Bupati Sula bilang Mita aman dan tidak ada masalah, di Umaloya warga mengeluh kupon 20L dapat hanya 15L

Bupati Kab. Kepulauan Sula, Fifian Adeningsi Mus

RadarKotaNews, Malut - Pernyataan ’asbun' (asal bunyi-red) tanpa riset, tanpa observasi, tanpa data, disampaikan Ningsi Bupati Kepulauan Sula-Provinsi Maluku Utara diruang publik beberapa waktu lalu.

Bisa jadi pernyataan yang disampaikan Ningsi menanggapi cuitan salah satu warga diakun Tik-toknya, hanya berdasarkan laporan anak buahnya (Kepala OPD-red), sehingga tidak berbasis data, tidak melakukan crosscek atau monitoring langsung terkait permasalahan minyak tanah (Mita).

Karena faktanya terkait Mita bukan tidak ada masalah, sedikitnya ini masalah yang sampai saat ini belum bisa diselesaikan Dinas Perindagkop dan UKM serta Satgas Pengawasan BBM bersubsidi serta dinas teknis lainnya.

  1. Belum terurai masalah Mita untuk kebutuhan motoris Sula, yang jika diabaikan maka akan mengganggu pasokan Mita ke rumah tangga,
  2. Prilaku pembelian Mita yang tidak wajar oleh kelompok rurehe untuk pergi ke rompong, misalnya di Waiboga, ini juga mengganggu kebutuhan Mita untuk rumah tangga, karena 3 pangkalan yang ada bukan hanya melayani desa Waiboga dan Umaga tetapi juga desa Soamole yang tidak ada pangkalan.
    (mirisnya dalam telusur RadarKota, belasan rompong yang ada 8 unit kabarnya milik Ibu Djena Tidore/Kadis Perindagkop, sehingga selain diduga memiliki pangkalan Ibu Djena juga mempunyai rompong yang kesemuanya bersentuhan dengan BBM bersubsidi).
  3. Layanan jual Mita di Sula masih menggunakan kupon dan juga kartu kendali, jelas ini merupakan masalah, karena tercipta keadaan yang kurang normal, selain itu pembelian menggunakan kupon kerap terjadi permasalahan dilapangan.

Sedikitnya 3 masalah diatas yang sampai ini belum bisa dientaskan oleh pemerintah daerah Kab. Kepulauan Sula.

Bahkan RadarKota kemarin 24/1/2023 mendapat aduan masyarakat (dumas), terkait layanan jual pangkalan Maya yang ada di desa Umaloya-Kec.Sanana.

”Sangat kecewa, kupon kami dijanjikan untuk pembelian 20 liter, akan tetapi kami dilayani hanya 15 liter, kalo bulan puasa bagaimana ini”, ujar salah satu ibu rumah tangga/IRT desa Umaloya.

Untuk persoalan di desa Umaloya kami masih coba menghubungi pemilik pangkalan Maya, namun hal demikian bisa menjadi pertanda jika penggunaan kupon dan kartu kendali ternyata bukan solusi konkret menjawab persoalan minyak tanah/Mita di Kepulauan Sula. (RL)

Penulis:

Baca Juga