oleh

Cinta, Tahta dan Air Mata

Oleh: Deni Iskandar

Semua orang tua ingin melihat anaknya bahagia, termasuk orang tua Septiana Ambarwati Wijayanto Kusuma Ningrat. Sebagai anak seorang Direksi di suatu instansi pemerintahan, Pak Bambang sangat selektif dalam memilah pasangan untuk anaknya. Sebab Septi adalah anak tunggal. Saat ini, perempuan berparas cantik, tinggi semampai berkulit putih itu, kuliah di salah satu Universitas ternama di Indonesia, tepatnya di Jakarta.

Di Fakultas Ekonomi, Septi cukup populer bahkan bisa disebut sebagai bintangnya fakultas ekonomi. Selain cantik, Ia juga cukup pintar, selain meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,9. Septi juga pernah mendapatkan penghargaan menulis konsep ekonomi dari ‘Word Global Economic Indonesian Bank’. Saat ini dirinya tengah menyusun skripsi berjudul ‘Peran dan Fungsi BUMN Ditengah APBN Defisit: Cased Of Study Global Economies’.

Ditengah kesibukannya menulis skripsi sebagai persyaratan untuk meraih gelar ‘Sarjana Ekonomi (S.E)’, Septi juga sering melakukan diskusi-diskusi soal ekonomi Indonesia dengan seorang aktivis, yang getol melakukan demonstrasi. Namanya Adipati Rangga, namun namanya di kampus, populer dengan sebutan Rangga.

Rangga dan Septi berada di kampus yang sama. Namun, mereka berdua beda fakultas. Sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Rangga sadar betul, bahwa dalam mengkaji sebuah permasalah perlu dilihat dari semua sisi, apalagi dalam mengkaji soal BUMN yang itu merupakan lembaga perusahaan negara. Perlu data, analisa dan kajian yang matang, kalau pun ingin mengkritik kebijakan.

Pada suatu ketika, Septi malas keluar rumah, sementara Rangga butuh diskusi lanjutan untuk pematangan analisa, sebelum demontrasi dilangsungkan. Lalu, masuklah pesan singkat dari Septi lewat aplikasi WhatsApp ke Rangga. Begini pesannya, “Rangga, aku males ke luar rumah. Kamu ke rumah aku aja ya, kita bahas kajian itu di rumah aku aja. Jam 15.00 kamu harus udah ada di rumah ya. Ini alamatnya, Jl. Bunga, Komplek Greend No 107, Pondok Indah Jakarta Selatan..”

Sebagai orang kampung, kehidupan Rangga di Jakarta tak se elite Septi. Seorang Septi yang datang ke kampus memakai mobil mewah dan berpenampilan elit itu, berbanding terbalik dengan gaya dan penampilan Rangga, yang kucel, tidak ganteng tapi manis menurut pendapat banyak orang, berambut gondrong, dan kadang-kadang ke kampus pun menggunakan motor RX King, kadang juga jalan kaki.

Namun demikian, hubungan antara Septi dan Rangga bisa dibilang cukup lama, bahkan keduanya juga sama-sama saling suka. Menurut istilah anak baru gede (ABG) mereka berdua punya hubungan spesial, saling ‘Mencintai’/Pacaran.

Singkat cerita, Rangga pun datang ke rumah Septi, memakai celana Levis, dan jaket Levis. Lalu, sesampainya di depan pintu gerbang, Rangga pun mengabari Novia lewat pesan WhatsApp, “Septi saya udah di depan gerbang,” jawab Septi “Ok”.

Singkat cerita, pertemuan antara Rangga dan Septi berlangsung di depan rumahnya, mereka pun diskusi. Jam dinding menunjukan pukul 17.30. Ayah Septi, Pak Bambang datang dari rumah, di kawal dua ajudan, klakson mobil Mercedes Benz pun berbunyi, tanda bahwa sang ayah datang.

“Itu ayah aku, nanti kamu salaman yah, ayah pasti kaget liat penampilan kamu. Nanti aku jelasin siapa kamu ke Ayah. Biar ayah gak kaget liat kamu. Ayah ku orangnya baik” Kata Septi sambil tersenyum pada HM.

Singkat cerita, Pak Bambang masuk ke rumah, Rangga dan Septi pun bersalaman. Septi pun mengenalkan Rangga kepada ayahnya, “oh ya, ayah ini temen aku di kampus, dia temen diskusi aku.” Kata Septi kepada sang Ayah.

Singkat cerita, diskusi antara Rangga dan Septi selesai, dan Rangga pun pamit pulang, kepada Ayah Septi, Rangga Pamit, “Pak saya pamit pulang,” kata Rangga kepada ayah Septi.

