang dianggap bersalah terlebih mereka yang fanatik buta terhadap klub.

Dalam Islam olahraga apapun jika tujuannya menjaga kesehatan jasmani diperbolehkan selama itu tidak membahayakan diri, juga orang lain. Namun, apabila olaraga terebut mendatangkan mudharat atau bahaya, jelas Islam melarang keras apalagi sampai merenggut nyawa. Dalam aktivitas manusia termasuk olaraga harus memiliki tujuan yang jelas yaitu semata-mata hanya mencari Ridho Illahi, sehingga kegiatan manusia bernilai ibadah dan jauh dari kesia-siaan.

Kompetisi, hiburan, olaraga harus diatur sesuai aturan yang telah ditetapkan dan semua terlibat dalam pertunjukkan itu dengan pengaturan yang ada sehingga memiliki satu visi misi yang sama. Islam menganjurkan untuk ikut aktif dalam kegiatan yang memberi manfaat bagi orang lain, dunia maupun akhirat. Tetapi Islam melarang keras fanatik terhadap golongan sebagaimana dalam hadis Rasulullah Saw: "Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada ashabiyah, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah." (HR. Abu Daud).

Karena Islam tidak pernah memandang suku, ras, budaya, warna kulit, golongan, maupun kelompok apalagi sampai menjadikan seseorang pada level merendahkan sesama manusia, sebab Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai perbedaan di antara umat. Sehingga mampu menghargai satu sama lain. Maka sudah semestinya kembali pada sistem Islam yang sempurna dengan pengaturan yang lengkap serta membawa kebahagiaan bagi dunia dan akhirat sehingga tidak ada lagi fanatisme yang tentu membawa petaka. Wallahu Alam Bishowab.

*) Penulis adalah Pemerhati Umat

Baca Juga