BUMN Merugi, karena Pandemi atau Disorientasi?

Foto; A. Rafika Noor Adita, Pemerhati Sosial (Ist)

Oleh : A. Rafika Noor Adita

BUMN (Badan Usaha Milik Negara) merupakan perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh negara. Tujuan pendirian BUMN persero adalah menyediakan barang dan jasa yang bermutu tinggi dan berdaya sangat kuat.

Persero juga didirikan untuk tujuan mencari keuntungan. Contoh BUMN Persero antara lain PT Pertamina, PT Kimia Farma, PT KAI, PT Bank BNI, PT Jamsostek, PT Garuda Indonesia, PT Timah, dan PT Telekomunimkasi Indonesi.(www.money.kompas.com)

Namun beberapa tahun terakhir, santer terdengar BUMN tengah mengalami kerugian. Beberapa perusahaan tersebut adalah PT Waskita Karya (Persero), PT Telkom Indonesia, PT PLN dan PT Garuda Indonesia.

Adapun laporan keuangan yang dirilis perusahaan konstruksi BUMN di antaranya, PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Waskita mengalami kerugian hingga Rp7,3 triliun. Padahal, pada 2019 perseroan mampu mengantongi laba bersih Rp 938 miliar.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, laba perseroan terkontraksi dari Rp2,28 triliun menjadi kurang dari Rp185,76 miliar. Sementara itu, kinerja keuangan PT PP (Persero) mengalami penurunan dari Rp819,4 miliar menjadi Rp128,7 miliar.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai, kerugian yang dialami badan usaha sektor konstruksi disebabkan karena penugasan pemerintah yang dibarengi dengan asumsi pertumbuhan ekonomi nasional yang tidak sesuai. Penugasan pembangunan proyek infrastruktur sebelum hingga saat terjadi pandemi Covid-19 sejak awal 2020 lalu.

Akibatnya Indonesia masuk dalam jurang resesi akibat pandemi Covid-19. Dimana, Produk Domestik Bruto (PDB) di kuartal III-2020 minus 3,49% year on year (yoy). Kontraksi ini menyusul realisasi yang sama pada kuartal sebelumnya, ekonomi Indonesia tercatat minus 5,32% secara tahunan.(05/05/2021). (economy.okezone.com, 2021/04/05).

Disisi lain PT PLN pun tengah mengalami kerugian, melalui Menteri BUMN Erick Tohir mengungkapkan utang PT PLN (Persero) saat ini mencapai Rp 500 triliun. Erick mengatakan, salah satu cara yang dilakukan untuk membenahi keuangan PLN ialah menekan 50% belanja modal (capital expenditure/capex). Hal ini disampaikan Erick dalam rapat dengan Komisi VI, Kamis (03/06/2021). (finance.detik.com)

Hal yang sama juga tengah dialami oleh PT Garuda Indonesia, sebagaimana diberitakan bahwa Kinerja maskapai PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dalam kondisi tidak baik. Perusahaan menanggung rugi sampai US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,43 triliun (asumsi kurs Rp 14.300) per bulan karena pendapatan yang diterima tak sebanding dengan beban biaya yang dikeluarkan.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo atau biasa disapa Tiko mengatakan, beban biaya yang dikeluarkan tiap bulannya sekitar US$ 150 juta. Sementara, pendapatannya hanya US$ 50 juta. Tiko memaparkan, jebloknya kondisi Garuda karena beban masa lalu terutama berasal dari penyewa pesawat (lessor) yang melebihi biaya (cost) wajar.

Sebenarnya, Garuda sempat untung di masa sebelum pandemi COVID-19. Tapi, keuntungan itu tidak sebanding dengan rugi yang diakibatkan oleh penerbangan luar negeri.(04/06/2021). (finance.detik.com).

Saat pandemi, masalah pun muncul karena perubahan pengakuan kewajiban di mana operational lease yang tadinya dicatat sebagai operating expenditure (opex) kemudian dicatat sebagai utang.

Terang saja hal ini sangat berdampak buruk bagi negara dan masyarakat, bagaimana tidak, Perusahaan milik negara yang seharusnya menjadi wasilah untuk memudahkan rakyat dalam memenuhi kebutuhannya, namun saat ini menjadi sulit karena kerugian dan utang yang harus ditanggung oleh negara dan badan usahanya.

Hal ini disebabkan karena sistem kapitalis yang masih diterapkan oleh negara hingga saat ini. Negara hanya sebagai regulator sedangkan para pengusaha dan penguasa lah yang sejatinya memegang peranan dalam menjalankan pemerintahan dan menguasai kekayaan milik negara ataupun milik umum.

Ditambah lagi dengan beban hutang yang notabene berasal dari para investor atau swasta, sehingga dengan sangat mudah untuk diatur dan dikendalikan sesuai kepentingan. Sejatinya dalam sistem kapitalis, pemilik modal lah yang menjadi penguasa sebenarnya. Kebijakan yang dikeluarkan pun tak luput dari kepentingan dan keuntungan, sehingga negara kehilangan perannya sebagai pelayan rakyat.

Berbeda dengan sistem islam, dimana kedudukan penguasa dalam negara islam adalah pelayan bagi rakyat. Dalam hal ini, penguasa berkewajiban untuk memenuhi segala kebutuhan rakyatnya tanpa terkecuali.

Kebutuhan rakyat dijamin pemenuhannya dari pengelolaan harta yang dimiliki oleh negara. Oleh karena nya dalam islam harta kepemilikan terbagi menjadi 3, yakni kepemilikan Individu rakyat, kepemilikan umum dan kepemilikan negara.

Kepemilikan Umum adalah idzin syariat kepada masyarakat secara bersama-sama memanfaatkan suatu kekayaan yang berupa barang-barang yang mutlak diperlukan manusia dalam kehidupan sehari-hari seperti air, sumber energi (listrik, gas, batu bara, nuklir dsb), hasil hutan, barang tidak mungkin dimiliki individu seperti sungai, pelabuhan, danau, lautan, jalan raya, jembatan, bandara, masjid dsb, dan barang yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti emas, perak, minyak dsb.

Kepemilikan Negara adalah idzin syariat atas setiap harta yang hak pemanfaatannya berada di tangan sebagai kepala negara. Termasuk dalam kategori ini adalah harta ghanimah (pampasan perang), fa’i, kharaj, jizyah, 1/5 harta rikaz (harta temuan), ‘ushr, harta orang murtad, harta yang tidak memiliki ahlli waris dan tanah hak milik negara.(kicaunews.com)

Dalam kategori kepemilikan umum seperti tambang, sumber energi, hasil hutan, jembatan, bandara dan lainnya, merupakan kewajiban negara atas rakyat untuk mengelolanya dan digunakan semaksimal mungkin bagi rakyatnya.

Bukan sebaliknya, menyerahkan kekayaan milik umum kepada investor atau swasta untuk dikelola dan dikuasai oleh segelintir orang yang mana bertujuan untuk mengejar keuntungan semata tanpa memperdulikan rakyat jelata. Wallahu a’alam bi shawab.

*) Penulis adalah Pemerhati Sosial

Baca Juga