Demam Citayem Fashion Week, Jati Diri Eksis atau Krisis?

Oleh: Novianti Noor

Citayem Fashion Week (CFW) tengah digandrungi di negeri ini.

Sekumpulan anak-anak muda yang berlenggak-lenggok di zebra cross layaknya model dan saling beradu outfit. Pro dan kontra di tengah masyarakat tak dapat dihindarkan. Ada yang mendukung namun tak sedikit juga yang mengkritik karena merupakan ajang pertunjukan hidup anak muda yang makin liberal dan ditunggangi kampanye eksistensi diri kaum “tulang lunak” gerakan pelangi yang mengancam negeri.

Tak hanya sekelompok anak muda sekitaran SCBD (Sudirman-Citayem-Bojong Gede dan Depok), termasuk para model profesional, pejabat, politisi, artis pun ikut meramaikan cat walk jalanan CFW ini. Kemudian menular demam CFW ke daerah lain yang juga mengadakan kegiatan serupa, baik berupa event maupun hanya sekedar segelintir orang yang diunggah ke media sosial agar terlihat viral.

Di Balikpapan pun tak mau ketinggalan dengan citayem fashion week yang ada di jalan Sudirman, Jakarta. Dua orang ibu-ibu berlenggak-lenggok bak model di zebra cross salah satu jalan di Balikpapan. Bagaikan tak mau kalah eksis dengan anak-anak muda. (kaltim.tribunnews.com)

CFW jelas menjadi tempat mengeksiskan diri tanpa batasan syariat. Pakaian yang tidak menutup aurat, campur baur laki-laki dan perempuan, pacaran dan pergaulan bebas hingga kaum pelangi yang makin diberi ruang untuk berekspresi. Duplikasi CFW yang muncul di berbagai daerah bak jamur yang tumbuh di musim hujan menjadikan fenomena ini kian meresahkan.

Generasi Terpapar Sekulerisme dan Kapitalisme

Inilah potret pemuda yang jauh dari ideologi Islam. Tatkala ekspresi pemuda disterilkan dari ideologi Islam, ekspresi pemuda hanyalah wujud euforia kebebasan yang dipromosikan sistem sekuler. Inilah gambaran pemuda yang krisis jati diri dan jauh dari Islam. Masyarakat saat ini terpapar sistem sekuler kapitalisme yang menstandarkan kebahagiaan dan kesusksesan terpaku kepada materialme semata.

Mindset pemuda sekarang adalah “yang penting dapat duit”. Mencari uang dengan cara mudah misalnya menjadi conten creator lebih cepat mendapatkan duit daripada harus bersekolah yang belum tentu setelah lulus dapat pekerjaan yang mendapatkan banyak duit. Pemuda sekarang lebih senang bersenang-senang. Mengejar kenikmatan duniawi dan materi semata dengan cara instan.

Generasi semakin terpapar sekulerisme. Generasi semakin menghilangkan peran agama, hidup tapi meyakini adanya agama, bahkan menjauhkan agama dari kehidupan. Hidup mengalir bak air mengalir dan mencapai kebahagiaan duniawi dengan banyak materi dan kesenangan diri tanpa batasan agama.

Aroma kapitalisme mode jalanan mulai terendus. Bukan hanya sekadar ledakan kreativitas anak muda atas mode populer ibu kota yang glamor. Fenomena ini juga diduga sengaja didesain kaum kapitalis yang membidik bisnis mode jalanan agar tidak ada pangsa pasar kelas menengah ke bawah yang luput dari genggaman.

Fenomena ini memunculkan tren positif yang mendongkrak aspek ekonomi, terutama bagi pelaku UMKM hingga pedagang kaki lima di sekitar lokasi. Merk merk pakaian lokal juga menjadi trending berkat fenomena ini. Namun, ini adalah kesalahan memandang akar masalah dan kegagalan generasi dalam serangan budaya permisif. Ini adalah kesalahan paradigma dalam mengeksplorasi nilai positif generasi, sebuah paradigma sekuler yang lahir dari kapitalisme. Generasi yang dicetak akan tumbuh dalam situasi krisis identitas yang tidak memahami kondisi negara bahwa mereka tidak sedang baik-baik saja.

Generasi Muda Aset Umat dan Agama

Perang pemikiran adalah sebuah keniscayaan zaman. Pemikiran asing sangat marak di dunia Islam. Barat memenuhi ruang-ruang idola generasi muda muslim dengan sosok-sosok superhero fiktif karangan mereka. Akibatnya, sosok-sosok pemuda terbaik Islam yang layak diteladani, malah terpinggirkan. Sosoknya kurang dikenal, bahkan asing di telinga pemuda muslim masa kini.

Para pemuda di zaman Nabi Muhammad saw., adalah barisan pemuda generasi terbaik di awal masa Islam. Hati mereka dipenuhi dengan cahaya iman sehingga mereka begitu ringan dan ridha membela Islam. Mereka adalah para pengemban Islam, garda dan perisai bagi dakwah Nabi Muhammad saw. Titik awal tegaknya peradaban gemilang. Generasi Islam yang berkepribadian Islam, faqih fiddin, maju dalam saintek serta berjiwa pemimpin.

Para pemuda Islam hendaknya bersegera dan bersemangat mendatangi majelis-majelis ilmu agama agama atau pengajian, baik di masjid maupun di pusat dakwah Islam, memanfaatkan waktu untuk menghafal Al-Qur’an dan membaca kitab-kitab para ulama.

Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imron ayat 104 yang memerintahkan kaum muslim, termasuk para pemuda Islam untuk melakukan aktivitas dakwah. Dakwah adalah kewajiban, yang wajib bagi seseorang yang telah mempelajari suatu ilmu untuk menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain hingga mendapatkan hidayah, tidak berbuat maksiat, dan istiqomah dalam beramal.

Bahkan, dalam hadist riwayat Bukhari-Muslim disebutkan, Allah SWT kan memberikan naungannya kepada mereka di hari yang tidal ada naungan, melainkan naungan dari-Nya. Pemuda Islam hendaknya senantiasa menyucikan jiwanya dalam melaksanakan setiap amal. Menjadi teladan bagi masyarakat dalam memegang amanah, istiqomah, memiliki kejujuran, menjaga kehormatan dan memiliki akhlak-akhlak mulia lainnya.

Oleh karena itu sikap kita sebagai seorang muslim, harusnya kita memaksimalkan potensi yang kita miliki dengan cara yang sesuai syariat, bukan malah ikut-ikutan. Allah menciptakan setiap orang dengan kelebihannya masing-masing. Kerjakan sesuatu yang sesuai kemampuan kita dan yang paling penting tidak melanggar syariat Islam. Maksimalkan kemampuan kita di jalan kebaikan dan di jalan Allah. Wallahu a’lam.[**]

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Umat

Baca Juga