Dibalik Arus Moderasi Beragama & Deradikalisasi

Oleh: Suryani Rahmah, Amd. Far.

Beberapa waktu lalu KH Masdar Farid Mas’udi selaku narasumber dalam kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

Deradikalisasi, Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Islam bagi guru dan tenaga kependidikan di Bekasi, hari Sabtu tanggal 10/11/2022 mengatakan bahwa “Akhlak merupakan bagian dari implementasi syariat. Ibadah yang benar akan membentuk akhlak yang baik, sementara syariat adalah garis start. Setelah syariat dilampaui maka akhlak juga harus diterapkan. Akhlak itu lebih tinggi dari syariat”.

Kegiatan ini diselenggarakan Kementrian Agama melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Ditjen Pendidikan Islam (Pendis). Kegiatan diikuti para guru madrasah. Menurut Kyai Masdar, Pendidikan karakter, deradikalisasi, serta penanaman wawasan kebangsaan penting untuk berorientasi kepada akhlak. Sebab, sejak awal Islam datang ke Indonesia melalui pendekatan akhlak.

Beliau juga mengajak para guru madrasah untuk menghindari bentuk fanatisme yang berlebihan, karena itu akan memunculkan radikalisme. Dari Radikalisme, akan muncul ekstrisme yang berujung pada terorisme. Maka menanggulanginya harus ada penguatan Islam yang ramah (rahmatan lil ‘alamin) dan moderat serta yang Rahman dan Rahim. (Kemenag.go.id)

Bahaya Narasi Moderasi Beragama dan Deradikalisasi

Moderasi beragama hari ini gencar diaruskan ke semua kalangan. Pemahaman agama dianggap perlu diterjemahkan ala moderasi beragama dalam rangka mewujudkan kerukunan/toleransi dan kesatuan bangsa. Masyarakat harus dicegah dari pemahaman radikal dan fanatik berlebihan pada agama yang menjadi sumber permasalahan, perpecahan hingga mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Program besarnya ini disebut sebagai deradikalisasi.

Proyek deradikalisasi atau kontra radikalisme merupakan salah satu arah kebijakan dari penguasa hari ini. Ini tampak pada prioritas penanganannya. Program deradikalisasi dilakukan untuk mengubah paham orang atau kelompok yang radikal menjadi tidak lagi radikal. Lembaga yang ditugasi dalam program ini yaitu BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) yang berupaya mengadakan berbagai agenda seperti pertemuan untuk membahas dan mensosialisasikan program deradikalisasi salah satunya dengan mengaruskan pemahaman beragama yang moderat yang mampu mewujudkan kerukunan/toleransi di tengah berbagai keragaman di tengah masyarakat.

Moderasi Beragama sebagai bentuk keseriusan dalam menangani radikalisme. Penguasa hari ini berupaya melakukan berbagai proyek deradikalisasi. Penguasa fokus pada penanganan radikalisme yang selalu diidentikkan dengan Islam. Kita perlu waspada terhadap hal ini. Karena dari radikalisme ini ada banyak kegiatan yang sangat kontroversi dengan Islam, seperti sertifikasi da’i, perubahan makna dalam materi pendidikan agama Islam dengan memindahkan bahasan khilafah dan jihad dari pembahasan Fiqih menjadi pembahasan Sejarah dan sebagainya. Akibatnya, muncul ketakutan umat Islam terhadap agamanya sendiri (Islamaphobia). Moderasi beragama bahkan mengarahkan Islam hanya pada aspek ibadah ritual saja, sementara pada penerapan aturan dalam kehidupan Islam di abaikan.

Padahal Islam adalah agama Rahmatan lil ‘alamiin, ajarannya membawa kemaslahatan bagi seluruh manusia apapun keyakinannya. Namun hari ini narasi yang digaungkan bahwa radikalisme yang identik dengan jihad dan sistem pemerintahan Islam (Khilafah) adalah bagian dari ajaran Islam yang perlu diubah karena berbahaya mengancam sistem yang ada. Pemahaman tentang Islam ideologis dianggap musuh yang harus dijauhkan dari umat Islam. Pemahaman inilah yang dianggap radikal atau berbahaya sehingga perlu dilakukan deradikalisasi mulai dari jenjang pendidikan usia dini hingga tinggi.

Makna deradikalisasi merujuk pada dua hal yakni pemutusan dan deideologisasi. Pertama, pemutusan bisa berarti meninggalkan pemahaman radikal menuju norma yang baru. Kedua, deideologisasi berarti agama tidak dipandang sebagai bentuk nilai-nilai luhur yang menyemai persamaan perdamaian. Definisi ini menunjukkan bahwa proyek ini dimaksudkan untuk menjauhkan Islam ideologis, sebagai akidah yang memancarkan aturan-aturan kehidupan. Islam akhirnya hanya digambarkan sebagai agama ritual yang mengatur individu semata, namun dipinggirkan dalam pengaturan publik termasuk kehidupan bernegara.

Inilah bahayanya jika terus dibiarkan proyek deradikalisasi (moderasi beragama) ini. Kampanyenya akan terus memonsterisasi ajaran Islam. Bahwa Islam politik ideologis itu berbahaya, menimbulkan rasa curiga diantara umat. Oleh karenanya ajaran Islam didistorsi sehingga membuat umat tidak lagi menjadikan Islam sebagai solusi bagi persoalan kehidupan. Inilah bentuk nyata moderasi Islam yang merupakan upaya musuh musuh Islam untuk menjauhkan umat dari ajaran Islam dan kebangkitannya.

Solusi Islam

Islam merupakan agama yang sempurna, yang bukan hanya mengatur ibadah ruhiyah namun juga mengatur seluruh tatanan kehidupan. Oleh karena itu ada hal yang dapat kita lakukan untuk membendung agenda moderasi beragama ini yakni: Pertama, memahamkan Islam kepada umat bahwa Islam sebagai mabda’ (ideologi) yang harus diterapkan dan Islam bukan hanya sekedar ibadah ritual. Kedua, sebagai seorang muslim kita wajib ikut berjuang menyampaikan pemahaman Islam yang benar sesuai dengan syariat dan tidak terjebak dengan ikut mengkampanyekan agenda ini yang justru semakin menjauhkan umat Islam dari Islam seutuhnya.

Karenanya kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk masuk Islam secara kaffah, sebagaimana firmanNya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah mengikuti Langkah-langkah setan” (QS. Al-Baqarah: 208).

Sebagai umat Islam kita harus berjuang agar bisa hidup dengan akidah Islam dan diatur dengan syariat Allah saja. Wallahu a’lam bis-showwab. [***]

*) Penulis adalah Pemerhati Masyarakat

Baca Juga