oleh

Cegah Ledakan Corona Mudik di Batasi

Oleh : Raylis Sumitra

Upaya mengejar sebaran virus corona (Covid-19) terus dilakukan pemerintah. Mampukah pemerintah menekan jumlah penderita terjangkit dan meluasnya sebaran covid-19 ini? Tentu saja, Doa dan Harapan masyarakat, Bangsa Indonesia terlepas dari pendemik Global ini.

Ekspetasi, masyarakat terhadap pemerintah. Rupanya akan berbuah manis. Pendemik yang jadi hantu di seluruh belahan negara dunia ini. Tanda-tandanya akan teratasi. Sehingga tidak terjadi ledakan jumlah penderita.

Peringatan dini (early warning) yang dikeluarkan Badan Intelejen Negara (BIN). Berupa skema grafik penyebaran. Mampu dibaca pemerintah dalam hal ini Gugus Tugas Covid-19, dengan aktualisasi lapangan dan formulasi kebijakan.

Berikut ini estimasi jumlah kasus positif virus Corona sebagaimana pemodelan BIN :

– Estimasi jumlah kasus di akhir Maret 1.577 (realita 1.528, akurasi prediksi 99 persen)
– Estimasi jumlah kasus di akhir April 27.307
– Estimasi jumlah kasus di akhir Mei 95.451
– Estimasi jumlah kasus di akhir Juni 105.765
– Estimasi jumlah kasus di akhir Juli 106.287

Estimasi BIN ini, menurut Ketua Gugus Tugas Doni Monardo sangat akurat. Bulan pertama merebaknya Covid-19, BIN memprediksi lewat skemanya berjumlah 1.577. Realitanya, catatan Gugus Tugas Covid-19, adalah 1.528 positif terpapar corona.

Pemodelan BIN inilah yang akan jadi rujukan Gugus Tugas Covid-19 dalam menekan laju bertambahnya korban terpapar. Yang diprediksi akan terjadi peningkatan.

Upaya pemerintah dalam menekan korban dan sebaran virus corona terus dilakukan. Diantaranya, menerapkan social distancing yang kemudian lebih spesifik menjadi physical distancing. Bahkan, Presiden Joko Widodo juga telah menetapkan status kedaruratan kesehatan masyarakat dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tidak lepas dari skema yang dikeluarkan BIN. Dalam skema tersebut, terlihat bahwa, penyebaran virus terjadi dari interaksi sosial masyarakat. Perpindahan individu yang terpapar penyakit virus ke tempat lainnya.

Seperti diketahui, berdasarkan WHO, virus Corona menyebar dari invidu yang terpapar virus. Melalui cairan dari bersin atau batuk. Kemudian menempel dibenda atau langsung, dihirup atau mengenai cairan hidung, mulut dan mata orang lain.

Makanya, skema BIN tentang penyebaran dan jumlah korban. Sebuah early warning bagi pemerintah. Dibutuhkan rodmap teknis yang tepat untuk mengatasinya. Sehingga tidak terjadi ledakan.

Dari skema BIN di atas, sebenarnya bisa terbaca. Kenapa ledakan akan terjadi pada bulan Juli. Karena di bulan akhir Juni perayaan Idul Fitri. Tradisi mudik dalam Idul Fitri inilah.

Kuat diprediksi terjadi mutasi dan cepatnya peredaran virus. Sehingga, pemerintah pusat memberikan batasan ketat bagi mereka yang nekat mudik.

Dengan menetapkan mereka yang nekat mudik sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan). Yang salah satu pembatasannya, ODP tidak boleh keluar rumah selama 14 hari.

Tindakan persuasif agar masyarakat tidak mudik menjadi tolak ukur menekan terjadinya ledakan virus corona. Sebaliknya, apabila tidak berhasil. Jumlah terpapar semakin banyak. Dengan sebaran daerah meluas.

Dalam skema BIN, selain pertambahan jumlah penderita setiap bulannya. Juga menjelaskan daerah sebaran. Yaitu, terdapat 50 kabupaten atau kota prioritas dari 100 yang memiliki risiko tinggi penyebaran Covid-19. Diprediksi, 49 persen wilayah itu berlokasi di Pulau Jawa.

Doni Monardo mengingatkan kajian BIN ini tidak terjadi jika langkah pencegahan terus dilakukan. Agar menjadi selaras, Aturan teknis PP tentang PSBB ini ditetapkan oleh Menteri Kesehatan atas saran dan pertimbangan kepala Gugus Tugas. Sehingga, daerah akan memiliki acuan yang jelas.

Terutama fasilitas kesehatan yang dimiliki pemerintah daerah. Dalam menyiapkan tenaga medis dan ruang isolasi bagi masyarakat yang nekat mudik. Daerah harus segera menyiapkan itu.

Selain itu, perlunya kesiagaan aparat pemerintahan, kepolisian dan TNI hingga ketingkat desa. Untuk melakukan pendataan dan kontrol terhadap arus lalu lintas yang nekat mudik. Perlu penerapan kedisiplinan dan ketertiban bagi mereka yang nekad mudik.

Langkah pencegahan inilah ya, yang diyakini Gugus Tugas Covid-19. Ledakan jumlah penderita terpapar Covid-19 dapat diantisipasi.

Penulis adalah penulis buku Jokowi Digdaya Tanpa Aji & buku Politik Ngakak, Arief Poyuono.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed