Bullying Marak, Potret Buram Sistem Pendidikan

Ilustrasi

Oleh: Widiawati, S.Pd

Generasi hari ini terus menjadi sorotan, potensi dan pola sikapnya kerap kali tidak terkendali.

Perbuatan yang tidak terpuji di jadikan sebagai bahan candaan, seperti aksi Bullying (perundungan). Maraknya kasus Bullying tentu tidak bisa di abaikan begitu saja. Pasalnya Bullying terkadang memakan korban hingga berujung pada kematian. Korban nya pun dari berbagai kalangan, tua, muda bahkan ada juga dari kalangan pelajar. Tentu hal ini sangat di sayangkan.

Baru-baru ini, publik di hebohkan dengan beredarnya video pelajar, melakukan aksi bullying terhadap seorang nenek diduga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Pada video yang viral, tampak empat sepeda motor di tumpangi para pelajar berhenti di pinggir jalan, salah satu temannya bertugas merekam dengan video berada pada motor lain. Kemudian mereka berhenti dan menendang sang nenek hingga terjungkal, setalah aksinya tersebut pada pelajar ini pergi sambil tertawa. (Cnnindonesia.com, 20/11/2022)

Bukan itu saja, kasus bullying antar pelajar pun kerap terjadi. Di kutip dari kumparan.com,(20/11/2022), yakni kasus bullying yang menimpa siswa SMP Baiturrahman di Kota Bandung. Di dalam video yang beredar, tampak seorang siswa memakaikan helm kepada korban, kemudian siswa tersebut menendang kepala korban.

Kasus Seperti ini kerap kali terjadi, bahkan terus mengalami peningkatan. Tercatat pada 2020 ada 199 kasus perundungan pada anak. Sementara pada 2022 KPAI mencatat ada 226 kasus kekerasan fisik, psikis termasuk perundungan. Hukumannya pun, terkadang tidak mampu memberi efek jera kepada para pelaku. Bahkan terkadang mereka tidak di hukum, dengan alasan mereka masih di bawah umur padahal pelaku sudah balig, maka cukup dengan meminta maaf.

Inilah potret buram kondisi pelajar saat ini, mereka yang merupakan tumpuan di masa mendatang justru memiliki akhlak yang buruk, alih-alih menghormati yang lebih tua, antar sesama pelajar saja mereka saling menyakiti. Jika ini dibiarkan terus terjadi, maka bisa di bayangkan calon pemimpin di akan datang memiliki akhlak yang bobrok, minim empati tidak peduli dengan nasib orang lain.

Rusaknya akhlak para pelajar, tentu patut di cermati, sekaligus menjadi renungan bersama. Sekolah yang seharusnya menjadi harapan para orang tua untuk membantu mereka dalam membentuk karakter, agar lahir generasi yang memiliki akidah Islam yang kuat serta akhlak mulia, bukan justru sebaliknya.

Semua ini tidak lepas dari sistem pendidikan kapitalisme sekularisme. Dimana generasi di tuntut hanya fokus pada pencapaian nilai akademik, sementara akidah dan akhlak justru di abaikan. Maka wajar, kian waktu akhlak pelajar terkikis sedikit demi sedikit. Rasa empati serta hormat kepada orang yang lebih tua dan sesama pelajar pun terkikis. Mereka kerap kali tidak bisa menimbang bahaya serta kerugian dari tindakan kekerasan yang dilakukan.

Karenanya, dibutuh kan kerja sama antara orang tua, masyarakat dan negara dalam mengatasi hal ini. Orang tua memahami peran nya sebagai pendidik utama bagi anak bukan justru menyerahkan penuh kepada pihak sekolah, sebab sekolah bukanlah tempat Loudry. Orang tua harus mampu memberikan pemahaman, pengawasan serta membiasakan anak agar mau terbuka kepada orang tua nya dalam hal apapun, bukan membiarkan anak sibuk dengan gedget yang terkadang memberikan tontonan yang justru memicu anak-anak melakukan tindak kekerasan terhadap orang lain.

Sementara masyarakat juga wajib menjalankan perannya yaitu sebagai kontrol, melakukan amar makruf nahi mungkar. Dan sekolah yang ada harusnya berasaskan Islam. Kurikulum yang di terapkan mampu membentuk Aqidah dan akhlak para generasi yang kokoh takut kepada Allah Swt. Memiliki rasa tanggung jawab sosial yang tinggi. Tidak mudah emosi, serta saling melindungi bukan saling menjatuhkan.

Negara memastikan peran orang tua, masyarakat, sekolah berjalan sebagaimana mestinya. Dan negara wajib menyediakan segala fasilitas seperti sekolah berkualitas yang berasaskan Islam secara gratis. Sehingga orang tua bisa menjalankan peran maksimal bukan Justru abai terhadap pengasuhan anak karena sibuk mencari nafkah di luar. Negara juga bertugas mengendalikan fungsi media informasi mulai dari tv, gedget dan alat informasi lainnya sebagaimana mestinya. Menyaring setiap informasi, tayangan-tayangan yang bisa melemahkan akidah serta merusak akhlak anak.

Negara juga wajib menerapkan sanksi tegas ketika di temui ada pelaku bullying. Para pelaku di berikan sanksi tegas, agar tidak ada yang berani melakukan tindakan serupa.

Semua ini akan berjalan sebagaimana mestinya mana kala negara menerapkan sistem Islam secara kaffah, bukan sistem kapitalis sekuler, yang kerap kali menganggap pelajar, anak di bawah umur sehingga tidak boleh mendapat hukuman. Di dalam Islam anak yang telah balig, bukan lagi anak di bawah umur sebab mereka sudah terbebani taklif (bertanggung jawab atas segala perbuatannya).

Wallahu alam bish shawwab

*) Penulis adalah Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Muslimah

Baca Juga