Apa respon pak Bambang ?.

“Oh ya silahkan, saya senang liat anak saya diskusi, karena itu suatu kewajiban dan keharusan untuk mahasiswa. Tapi kalau saya liat kamu, rasanya saya gak asing, kamu kan kemarin sering masuk koran, karena kamu demo-demo di Kantor BUMN. Bakar keranda mayat isinya ban, boleh demo tapi coba lah jangan buat huru hara yah.”kata pak Bambang kepada Rangga.

“Iya, baik pak, soal bakar keranda, itu bagian dari dinamika di lapangan pak, saya pulang dulu pak. Terima pak.” Kata Rangga kepada Pak Bambang. Lalu Ia pun pulang.

Sepulangnya Rangga dari rumah Septi, Pak Bambang menasehati anak tunggalnya itu, “Nak, kamu anak ayah satu-satunya, selama ini yang ayah tau, tidak ada yang berani datang ke rumah ini seorang laki-laki, hanya dia (Rangga) yang berani datang. Ayah ingin melihat kamu jadi orang besar melebihi ayah. Dan ayah punya teman, dia bos tambang dan pengusaha batu bara. Ayah berharap, kamu mengerti dengan maksud ayah. Anak teman ayah itu, tidak kucel, seperti Rangga yang mirip kondektur Kopaja, dia lebih terdidik, saat ini Ia juga kuliah di Chicago University, ayah liat antara kamu dan Rangga ini sepertinya sangat dekat, ayah gak mau kamu dekat sama dia (Rangga).” Kata Bambang kepada Novia.

Apa yang disampaikan sang Ayah kepada Septi, tentu pada akhirnya menjadi pertimbangan untuk dirinya sendiri. Sebab, bagi perempuan berparas cantik yang juga anak tunggal itu. Sosok Pak Bambang adalah adalah sosok ‘Super Hero’. Namun demikian, meski begitu, rasa bimbang, rasa takut kehilangan juga melekat dari lubuk hati terdalam perempuan yang mendapatkan penghargaan dari Word Global Economic Indonesian Bank’ itu.

Hingga pada satu waktu, tibalah saat dimana Ia (Septi) harus menyampaikan pesan ini kepada Rangga di sebuah taman Kampus.

“Rangga, sebelumnya aku mohon maaf, aku sayang banget sama kamu, tapi apalah daya, aku juga gak bisa melawan kehendak orang tua ku, terutama kehendak Ayah. Kamu adalah laki-laki yang susah aku lupakan, tapi ini permintaan ayah,” kata Septi sambil menangis dan memeluk Rangga.

Sebagai seorang laki-laki, Rangga mengerti dan menangkap pesan yang disampaikan Septi. Lalu apa jawaban Rangga kepadanya ?

“Semua orang tua pada prinsipnya ingin melihat anaknya bahagia, termasuk ayah-mu. Saya menyadari betul, saya ini siapa. Kamu juga siapa, dari kalangan mana kita lahir dan berasal. Saya sadar betul, istilah ‘Mencintai tapi tak harus memiliki’ itu memang ada, dan pernah terjadi sejak jaman dulu. Percayalah semua ini akan ada jalan keluarnya, kalau pun saya harus bilang ke Ayahmu, saya siap. Itu kalau kamu gak keberatan. Seumur hidup saya, baru kali ini saya merasakan bagaimana indah nya mencinta dan di cintai.” Kata Rangga, mengusap rambut Septi yang panjang itu.

“Saya gak mungkin membawa kamu lari, karena itu bukan solusi. Saya gak mau liat kamu susah apalagi sengsara. Saya juga gak mungkin membuatmu sengsara dan susah. Sekalipun langit runtuh, rasa sayang ini akan tetap tertanam dan tumbuh subur. Sebab kamu adalah Cinta pertama saya. Kamu harus mengamini apa yang ayahmu sampaikan, sebab itu adalah orang tua mu. Bagi saya, Cinta sejati itu adalah cinta yang bisa memberi tanpa harus menerima, kita berdoa semoga tangan Tuhan bisa menyatukan kita, kamu sekarang mending fokus selesaikan skripsi kamu. Apa yang bisa saya bantu pasti akan saya kerjakan.” Ujar Rangga, memberikan penegasan.

Singkat cerita, Rangga pun pulang ke kampung halamannya dan bilang kepada sang Paman, ia menceritakan kepada pamannya, tentang kondisi yang terjadi. Lalu apa respon dan tindakan yang dilakukan oleh sang Paman ?. Bersambung…….

*)Penulis Adalah Koordinator Presidium Jaringan Pemuda dan Mahasiswa Indonesia (JPMI)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed