oleh

Datangi Istana Presiden, Mahasiswa Perantauan Curhat Tidak Ada Biaya Memenuhi Kebutuhan Sehari-Hari

RadarKotaNews, Jakarta – Perwakilan dari mahasiswa Perantauan, mendatangi istana negara guna melaporkan nasib ditengah sejumlah kebijakan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19 di Indonesia.

Perwakilan yang juga Kordinator Persatuan Mahasiswa Perantauan, Senanatha, mengatakan kehadirannya di depan istana negara untuk melaporkan kepada Presiden RI Joko Widodo tentang kesulitan mahasiswa yang di rumahkan karena harus mencari quota internet demi melanjutkan pendidikannya.

“Karena School From Home atau belajar dari rumah uang saku kami yang tadinya untuk makan berkurang karena harus membeli quota internet. Ini juga menyulitkan bagi yang tidak mempunyai laptop, dan hari hari ini kondisi tersulit kami. Sebab itu kami datang dan berharap Presiden RI mempunyai solusi atas ketidakpastian hidup kami khusus nya di Jakarta,” kata Sena dihadapan aparat keamanan.

Belum sampai 5 menit berdiri didepan kantor Jokowi dan Maruf Amin, mahasiswa diusir oleh aparat untuk tidak melanjutkan aksi nya, hingga perdebatan antara mahasiswa dan aparat pun mulai memanas.

“Terjadi perdebatan antara mahasiswa perantau dengan polisi yang berjaga dan bahkan kami sempat diusir. Selesai perdebatan tersebut kami diberikan waktu 5 menit untuk mencurahkan isi hati kami,” ujar Senanatha saat aksi didepan istana negara, Senin (13/4/2020).

Ia menambahkan aksi didepan Istana Negara hanya bermodal kertas karton yang bertuliskan “Tolong Perhatikan Nasib Kami Pak Presiden Mahasiswa Perantau. Membeli masker saja tak bisa, Apalagi Makan.”

“Sudah selama satu bulan banyak sekali mahasiswa yang terjebak di luar daerah seluruh Indonesia akibat dari Covid1-9 tersebut. Jika kami tidak boleh datang kekantor presiden, kemana kami harus mengadukan nasib kami yang saat ini luntang Lantung gak bisa pulang kampung di sebagian kota besar Indonesia khususnya DKI Jakarta dan sekitarnya. Sementara kami mengikuti anjuran PSBB yang tidak boleh beraktivitas lebih dari 5 orang, tapi jangan tutup suara kami untuk melaporkan keadaan, karena terbebas dari Covid-19 kami mati kelaparan,” jelasnya.

Aparat keamanan tetap tidak menggubris suara hati mahasiswa Perantauan yang sedang kebingungan mengadu didepan istana negara, para mahasiswa sampai diancam akan ditangkap jika tidak membubarkan diri dari istana negara.

“Baik kami membubarkan diri sekarang, tetapi kami akan datang setiap hari untuk meminta presiden memperhatikan nasib kami para mahasiswa perantauan hingga tuntutan kami di kabulkan. Kami mengerti dan taat aturan sekali lagi kami datang hanya untuk mencurahkan isi hati atas ketidakjelasan nasib kami sebagai perantauan,” tambahnya

Senanatha menegaskan akan tetap memberikan laporan kepada presiden di depan istana sampai seluruh mahasiswa perantau yang terjebak covid-19 di perhatikan nasibnya dan bahkan kami akan membawa seluruh mahasiswa perantau ke istana jika sama sekali tak ada yang menanggapi.(fy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed