Cedera Di Tempat Rekreasi, Ke mana Negara?

Rahmi Surainah, M.Pd (Alumni Pascasarjana Unlam)

Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd

Semua fasilitas hiburan diminta Wakil Wali Kota Surabaya Armuji untuk cek kelayakannya pascakejadian ambrolnya seluncuran di Waterpark Kenpark, Kenjeran, Kota Surabaya, Sabtu, 7 Mei 2022 lalu. Insiden ini mengakibatkan 16 orang cedera.

Berdasarkan keterangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya, sambungan seluncuran air di kolam renang Kenpark tiba-tiba ambrol jatuh ke bawah sekitar pukul 13.30 WIB.

Pada saat ambrol, banyak pengunjung yang bermain di wahana tersebut sehingga sebagian pengunjung berjatuhan dari seluncuran yang ambrol dari ketinggian 10 meter. Dugaan sementara penyebab ambrol sambungan seluncuran tersebut dikarenakan lapuk. (medcom.id, 7/5/2022)

Meski demikian, pengelola Kenjeran Water Park tersebut mengungkap perosotan kolam renang ambruk diduga karena overload. Pengelola mengklaim selalu rutin melakukan perawatan. (detikNews.co, 7/5/2022)

Pengelola Lalai, Negara Abai

Cedera di tempat rekreasi, akibat rusak, over load atau kelalaian tentu jadi pertanyaan ke mana negara? Meski pemilik atau pengelola tempat rekreasi dikelola oleh swasta, tetapi dari segi jaminan keamanan dan keselamatan tetap pada negara.

Tidak dapat dipungkiri bahwa standar pengelolaan tempat rekreasi diserahkan sepenuhnya pada standar swasta. Otomatis orientasi keuntungan akan mendominasi dan mengalahkan pertimbangan keamanan. Pengembangan dan hadirnya pengunjung lebih diutamakan karena pemeliharaan fasilitas cenderung mengeluarkan biaya lebih.

Dalam sistem ekonomi kapitalisme, pariwisata dipandang sebagai orientasi bisnis yang menjanjikan. Negara pun menjadikan pariwisata atau tempat rekreasi sebagai sumber devisa.

Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk menunjang sektor pariwisata. Termasuk bekerja sama dengan dunia usaha dan asing. Negara abai dalam hal keamanan dan kenyamanan, dunia usaha pun lalai sehingga membuat keselamatan dan nyawa warga tergadai.

Indonesia sebenarnya kaya, seharusnya tidak perlu berharap pada sektor pariwisata sebagai sumber devisa. Andai pengelolaan SDAE dikelola mandiri tentu kekayaan akan bisa dinikmati tanpa berharap pada sektor pariwisata.

Pariwisata pada dasarnya hanya sektor tersier kini seakan berubah menjadi primer untuk menambah pendapatan. Tidak dapat dipungkiri di balik potensi digalakkannya pariwisata akan mempunyai dampak negatif, khususnya masyarakat setempat. Dampak itu terlihat melalui invasi budaya, gaya hidup, dan pemahaman liberalisasi. Dari segi maksiat pun misalnya pergaulan bebas, ikhtilat (campur baur), aurat terekspos, prostitusi, minuman keras, dan narkoba merupakan pemandangan yang lumrah di tempat wisata, apalagi pengunjung wisatawan asing.

Pengelolaan pariwisata dalam sistem kapitalis sekuler saat ini semakin menjauhkan umat dari Islam. Pariwisata seakan terpisah dari aturan agama. Seakan agama tidak mengatur bagaimana pariwisata yang benar tanpa harus mengikis akidah dan keimanan.

Sistem Kapitalis sekuler saat ini memang menjadikan pariwisata sebagai sumber perekonomian, maka apapun akan dilakukan demi kepentingan ekonomi dan bisnis. Meski untuk itu, harus berdamai dengan praktik kemaksiatan dan kesyirikan. Devisa didapat tidak sebanding dengan dosa yang mengundang murka dan bencana. Naudzubillah.

Pengelolaan Pariwisata dalam Islam

Pariwisata tanpa terikat dan diatur syariat Islam hanya akan membawa mudharat. Tujuan pariwisata bukan hanya untuk meraih materi berupa manfaat, pendapatan dan kesenangan semata.

Dalam Islam pariwisata dikembangkan untuk meningkatkan ketakwaan umat Islam dan sarana dakwah bagi umat lain. Potensi keindahan alam dan peninggalan bersejarah dari peradaban Islam dijadikan sebagai sarana dakwah. Objek wisata yang merupakan peninggalan bersejarah dari peradaban lain maka akan dibiarkan jika masih digunakan sebagai peribadatan umat lain. Tetapi, jika sudah tidak digunakan sebagai tempat peribadatan, maka akan ditutup atau dihancurkan. Misalnya, dunia fantasi yang di dalamnya terdapat berbagai patung makhluk hidup, seperti manusia atau binatang. Sama halnya, budaya lokal yang mengandung kesyirikan maka akan dihilangkan.

Pariwisata meski bisa menjadi salah satu sumber devisa, namun dalam Islam tidak akan dijadikan sebagai sumber perekonomian negara. Tujuan utama dipertahankan pariwisata hanya sebagai sarana dakwah. Negara tidak akan mengeksploitasi pariwisata untuk kepentingan ekonomi dan bisnis.

Ada empat sumber tetap bagi perekonomian dalam negara Islam, yaitu pertanian, perdagangan, industri dan jasa. Keempat sumber inilah yang menjadi tulang punggung bagi negara dalam membiayai perekonomiannya. Negara juga mempunyai sumber lain, baik melalui pintu zakat, jizyah, kharaj, fai’, ghanimah hingga dharibah. Semuanya ini mempunyai kontribusi yang tidak kecil dalam membiayai perekonomian negara.

Dengan demikian hanya Islam sebagai negara yang mampu menyejahterakan rakyat. Islam tidak akan berharap pada pariwisata namun menumbalkan keamanan dan keimanan.

Islam akan membuat potensi SDAE yang melimpah dikelola dengan benar, termasuk mengembangkan sektor lain, sehingga membuat masyarakat sejahtera tanpa berharap pada sektor pariwisata. Dari segi keimanan di tempat wisata saja jadi perhatian negara dalam Islam apalagi keamanan dan keselamatan. Hanya dalam Islam tempat wisata membawa keberkahan. Wallahu'alam...

*) penulis adalah alumni Pascasarjana Unlam

Baca Juga