Doa Semua Agama, Buah Pahit Liberalisasi Agama

Kristi Widyastuti, Pemerhati masalah sosial (Ist)

Oleh: Kristi Widyastuti

Nampaknya arus liberalisasi agama makin digencarkan oleh pemerintah. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meminta setiap acara yang berlangsung di Kementerian Agama turut memberikan kesempatan kepada agama lain dalam mengisi doa dan tidak hanya doa untuk agama Islam saja.

Pernyataan itu disampaikan Yaqut saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Agama pada tanggal 5 April sampai dengan 8 April 2021.

Yaqut menegaskan bahwa Kemenag harus menjadi contoh dalam menjunjung tinggi moderasi agama. Ia tidak ingin Kemenag yang menggembargemborkan moderasi beragama, namun pada prakteknya berseberangan (m.antaranews.com).

Yaqut menjelaskan bahwa tiap acara di Kementerian Agama dimulai dengan doa semua agama, tidak hanya doa dari Islam saja. Hal ini sebagai saran Internal Kemenag.

Pernyataan ini disampaikan Yaqut usai mengisi seminar pemikiran di UIN Sayyid Ali Rahmatulloh Tulungagung, Jawa Timur, dikutip dari Antara, Rabu (7/4).

Menurut Yaqut doa lintas keyakinan perlu dilakukan agar menjadi representasi keterwakilan masing – masing pemeluk agama di lingkup Kemenag sehingga para pegawai di lingkungan Kemenag dijauhkan dari perbuatan munkar dan korupsi (kumparan.com).

Terkait hal tersebut Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid juga memberikan pernyataan tentang doa lintas agama adalah untuk internal acara Kemenag. Ini disampaikan Zainut di gedung DPR pada tanggal 9 April 2021 (viva.co.id).

Doa semua agama ini apakah bisa menaungi semua agama dan menjauhkan masyarakat dari perbuatan munkar?

Liberalisasi Akidah

Liberalisasi akidah makin banyak dijalankan dan menjadi kebijakan negara. Doa bersama semua agama membuktikan bahwa liberalisasi akidah sedang berlangsung di negeri ini. Umat Islam didorong bebas melakukan ibadah yang keluar dari rambu-rambu agama. Padahal mengamalkan ibadah bersama agama lain tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Pengamalan ibadah seperti itu secara terang-terangan membawa publik mempraktikkan sinkretisme agama dan pelanggaran syariat lainnya. Sinkretisme mengakibatkan rusaknya akidah seorang muslim, bahkan dapat membatalkan akidah. Sebab, sinkretisme merupakan ajaran yang memadukan paham (aliran) yang berbeda. Sementara keyakinan dalam Islam menjelaskan bahwa hanya Islamlah agama yang benar dan diridhoi Allah Swt. Agama selain Islam tertolak di sisi Allah SWT.

Rakyat semestinya menyadari bahwa sistem sekuler ini tidak akan sejalan dengan tujuan pemberlakukan syariat. Sistem sekuler dengan nyata tidak menginginkan umat Islam benar-benar menerapkan syariat. Sistem ini justru berusaha mengaburkan umat dari akidah yang benar. Bila seperti ini semakin jauhlah umat Islam dari syariat-Nya.

Islam Menjaga Akidah

Doa dalam Islam adalah ibadah. Allah Swt berfirman: “Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (QS. Al-Ghafir (40): 60).

Rasululah Saw bersabda: “Doa adalah inti ibadah.” (HR. at-Tirmidzi).

Ibadah adalah aktivitas yang murni untuk Allah Swt. Karena itu, tidak dibenarkan seorang muslim menyekutukan Allah dengan yang lain dalam beribadah. Allah Swt berfirman:

“Dan jangan (pula) engkau sembah tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. …” (QS. Al-Qashash (28): 88).

Berdoa bersama yang dilakukan berbagai agama bertentangan dengan akidah dan ajaran Islam. Sebab, doa bersama merupakan wujud pengakuan muslim terhadap kepercayaan agama lain. Padahal, Allah telah menegaskan bahwa agama yang diridhoi di sisi Allah adalah Islam. Allah juga telah menegaskan kekafiran agama-agama yang lain. Allah berfirman:

“Sesungguhnya agama (yang diridoi) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran: 19).

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran:85).

“Sesungguhnya kafirlah orang–orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS Al Maidah: 73).

Sikap yang harus diambil umat Islam adalah menolak mencampuradukkan agama. Islam mengatur interaksi yang boleh dan tidak boleh antara muslim dan non muslim. Dalam masalah akidah, walau pun muslim meyakini kebenaran tunggal, namun mereka tidak boleh memaksa non muslim untuk meninggalkan kepercayaan mereka. Islam membolehkan muslim untuk bertransaksi, jual beli dan muamalah dengan non muslim. Muslim juga harus berbuat baik, adil dan tidak mendzalimi non muslim.

Fakta kehidupan Rasulullah Saw di Madinah contoh nyata bagaimana Islam mengatur hidup berdampingan dengan non muslim. Di Madinah tidak hanya terdapat pemeluk agama Islam, namun juga orang-orang Yahudi. Rasul kemudian membuat perjanjian yang disebut Piagam Madinah. Pasal 16 dari perjanjian tersebut berbunyi: “Orang yang mengikuti kami dipastikan berhak atas dukungan kami dan persamaan hak yang sama seperti salah satu dari kami. Dia tidak boleh didzalimi dan diserang”.

Hidup berdampingan muslim dan non muslim tanpa merusak akidah, hanya bisa terwujud dengan menerapkan hukum-hukum Islam. Wallahu a’lam bishawab.

*)Penulis adalah Pemerhati masalah sosial

Baca Juga