oleh

BUMN Yang Joint Venture Dengan Asing Banyak Proyeknya Yang Mangkrak

RadarKotaNews – Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) mencatat sebanyak 37.000 perusahaan kontraktor swasta mengalami kebangkrutan dalam tiga tahun terakhir.

Hal itu sebagaimana disampaikan Wakil Ketua Umum III, Bambang Rahmadi Gapensi sebagaimana data tersebut dilihat dari penurunan jumlah anggota Gapensi dari sekitar 80.000 saat ini tinggal 43.000 anggota.

Terkait itu, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Arief Poyuono mengatakan, efek dari 37.000 kontraktor bangkrut sangat negative bagi perekonomian Nasional.

“Pertama, menambah jumlah pengangguran nasional mencapai jutaan pekerja disektor infrastruktur, jika diasumsikan satu perusahaan Kontraktor mempekerjakan 100 pekerja,” kata Arief di Jakarta, Kamis (15/3/18).

Kedua, lanjut Arief, akan menyebabkan “kejang-kejang” sektor perbankan Nasional akibat kredit macet yang disebabkan kebangkrutan 37.000 Kontraktor.

Sebab, alat-alat berat yang dimiliki perusahaan Kontraktor dibiayai oleh kredit perbankan begitu juga kredit modal kerja yang diberikan perbankan pada saat Kontraktor menang tender pekerjaan.

“Juga akan terkena kredit macet akibat terlambat bayar atau tidak dibayar,” kata Koordinator Gerindra Kalbar itu.

“Artinya, inilah yang disebut “the Doomsday of Economic” yang disebabkan oleh kebangkrutan pelaku usaha sektor infrastruktur.”

Pernyataan Gapensi yang menyebut 37.000 Kontraktor bangkrut sebagai bukti kalau pembangunan infrastruktur Joko Widodo tidak memberikan efek positif bagi pertumbuhan ekonomi Nasional.

Terkait lebih banyak porsi delapan BUMN yang mendapatkan proyek-proyek infrastruktur sudah tepat, tapi sayangnya delapan BUMN tersebut juga kesulitan modal kerja untuk mengerjakan proyek infrastruktur. Sedangkan BUMN yang joint venture dengan asing juga banyak proyeknya yang mangkrak.

“Contoh proyek Kereta API cepat belum ada satu rupiah-pun dana investor Cina. Lalu proyek LRT Bogor, Bekasi, Jakarta, yang dikerjakan Adi Karya sampai hari ini enggak laku ditawarkan ke investor untuk menanamkan dananya karena memang tidak ekonomis waktu pengembalian investasinya,” kata dia.

Bukan cuma itu, Arief juga meyakini kalau proyek 35.000 megawatt bakal sulit terealisasi. Bahkan, dirinya memperkirakan sampai 2019 atau masa Jokowi memimpin berakhir, hanya 1.000 megawatt yang bakal terealisasi.

“Selama ini proyek infrastruktur yang selesai diresmikan Joko Widodo itu proyek dari program SBY (Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono) yang sudah jalan dan selesai di era Joko Widodo. Jadi, lihat saja program infrastruktur Joko Widodo akan banyak yang mangkrak,” kata dia. (id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed