oleh

Enam Ciri Khas Jika Itu Murni Aksi Mahasiswa Bukan Ditunggangi Kelompok Tertentu

RadarKotaNews – Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti menilai aksi unjuk rasa mahasiswa yang terjadi kemarin, murni keinginan mahasiswa, dan jauh dari pengaruh ditunggangi.

Keyakinan itu ia sampaikan lantaran ada enam ciri jika itu murni aksi mahasiswa bukan ditunggangi kelompok tertentu.

Pertama, satu gerakan mahasiswa terjadi dengan meluas, dan cakupan daerah yang melibatkan hampir seluruh pulau, bahkan propinsi. Kedua, melibatkan jumlah massa mencapai ribuan bahkan puluhan ribu.

Ketiga, dilakukan dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, keempat tanpa kepemimpinan yang menonjol, di mana hampir semua basis massa tidak berada dalam satu garis komando, serta kelima memiliki isu utama yang dituju tapi saat yang sama memiliki beberapa variasi isu yang berbeda, dan keenam dengan militansi yang terjaga dan spartan, umumnya ditandai dengan tidak bergeming, sekalipun ditindak dengan cara yang berlebihan, maka itu menandakan gerakan bersifat murni dan jauh dari pengaruh ditunggangi.

“Enam ciri itu terlihat dalam gerakan mahasiswa yang sekarang. Oleh karena itu, saya berkeyakinan bahwa gerakan mahasiswa September 2019 ini adalah murni untuk menuntut dihentikannya segala upaya yang mengkorupsi agenda reformasi dan demokrasi,” kata Ray Rangkuti kepada redaksi, Rabu (25/9/2019).

Dirinya melihat itulah isu utama dari aksi mahasiswa kemarin. Yang dalam turunannya adalah menghendaki ditundanya berbagai RUU yang dianggap akan memberangus kebebasan warga negara. Makin dalamnya intervensi negara terhadap wilayah privat, kata dia, makin istimewanya hak-hak koruptor dan menuntut profesionalisme polisi paska institusi ini dijadikan sebagai institusi terpisah dari TNI.

Oleh karena itu, sebaiknya semua elit menjawab tuntutan mereka. Lebih dari sekedar memastikan menunda rencana pembahasan RUU tersebut, tapi juga memastikan tidak adanya upaya mengistimewakan hak-hak koruptor melalui serangkaian pelemahan KPK dan meringankan tuntutan kepada mereka.

Saat yang sama elit juga memberi kepastian tidak akan ada tindakan kekerasan yang akan dialami oleh para aktivis, di mana pun ia berada.

Gerakan dan tuntutan mahasiswa yang sekarang juga tak perlu dilabeli dengan bermacam stigma. Tidak akan banyak membantu untuk meredam mereka. Alih-alih membantu, yang ada adalah stigma itu seperti mengulang kisah lama yang justru pernah dialami oleh sebagian elit yang ada saat ini. Saat mereka ikut serta dalam menggulirkan reformasi 98.

“Di saat itu, segala macam stigma ditimpakan pada aksi mahasiswa. Buktinya tak ada yang mampu meredam bergulirnya reformasi,” kata Ray.

Maka dari itu, sejatinya gerakan yang ada saat ini jadi momentum untuk sekaligus mengevaluasi sejauh apa agenda-agenda reformasi terwujud dalam sistem berbangsa dan bernegara saat di mana aktivis atau aktor-aktor reformasi 98 banyak menempati posisi elit kekuasaan.

Mengapa gerakan mahasiswa yang menuntut reformasi jangan dikorupsi bisa muncul dengan luas dan masifnya justru saat di mana aktivis reformasi banyak di dalam posisi berkuasa.

Jelas ada sesuatu yang harus dibenahi. Gerakan ini bukan hanya kritik pada legislatif atau eksekutif, tapi sekaligus pada aktivis 98 yang berada di barisan elit politik saat ini. Dengan berjejernya barisan aktivis 98 di elit politik, maka sejatinya gerakan massa dengan tuntutan seperti saat ini tidak akan terjadi.

Maka, kata dia, jagalah KPK, perberatlah hukuman para koruptor, bahkan memiskinkan mereka. Jagalah HAM, jagalah kebebasan warga, jauhkan negara dari wilayah privat, perbaiki birokrasi, professionalkan polisi agar jadi pengayom dan pelindung masyarakat, muliakan petani dan nelayan, permudah urusan dan fasilitas mereka untuk dapat sejahtera, dan jaga pluralisme bangsa.

“Tugas kita bukan meredam aksi mahasiswa, tapi menjaga agenda reformasi jangan sampai dibajak untuk kepentingan pribadi atau kelompok,” kata Ray Rangkuti. (wr)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed